Tangan-tangan kecil itu terangkat ke udara. Satu tangan menggapai ke atas. Tangan lainnya ikut bergerak. Mereka seperti sedang memetik sesuatu dari dahan yang tak kasatmata. Sesekali tubuh mereka bergoyang, menirukan gerakan teman di sebelahnya. Tidak ada buah. Tidak ada pohon. Hanya imajinasi.
Tawa kecil pecah di antara barisan anak-anak yang berdiri di amphitheater Taman Budaya Yogyakarta. Beberapa masih malu-malu. Sebagian lainnya justru terlalu bersemangat sampai gerakannya melebar ke mana-mana.
Setiap minggu, Taman Budaya Yogyakarta memang dipenuhi anak-anak yang mengikuti kelas Art For Children (AFC). Program ini membuka ruang ekspresi bagi anak lewat berbagai kelas kreatif. Terdapat sebelas kelas seni, mulai dari seni rupa, tari, musik, hingga teater dan pantomim.
AFC ditujukan untuk anak-anak usia 5 hingga 16 tahun. Program ini tidak lantas mendorong anak untuk menjadi seniman, melainkan mengajak mereka untuk akrab dan berinteraksi dengan seni dan budaya melalui proses bermain dan berlatih bersama.
“Program ini mendorong anak untuk menemukan jiwa seni yang sudah ada dalam dirinya, kami tidak memaksakan tapi mencoba membimbing dan mengarahkan. Lewat bimbingan seni, anak juga belajar kehalusan budi, tutur kata, dan etika,” tutur Wahyudi Purnama, instruktur kelas karawitan.
Di tengah beragam kelas seni yang ditawarkan, kelas pantomim menjadi ruang yang menyenangkan untuk anak-anak. Kelas itu dilaksanakan di amphitheater berkapasitas 100 orang. Anak-anak fokus diajak bercerita tanpa suara, hanya melalui ekspresi dan gerak tubuh. Meskipun begitu, antusias mereka terlihat jelas.
Instruktur kelas pantomim, Aldo Adriansyah, membawakan kelas dengan penuh keceriaan. Dalam satu sesi, anak-anak bergantian berlaga sebagai harimau, monyet, pemburu, hingga pohon untuk persiapan pentas akhir tahun. Aldo tidak pernah memaksakan peran. Sebaliknya, ia melibatkan anak-anak untuk menciptakan adegan yang mereka sukai sesuai cerita yang telah ditentukan.
“Kak Aldo minta yang badannya tinggi-tinggi untuk jadi pohon ya, empat orang cowok dan empat orang cewek,” pintanya sambil berdiri tegak sesekali menggerakkan tangan seolah memberi contoh bagaimana peran pohon. Sontak, anak-anak merespons permintaan Aldo dengan antusiasnya.
Semangat peserta di kelas pantomim membuat Aldo harus membagi anak-anak menjadi dua kelompok. Setiap kelompok mendapat giliran latihan secara bergantian tiap minggu. Meski intensitasnya lebih jarang, Aldo tetap mengusahakan setiap sesi berlangsung menyenangkan dan bermakna.
Melihat semangat anak-anak di kelas pantomim kebijakan tersebut terasa wajar. Sebab kelas ini benar-benar layaknya ruang bermain yang bebas bagi mereka. “(Setiap kelas) rasanya kayak main, jadi pohon, jadi burung, atau jadi harimau,” ujar Kenzo, salah satu peserta pantomim, sambil tersenyum malu-malu.
Hal serupa juga tampak di kelas komedi anak, yang dipandu oleh Dwi Windari. Meskipun tema melawak terkesan berat bagi anak-anak, pendekatan yang digunakan justru memberi kebebasan. Winda mengandalkan teknik improvisasi agar anak-anak lebih luwes dan tidak terbebani oleh lucu atau tidaknya penampilan mereka.
“Di kelas komedi, anak akan belajar bagaimana membaca situasi, bisa mengembangkan ide dengan cepat, membalikkan sesuatu dengan cepat, merespons lawan mainnya dengan cepat. Dari situ, kelucuan akan mengalir,” tegas Winda.
Winda memanfaatkan setiap minggu untuk bertemu dengan seluruh anak didiknya. Ia menilai, satu sesi pertemuan dengan durasi dua jam masih kurang untuk mengasah sisi humor anak-anak. Karenanya, pada tahun 2025 ia bersama tim kelas komedi anak lainnya sepakat untuk menerima peserta didik sebanyak satu kelas saja.
Winda menyadari bahwa mayoritas anak-anak di kelasnya adalah hasil dorongan orang tua, karena melihat kurikulum kelas komedi yang lengkap, seperti olah vokal, olah tubuh, dan musik sekaligus. Namun, Winda meyakini bahwa anak didiknya memiliki kemampuan yang tinggi. Hal itu dibuktikan perkembangan di setiap pertemuan.
Pada saat latihan, seorang anak laki-laki sekitar tujuh tahun, maju ke panggung. Langkahnya pelan, wajahnya malu-malu, tangannya ragu memegang pengeras suara. Tapi saat gilirannya berbicara, pantun ini keluar begitu saja dari bibirnya. “Jaka Tarub hilang tanpa berita, Nawang Wulan menangis. Katanya sih cinta, tapi kok cuma janji manis,” ucapnya pada dialog penutup latihan pementasan cerita rakyat Jaka Tarub dan Nawang Wulan.
Dari panggung itu, anak-anak mungkin belum mengerti apa arti lucu, luwes dan tajam dalam komedi. Hanya saja, kepekaan mereka terus diasah untuk merespons setiap peluang dan menjawabnya dengan keberanian.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


