pendap bengkulu - News | Good News From Indonesia 2026

Pendap: Kuliner Khas Bengkulu yang Dimasak 8 Jam, Menemani Soekarno Selama Pengasingan

Pendap: Kuliner Khas Bengkulu yang Dimasak 8 Jam, Menemani Soekarno Selama Pengasingan
images info

Pendap: Kuliner Khas Bengkulu yang Dimasak 8 Jam, Menemani Soekarno Selama Pengasingan | Foto: Dibuat dengan AI


Soekarno datang ke Bengkulu bukan untuk berwisata. Ia juga tidak datang untuk berburu makanan khas.

Pada 1938, pemerintah kolonial Belanda mengasingkan Soekarno ke Bengkulu. Ia tinggal di Bumi Rafflesia selama sekitar empat tahun, hingga 1942. detikSumbagsel mencatat, sebelum tiba di Bengkulu, Soekarno telah lebih dahulu menjalani masa pengasingan di Ende, Nusa Tenggara Timur. Pengasingan tentu bukan perjalanan yang dipilihnya sendiri.

Bengkulu menjadi salah satu bab penting dalam perjalanan hidup Soekarno sebelum Indonesia merdeka. Namun, sejarah tidak selalu tinggal dalam peristiwa besar. Kadang, sejarah justru tersimpan di meja makan.

Di Bengkulu, ada sebuah kuliner bernama pendap. Hidangan berbahan dasar ikan ini dibalut dengan bumbu rempah dan kelapa, lalu dibungkus menggunakan daun talas sebelum dimasak dalam waktu yang tidak sebentar.

Delapan jam. Di zaman ketika kita bisa memesan makanan dan menunggunya datang dalam hitungan menit, angka itu terdengar hampir tidak masuk akal.

Menariknya, detikFood menyebut pendap sebagai salah satu makanan favorit Soekarno selama menjalani masa pengasingannya di Bengkulu. detikSumut bahkan menggambarkan bagaimana kuliner khas ini disebut berhasil memikat hati Bung Karno selama tinggal di Bengkulu pada 1938–1942.

Mungkin, inilah sisi sejarah yang jarang kita pikirkan. Seorang tokoh besar yang sedang menjalani pengasingan, jauh dari rumah dan pusat perjuangan politiknya, ternyata juga memiliki kehidupan sehari-hari. Ia makan. Ia bertemu orang-orang. Ia menjalani hari-harinya. Di antara hari-hari itu, ada rasa khas Bengkulu yang disebut-sebut menjadi kesukaannya. Namanya pendap.

baca juga

Apa yang Dimakan Soekarno Ketika Diasingkan?

Ketika mendengar kisah Soekarno di Bengkulu, pikiran kita biasanya langsung tertuju pada Rumah Pengasingan Bung Karno. Kemudian ada Fatmawati.

Kita mungkin tidak pernah benar-benar tahu percakapan apa yang terjadi setiap hari di meja makan Soekarno. Kita juga tidak bisa memastikan berapa kali pendap tersaji di hadapannya. Tetapi kisah tentang makanan kesukaannya memberikan celah kecil untuk melihat sisi yang lebih manusiawi dari seorang tokoh besar.

Sebelum namanya diabadikan di jalan-jalan utama. Sebelum wajahnya terpampang di buku pelajaran. Sebelum ia menjadi presiden pertama Indonesia. Soekarno juga seorang manusia yang bisa menyukai rasa tertentu. Dan salah satu rasa itu, menurut sejumlah pemberitaan, adalah pendap Bengkulu.

Pendap, Makanan yang Tidak Bisa Dimasak Terburu-buru

Sekilas, pendap mungkin mengingatkan kita pada pepes. Keduanya sama-sama menggunakan ikan dan bumbu, lalu dibungkus sebelum dimasak. Namun, pendap memiliki ciri khas yang membuat prosesnya jauh berbeda.

detikFood menjelaskan bahwa pendap menggunakan ikan laut sebagai bahan utama. Ikan tersebut dibalut bumbu rempah, kemudian dibungkus tidak hanya dengan daun pisang, tetapi juga daun keladi atau daun talas. Yang membuat pendap benar-benar berbeda adalah waktunya.

detikSumut menyebut proses mengukus, merebus, atau memanggang pendap dapat memakan waktu hingga delapan jam. Proses panjang itu berkaitan dengan penggunaan daun talas yang memerlukan pengolahan tertentu agar nyaman dikonsumsi.

Delapan jam. Waktu selama itu cukup untuk menempuh perjalanan dari satu kota ke kota lain. Cukup untuk menyelesaikan satu hari kerja. Cukup untuk menonton beberapa film sekaligus.

