Pernah nggak, niatnya hanya ingin update berita sebentar, justru scroll sampai berjam-jam dan menimbulkan kecemasan sendiri? Itulah doomscrolling, fenomena yang makin akrab di tengah arus berita buruk.
Doomscrolling–kebiasaan scroll berita buruk tanpa henti–makin sering dialami banyak orang Indonesia belakangan ini. Hampir setiap detiknya kita bisa menemukan berita yang membuat kita cemas. Berita tentang bencana alam, demo, ekonomi yang tidak stabil, keadaan geopolitik yang kompleks, semua bisa dikonsumsi kurang dari 5 menit.
Tak heran hal ini berimplikasi pada kecemasan atas banyaknya berita buruk yang kita serap dalam waktu yang singkat.
Di sisi lain, ada dorongan dari masyarakat dan diri kita sendiri yang seakan “mewajibkan” kita untuk terus update dengan isu-isu yang sedang terjadi.
Alasannya pun beragam. Selain karena insting alami yang dimiliki, ada juga yang ingin ikut terus menyuarakan isu-isu kemasyarakatan, atau yang sekadar takut dibilang tone deaf. Lalu, bagaimana caranya agar bisa tetap update dengan berita terkini tanpa terjebak doomscrolling?
Apa itu Doomscrolling dan Mengapa Manusia Cenderung Tertarik pada Berita Buruk?
Mengutip dari halodoc, doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus mengonsumsi berita atau konten negatif di internet, meskipun konten tersebut memicu rasa cemas, sedih, atau ketakutan.
Terjadinya doomscrolling makin didukung dengan banyaknya media yang sengaja lebih menaruh perhatian pada berita buruk dengan alasan lebih mudah mendapat atensi dan traffic dari masyarakat.
Manusia itu sendiri memang punya kecenderungan untuk lebih menaruh perhatian pada berita buruk. Dari segi evolusi, lebih acuh pada infomasi negatif adalah insting manusia untuk bertahan hidup agar peka terhadap ancaman dan meningkatkan peluang bertahan hidup.
Dari segi neurologi, otak manusia memang memiliki negativity bias, merespons lebih kuat dan lebih cepat terhadap stimulus negatif dibanding stimulus positif atau netral.
Apapun alasannya, doomscrolling tetap memiliki efek samping untuk kesehatan fisik dan mental kita.
Dampak Doomscrolling Bagi Kesehatan
Doomscrolling bukan hanya aktivitas tanpa dampak, dilansir dari EMC Healthcare, berikut beberapa dampak yang disebabkan oleh aktivitas ini:
Memicu Kecemasan Berlebih
Terlalu sering terekspos berita negatif bisa bikin seseorang merasa dunia jauh lebih suram dan berbahaya dari kenyataan sebenarnya. Lama-kelamaan, rasa was-was pun jadi lebih gampang muncul dalam aktivitas sehari-hari.
Menyebabkan Stres yang Menumpuk
Ketika otak mencerna informasi yang terasa mengancam, tubuh otomatis meningkatkan kondisi siaga. Bila ini terjadi berulang-ulang, sistem respons stres tubuh jadi terus-menerus aktif, sehingga pikiran susah untuk benar-benar tenang.
Merusak Kualitas Istirahat
Kebiasaan doomscrolling sering dilakukan menjelang tidur. Paparan cahaya gawai yang digabung dengan konten yang memancing kecemasan membuat otak tetap "menyala", sehingga waktu tidur jadi lebih sulit dan kualitasnya pun berkurang.
Mengikis Konsentrasi dan Produktivitas
Waktu yang mestinya dipakai untuk belajar, bekerja, atau berbincang orang-orang terdekat justru tersita untuk terus memantau informasi. Hasilnya, daya fokus dan produktivitas harian jadi ikut menurun.
Agar Tidak Tertinggal Informasi Tanpa Terjebak Doomscrolling
1. Pilih Sumber yang Kredibel
Bijak dalam memilih dari mana informasi didapat. Hindari media yang lebih mengutamakan sensasi dan clickbait demi traffic, dan prioritaskan sumber yang punya rekam jejak jelas dalam menyajikan berita secara akurat dan berimbang.
2. Batasi Konsumsi Informasi
Tetapkan batas waktu mengakses berita atau media sosial, misalnya dengan mengaktifkan fitur pengingat/screen time di ponsel. Jangan ragu juga untuk unfollow atau mute akun, channel, atau influencer tertentu yang cenderung memicu kecemasan berlebih ketimbang memberi informasi yang membangun.
3. Pahami Batasan Empati
Empati bukan berarti harus larut sepenuhnya dalam penderitaan orang lain hingga merasa tidak pantas menjalani hidup normal.
Empati yang sehat adalah ikut merasakan sekaligus berupaya melakukan sesuatu yang benar-benar bisa meringankan beban orang lain, bukan sekadar terus-menerus menyerap kesedihan tanpa arah.
4. Fokus pada Isu yang Bisa Diperjuangkan
Daripada mencoba peduli pada semua isu sekaligus, pilih beberapa hal yang benar-benar bisa kita perjuangkan atau beri dampak nyata. Ini membantu energi dan perhatian kita tidak overload sekaligus tetap produktif dalam bersikap peduli.
Pada akhirnya, menjadi individu yang aware terhadap kondisi sekitar bukan berarti harus terus-menerus tenggelam dalam arus informasi yang tak berkesudahan. Kesadaran yang sehat justru lahir dari keseimbangan, tahu kapan harus mengikuti perkembangan, dan kapan harus memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat.
Dengan memilih sumber yang tepat, membatasi konsumsi informasi, memahami batas empati, serta fokus pada isu yang benar-benar bisa diperjuangkan, kita bisa tetap peduli dan terinformasi tanpa harus mengorbankan kesehatan mental.
Sebab pada akhirnya, dunia akan terus menghadirkan kabar baik maupun buruk, dan yang bisa kita kendalikan bukanlah arus informasinya, melainkan cara kita meresponnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


