Sungai Citarum tidak hanya mengalirkan air. Di sepanjang alirannya, tersimpan cerita mengenai kehidupan, pekerjaan, ingatan, perubahan lingkungan, serta hubungan masyarakat dengan sungai dari waktu ke waktu. Berangkat dari pemahaman tersebut, tim peneliti Universitas Negeri Jakarta melaksanakan penelitian mengenai metafora konseptual dalam narasi Sungai Citarum.
Penelitian ini diketuai oleh Nadhifa Indana Zulfa Rahman, S.S., M.A., dengan melibatkan anggota dosen Universitas Negeri Jakarta, yaitu Dr. Edi Puryanto, M.Pd., Dr. Nurita Bayu Kusmayati, M.Pd., dan Dinar Munggaran Akhmad, M.Kom. Penelitian ini juga melibatkan tiga mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, yakni Reynaldo Yusellino, Sifa Awalunisa Almugni, dan Shabrina Hanifah. Kegiatan dilaksanakan melalui pendanaan Program Penelitian Dosen Pemula BIMA Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.
Perjalanan penelitian dimulai dengan studi pustaka serta penelusuran berbagai narasi yang membicarakan Sungai Citarum. Tim menghimpun artikel media, cerita rakyat, dan sumber-sumber lain yang memperlihatkan bagaimana sungai tersebut hadir dalam ruang publik dan ingatan budaya masyarakat. Pengumpulan data tertulis ini menjadi langkah awal untuk memahami beragam cara Citarum diceritakan dalam konteks yang berbeda.
Penelitian kemudian dilanjutkan melalui kegiatan lapangan. Tim mendatangi kawasan di sekitar aliran Citarum untuk bertemu dan mendengarkan pengalaman masyarakat yang berinteraksi dengan sungai dalam kehidupan sehari-hari.
Perjalanan ini mempertemukan peneliti dengan warga yang memiliki latar belakang dan hubungan berbeda dengan Citarum. Bagi sebagian masyarakat, sungai berkaitan erat dengan pekerjaan dan sumber penghidupan. Bagi sebagian lainnya, Citarum hadir sebagai bagian dari ingatan keluarga, ruang sosial, warisan budaya, atau lingkungan yang terus mengalami perubahan.

dok. pribadi

dok. pribadi
Kegiatan lapangan tidak sekadar diarahkan untuk memperoleh sebanyak mungkin tuturan. Tim berusaha memberikan ruang kepada masyarakat untuk menceritakan pengalaman mereka berdasarkan sudut pandang masing-masing.
Setiap cerita membantu peneliti melihat bahwa hubungan manusia dengan sungai tidak selalu dapat dijelaskan melalui data mengenai kondisi air, pencemaran, atau pembangunan infrastruktur saja. Di dalamnya terdapat pula pengalaman personal, pengetahuan lokal, harapan, kekhawatiran, dan cara masyarakat menilai perubahan yang berlangsung di sekitar mereka.

dok. pribadi
Beragam tuturan tersebut memperlihatkan bahwa manusia tidak selalu membicarakan sungai sebagai bentang alam semata. Sungai dapat dipahami melalui gambaran tentang kehidupan, tubuh, perjalanan, kekuatan, ruang bersama, penjagaan, dan hubungan moral. Cara masyarakat berbicara tentang sungai menjadi penting karena bahasa turut memengaruhi hal-hal yang diperhatikan, dihargai, dikhawatirkan, dan diharapkan dari lingkungan.
Setelah data terkumpul, tim memasuki tahapan transkripsi, identifikasi, anotasi, dan pemeriksaan metafora. Tahapan ini memerlukan waktu dan ketelitian. Rekaman perlu didengarkan kembali, tuturan harus ditempatkan dalam konteksnya, sedangkan data tertulis perlu diperiksa berdasarkan sumber aslinya.
Tidak setiap kata yang terdengar imajinatif atau mengandung penilaian positif maupun negatif dapat langsung disebut metafora. Setiap ungkapan perlu dikaji dengan mempertimbangkan makna dasar, makna dalam konteks, serta hubungan konseptual yang dibentuknya.
Untuk menjaga konsistensi analisis, tim juga menyusun dan memperbarui pedoman operasional anotasi. Pembahasan dilakukan melalui rapat dan forum diskusi kelompok terpumpun agar setiap keputusan analisis dapat diperiksa bersama.
Teknologi dan kecerdasan artifisial dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan teknis, seperti pengelolaan data dan penelusuran informasi. Namun, keputusan mengenai penafsiran bahasa tetap dilakukan secara kritis oleh peneliti dengan memperhatikan konteks linguistik, budaya, dan ekologis.
Penelitian ini tidak berhenti pada penyusunan laporan dan artikel ilmiah. Data yang telah melalui pemeriksaan secara bertahap dikembangkan menjadi Arsip Digital Korpora Multimodal Metafora Sungai Citarum berbantu kecerdasan artifisial. Arsip tersebut dirancang untuk menghimpun data teks, audio, gambar, dan video dalam satu ruang digital yang terstruktur.
Pengembangannya dilakukan secara bertahap agar data dapat disajikan secara tertib, mudah ditelusuri, dan tetap memperhatikan etika penggunaan informasi serta perlindungan terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Kehadiran arsip digital diharapkan dapat menjaga cerita masyarakat agar tidak hilang setelah penelitian berakhir. Dokumentasi yang tersusun dengan baik juga dapat membuka peluang pemanfaatan data untuk penelitian lanjutan, pendidikan bahasa, literasi ekologis, dan pengembangan pengetahuan mengenai hubungan antara masyarakat dan lingkungan.
Dengan demikian, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti pengalaman manusia, melainkan sebagai sarana untuk merawat, menata, dan memperluas akses terhadap pengetahuan yang telah dibagikan masyarakat.
Melalui penelitian ini, tim berharap publik dapat melihat Citarum tidak hanya melalui persoalan pencemaran atau program pemulihannya. Sungai tersebut juga perlu dipahami melalui hubungan panjang antara bahasa, budaya, lingkungan, dan kehidupan manusia. Cerita mengenai Citarum penting untuk didengarkan karena di dalamnya tersimpan cara masyarakat mengenali perubahan, mempertahankan ingatan, serta membayangkan masa depan sungai.
Pada akhirnya, pemulihan sungai tidak hanya membutuhkan teknologi, pembangunan fisik, dan kebijakan. Pemulihan juga memerlukan bahasa yang menumbuhkan rasa memiliki, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kehidupan. Dengan mendokumentasikan cerita-cerita Citarum, penelitian ini diharapkan menjadi langkah kecil untuk menjaga ingatan kolektif sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya narasi lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


