Halo, Kawan GNFI!
Sampah rumah tangga sering kali dianggap sebagai barang yang sudah tidak memiliki kegunaan. Padahal, dengan sedikit kreativitas dan pengolahan yang tepat, sampah dapat diubah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Hal itulah yang coba dikenalkan mahasiswa KKN MIT Ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 69 kepada ibu-ibu PKK Desa Wonokerto, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak. Melalui workshop pengolahan sampah, para peserta diajak mengenal cara sederhana memanfaatkan sampah organik maupun nonorganik agar tidak langsung berakhir di tempat pembuangan.
Workshop tersebut dikemas secara interaktif. Tidak hanya mendapatkan penjelasan, ibu-ibu PKK juga diajak melihat langsung proses pengolahan sampah menjadi barang yang dapat digunakan kembali. Salah satu praktik yang menarik perhatian peserta adalah pemanfaatan tutup botol bekas menjadi keychain atau gantungan kunci.
Mengenalkan Sampah dari Rumah
Kegiatan workshop diawali dengan pengenalan mengenai jenis-jenis sampah yang biasa dihasilkan dari aktivitas sehari-hari. Mahasiswa KKN menjelaskan perbedaan sampah organik dan nonorganik serta bagaimana keduanya dapat dikelola sesuai karakteristiknya.
Sampah organik seperti sisa makanan, daun kering, dan limbah alami lainnya dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan. Sementara itu, sampah nonorganik seperti plastik dan tutup botol membutuhkan penanganan berbeda karena lebih sulit terurai secara alami.
Materi tersebut disampaikan dengan mengambil contoh sampah yang mudah ditemukan di lingkungan rumah. Dengan begitu, peserta tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga dapat membayangkan penerapannya setelah kembali ke rumah masing-masing.
Bagi ibu-ibu PKK yang sehari-hari tidak lepas dari aktivitas rumah tangga, pengelolaan sampah menjadi hal yang cukup dekat dengan kehidupan mereka. Sampah dapur, botol minuman, hingga tutup botol menjadi benda yang sebenarnya dapat dipilah sebelum dibuang.
Tutup Botol Disulap jadi Keychain
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah praktik membuat keychain dari tutup botol bekas.
Mahasiswa KKN Posko 69 menunjukkan tahapan pembuatannya secara langsung. Tutup botol yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat dikreasikan menjadi gantungan kunci dengan tambahan bahan dan hiasan yang sederhana.
Setelah melihat praktik nya, peserta kemudian diberi kesempatan untuk mencoba membuat keychain secara langsung. Ibu-ibu PKK terlihat antusias mengikuti setiap tahap yang diberikan.
Beberapa peserta tampak memperhatikan dengan saksama sebelum mulai mengerjakan. Ada pula yang saling berdiskusi dan membantu ketika menemukan bagian yang sedikit sulit.
Suasana workshop pun menjadi lebih hidup. Tidak hanya mendengarkan pemaparan, peserta dapat merasakan sendiri bagaimana sebuah benda bekas bisa diubah menjadi produk yang memiliki fungsi.
Kegiatan praktik tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengolahan sampah tidak selalu membutuhkan peralatan yang rumit. Dengan kreativitas dan kemauan untuk mencoba, barang yang sebelumnya akan dibuang masih dapat memiliki kegunaan baru.
Sampah Organik jadi Pupuk Biopori
Selain mengolah sampah nonorganik, mahasiswa KKN juga memperkenalkan pemanfaatan sampah organik melalui pembuatan pupuk biopori.
Konsep biopori dikenalkan sebagai salah satu cara sederhana untuk mengelola sampah organik sekaligus membantu menjaga kondisi lingkungan. Sampah organik yang biasanya dibuang begitu saja dapat dimanfaatkan sebagai bahan yang mendukung proses penguraian alami di dalam tanah.
Materi ini menjadi pelengkap dalam workshop karena peserta tidak hanya diajak memikirkan bagaimana sampah plastik dapat digunakan kembali, tetapi juga bagaimana sampah organik dari rumah dapat dikelola agar tidak menumpuk.
Dengan dua pendekatan tersebut, ibu-ibu PKK mendapatkan gambaran bahwa sampah memiliki karakteristik yang berbeda sehingga cara pengolahannya pun tidak bisa disamakan.
Antusiasme Ibu-Ibu PKK
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Ibu-ibu PKK tidak ragu untuk bertanya ketika ada tahapan yang belum dipahami. Saat memasuki sesi praktik, perhatian peserta semakin tertuju pada bahan-bahan yang telah disiapkan.
Kesempatan untuk mencoba membuat keychain secara langsung menjadi salah satu bagian yang paling menarik bagi peserta. Mereka dapat mengikuti proses dari awal sekaligus melihat hasil dari kreativitas sendiri.
Bagi mahasiswa KKN MIT 22 Posko 69, workshop tersebut menjadi salah satu cara untuk mendorong kebiasaan memilah dan mengolah sampah mulai dari lingkungan keluarga.
Sementara bagi ibu-ibu PKK Wonokerto, aktivitas ini dapat menjadi tambahan pengetahuan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak menutup kemungkinan, kreativitas mengolah sampah juga dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Pada akhirnya, sampah bukan selalu tentang sesuatu yang harus segera dibuang. Ada benda-benda yang masih dapat dimanfaatkan apabila dipilah dan diolah dengan cara yang tepat.
Melalui workshop tersebut, mahasiswa KKN MIT Ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 69 bersama ibu-ibu PKK Wonokerto menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari rumah, dari sampah yang paling sederhana, dan dari kemauan untuk mencoba mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih berguna.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


