bengkulu dan kisah bung karno dari pengasingan hingga pertemuan dengan fatmawati - News | Good News From Indonesia 2026

Bengkulu dan Kisah Bung Karno: Dari Pengasingan hingga Pertemuan dengan Fatmawati

Bengkulu dan Kisah Bung Karno: Dari Pengasingan hingga Pertemuan dengan Fatmawati
images info

Rumah Fatmawati di Bengkulu | Foto: 1966 by The Algemeen Nederlandsch Fotobureau (ANeFo), also known as the General Dutch Photo Bureau (PICYRL)


Bengkulu mungkin lebih sering dikenal lewat bunga Rafflesia dan garis pantainya. Namun, di balik kota yang berada di pesisir barat Sumatra, ini tersimpan cerita tentang salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Indonesia.

Sekitar empat tahun, Soekarno menjalani masa pengasingan di Bengkulu. Masa yang semula dimaksudkan pemerintah kolonial Belanda untuk menjauhkan dirinya dari pergerakan politik justru mempertemukannya dengan masyarakat setempat, melahirkan berbagai aktivitas, dan memperkenalkannya kepada seorang gadis bernama Fatmawati. Jejak kisah tersebut hingga kini masih dapat ditemui di sejumlah sudut Kota Bengkulu.

Empat Tahun dalam Pengasingan

Setelah sebelumnya diasingkan di Ende, Soekarno dipindahkan ke Bengkulu pada 1938. Beliau kemudian tinggal di sebuah rumah milik pengusaha keturunan Tionghoa yang berada di kawasan Anggut Atas, Kota Bengkulu.

Rumah yang kini dikenal sebagai Rumah Pengasingan Bung Karno tersebut menjadi tempat Soekarno menjalani kehidupannya hingga 1942. Di dalamnya, berbagai benda yang berkaitan dengan masa pengasingan masih dapat ditemukan, mulai dari meja kerja, sepeda, koleksi buku, hingga perlengkapan kesenian.

baca juga

Pengasingan ternyata tidak membuat Soekarno berhenti beraktivitas. Di Bengkulu, beliau tetap berkegiatan dalam bidang pendidikan, organisasi, politik, hingga kesenian.

Salah satu jejaknya dapat ditemukan melalui kegiatan seni. Soekarno mendirikan kelompok sandiwara yang dikenal sebagai Tonil Monte Carlo. Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk tetap berinteraksi dengan masyarakat sekaligus menyalurkan gagasannya selama berada jauh dari pusat pergerakan nasional.

Beliau juga memiliki hubungan dengan lingkungan Muhammadiyah di Bengkulu dan terlibat dalam aktivitas pendidikan. Dengan demikian, masa pengasingan Soekarno di Bengkulu tidak sepenuhnya menjadi masa pasif. Justru, kota tersebut menjadi ruang bagi dirinya untuk terus berinteraksi dengan masyarakat.

Pertemuan dengan Fatmawati

Di Bengkulu pula perjalanan hidup Soekarno bertemu dengan kisah lain yang kelak memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Indonesia: pertemuannya dengan Fatmawati. Pertemuan tersebut berlangsung pada 1938 ketika Fatmawati, putri Hasan Din yang merupakan tokoh Muhammadiyah Bengkulu, datang menemui Soekarno. Saat itu, Fatmawati masih berusia sekitar 15 tahun.

Hubungan keduanya pada awalnya tidak langsung menjadi kisah percintaan. Fatmawati kemudian dekat dengan keluarga Soekarno dan bersekolah bersama Ratna Djuami, anak angkat Soekarno dan Inggit Garnasih. Dari lingkungan inilah kedekatan keduanya berkembang.

Soekarno melihat Fatmawati sebagai sosok muda yang cerdas dan memiliki kepribadian menarik. Sementara bagi Fatmawati, Soekarno merupakan tokoh pergerakan yang pemikirannya memberi pengalaman baru dalam kehidupannya. Kisah keduanya kemudian berlanjut setelah masa pengasingan di Bengkulu berakhir.

Setelah Soekarno dan Inggit Garnasih berpisah, Soekarno dan Fatmawati menikah pada 1943. Pernikahan tersebut berlangsung setelah Soekarno kembali ke Jakarta, sementara Fatmawati masih berada di Bengkulu.

baca juga

Jejak yang Tidak Berhenti di Bengkulu

Kisah Bengkulu dan Fatmawati tidak berhenti pada pertemuan dengan Soekarno. Perjalanan hidup Fatmawati setelah meninggalkan Bengkulu kemudian menjadi bagian penting dari sejarah kemerdekaan Indonesia.

Pada 1944, Fatmawati menjahit Bendera Pusaka Merah Putih yang kemudian dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Namun, proses tersebut berlangsung setelah ia telah berada di Jakarta, sehingga kisah Bendera Pusaka sebaiknya dipahami sebagai kelanjutan perjalanan hidup Fatmawati setelah masa Bengkulu.

Sementara itu, jejak pertemuan keduanya masih dapat ditelusuri di Bengkulu. Rumah pengasingan Soekarno dan rumah yang berkaitan dengan Fatmawati menjadi bagian dari wisata sejarah kota tersebut. Keduanya menghadirkan fragmen berbeda dari perjalanan dua tokoh yang kemudian memiliki tempat penting dalam sejarah Indonesia.

Menariknya, perjalanan sejarah tersebut juga dapat ditemukan melalui Masjid Jamik Bengkulu, yang dikenal memiliki kaitan dengan Soekarno.

Bangunan tersebut menjadi salah satu peninggalan yang memperlihatkan bagaimana masa pengasingan tidak sepenuhnya memisahkan Soekarno dari kehidupan masyarakat Bengkulu.

Pada akhirnya, Bengkulu bukan hanya tempat Soekarno menjalani pengasingan. Kota ini menjadi salah satu ruang yang menyimpan potongan penting kehidupannya sebelum Indonesia merdeka, mulai dari aktivitas pendidikan dan kesenian hingga pertemuannya dengan Fatmawati.

Dari sebuah rumah pengasingan di Bengkulu, tersimpan cerita tentang seorang tokoh yang terus memelihara gagasannya di tengah keterbatasan.

Dari kota yang sama, bermula pula pertemuan dengan seorang perempuan yang kelak berdiri di sisinya dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Karena itu, ketika menelusuri sejarah Bengkulu, yang ditemukan bukan sekadar bangunan lama. Ada cerita tentang manusia, perjuangan, perjumpaan, dan perjalanan panjang menuju Indonesia yang merdeka

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.