Tetapi bagi pendap, waktu selama itu bukanlah penundaan. Waktu adalah bagian dari proses. Mungkin karena itulah pendap terasa seperti makanan yang datang dari zaman yang berbeda.

Kita hidup dengan makanan instan. Kita terbiasa mencari resep 15 menit. Kita ingin semua hal cepat selesai. Pendap justru meminta satu hal yang semakin sulit diberikan manusia modern: kesediaan untuk menunggu.

Sebelum Disukai Soekarno, Pendap Sudah Lebih Dulu Menjadi Rasa Bengkulu

Meski kisah Soekarno membuat pendap semakin menarik, kuliner ini tentu tidak lahir karena Bung Karno. Pendap telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bengkulu.

detikSumbagsel menulis bahwa pendap berkaitan dengan kebiasaan dan mata pencaharian masyarakat Bengkulu pada masa silam. Masyarakat pesisir banyak memanfaatkan hasil laut, sementara bahan lain seperti daun dan rempah berasal dari lingkungan sekitar. Perpaduan itulah yang kemudian membentuk karakter pendap. Di situlah sebenarnya cerita pendap menjadi lebih besar daripada sekadar makanan favorit seorang tokoh nasional.

Pendap adalah hasil pertemuan antara manusia dan lingkungannya. Ada ikan. Ada kelapa. Ada rempah. Ada daun talas.

Semua bahan itu tidak muncul begitu saja. Mereka berasal dari cara masyarakat membaca dan memanfaatkan alam di sekitarnya.

Maka, ketika Soekarno mencicipi pendap selama tinggal di Bengkulu, ia tidak hanya mencicipi sebuah masakan. Ia sedang berhadapan dengan identitas sebuah daerah.

Pendap dan Zaman yang Selalu Ingin Cepat

Hari ini, pendap terasa menarik bukan hanya karena hubungannya dengan Soekarno. Ia juga terasa relevan dengan kehidupan kita sekarang.

detikFood menggambarkan pendap sebagai kuliner yang membutuhkan proses memasak hingga delapan jam, jauh lebih lama dibandingkan banyak hidangan ikan yang bisa selesai dalam waktu singkat. Di tengah kehidupan yang serba cepat, pendap seolah menawarkan cara berpikir yang berlawanan.

Tidak semua hal harus selesai sekarang. Tidak semua proses bisa dipotong. Tidak semua hasil terbaik bisa diperoleh dengan jalan pintas. Bumbu pendap membutuhkan waktu untuk meresap.

Daun talas membutuhkan waktu untuk diolah. Ikan membutuhkan waktu untuk matang bersama seluruh cita rasa di dalam bungkusan itu. Pendap tidak menjual kecepatan. Ia menjual proses. Tanpa sengaja, itulah yang membuatnya menjadi kuliner yang sangat relevan hari ini.

baca juga

Bengkulu Tidak Hanya Menyimpan Sejarah, tetapi Juga Rasa

Selama ini, Bengkulu mungkin lebih sering dikenang melalui Benteng Marlborough, bunga Rafflesia, Tabot, atau Rumah Pengasingan Bung Karno. Semua itu adalah bagian penting dari identitas Bengkulu.

Namun, sejarah sebuah daerah tidak hanya tinggal di dalam benteng. Kadang, sejarah dibungkus dengan daun. Diberi bumbu. Dimasak perlahan. Lalu disajikan bersama nasi hangat. Pendap adalah salah satu cara Bengkulu menyimpan ceritanya.

Ia lahir dari kehidupan masyarakat. Bertahan melalui perubahan zaman. Dan kemudian, namanya ikut masuk ke dalam cerita tentang masa pengasingan Soekarno. Mungkin itulah yang membuat kuliner tradisional selalu menarik untuk digali.

Soekarno mungkin datang ke Bengkulu bukan atas pilihannya sendiri. Tetapi Bengkulu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Di antara jejak sejarah, pertemuan, dan perjuangan yang terjadi di kota itu, ada satu cerita kecil yang masih menarik untuk dikenang: sebuah kuliner khas yang membutuhkan delapan jam untuk dimasak dan disebut-sebut menjadi salah satu makanan kesukaannya. Mungkin sebuah kota memang tidak selalu tinggal dalam ingatan karena peristiwa besar.

Kadang, sebuah kota tinggal lebih lama melalui satu rasa. Dan bagi Bengkulu, salah satu rasa itu adalah pendap. Kalau sebuah makanan khas dari daerahmu bisa menceritakan sejarah, kira-kira cerita siapa yang akan pertama kali kawan ungkapkan?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.