Hari ini, perempuan semakin sering didorong untuk menjadi mandiri. Memiliki pendidikan tinggi, membangun karier, mempunyai penghasilan sendiri, hingga berani menduduki posisi kepemimpinan kerap dianggap sebagai bentuk keberhasilan perjuangan perempuan.
Narasi women empowerment seperti ini tentu penting. Namun, Kawan GNFI, ada satu pertanyaan yang sering luput dari pembicaraan: berdaya untuk siapa?
Sebab, tidak semua perempuan memiliki titik awal yang sama. Seorang perempuan dengan akses pendidikan yang baik, kondisi ekonomi yang stabil, dan lingkungan kerja yang layak tentu punya pilihan yang berbeda dengan perempuan yang bekerja sebagai buruh, pekerja rumah tangga, pekerja informal, atau pekerja dengan upah rendah.
Ketika feminisme hanya dirayakan melalui kisah perempuan yang berhasil mencapai puncak karier, pengalaman perempuan kelas pekerja berisiko menjadi tidak terlihat.
Menurut UN Women, lebih dari 10 persen perempuan di dunia masih hidup dalam kemiskinan ekstrem. Perempuan juga lebih banyak menghadapi pekerjaan informal, pekerjaan berupah rendah, serta keterbatasan perlindungan sosial.
UN Women menegaskan bahwa sekadar meningkatkan partisipasi perempuan dalam dunia kerja tidaklah cukup. Pekerjaan tersebut juga harus layak, memberikan upah yang setara, serta dilengkapi perlindungan sosial.
Di sinilah kesadaran kelas menjadi penting dalam perjuangan feminisme. Persoalan perempuan tidak berhenti pada apakah perempuan boleh bekerja atau tidak, melainkan pekerjaan seperti apa yang tersedia bagi mereka, berapa upah yang diterima, seberapa aman lingkungan kerjanya, dan apakah mereka memiliki perlindungan ketika kehilangan pekerjaan atau membutuhkan layanan kesehatan dan pengasuhan.
Perempuan kelas pekerja menghadapi persoalan gender yang berjalan beriringan dengan persoalan ekonomi. Mereka dapat mengalami diskriminasi karena jenis kelamin sekaligus berada dalam posisi yang rentan karena kelas sosialnya.
Dalam kondisi seperti ini, slogan “perempuan harus mandiri secara finansial” terdengar sederhana, tetapi realitasnya jauh lebih kompleks.
Bagaimana seseorang dapat benar-benar mandiri ketika pekerjaannya sendiri memberikan upah yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup?
Persoalan tersebut semakin terlihat ketika membicarakan pekerjaan domestik dan perawatan. Pekerjaan memasak, membersihkan rumah, merawat anak, hingga merawat anggota keluarga sering dianggap sebagai kewajiban alami perempuan, meskipun pekerjaan tersebut menghabiskan waktu dan tenaga.
Eksperimen sosial yang dilakukan International Labour Organization (ILO) bersama Magdalene di Indonesia bahkan menunjukkan bahwa sejumlah perempuan dapat menghabiskan lebih dari 100 jam dalam seminggu untuk pekerjaan perawatan yang tidak dibayar.
Dengan demikian, perempuan tidak hanya menghadapi pekerjaan yang menghasilkan upah, tetapi juga pekerjaan domestik yang sering kali tidak diakui sebagai “kerja”. UN Women mencatat bahwa perempuan dan anak perempuan secara global menghabiskan sekitar 2,5 kali lebih banyak waktu untuk pekerjaan perawatan dan domestik yang tidak dibayar dibandingkan laki-laki.
Beban tersebut dapat mengurangi kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan, pekerjaan layak, pengembangan karier, bahkan waktu untuk dirinya sendiri.
Ironisnya, narasi pemberdayaan perempuan terkadang justru dapat berjalan beriringan dengan kondisi tersebut. Perempuan didorong untuk menjadi pekerja yang sukses, tetapi persoalan siapa yang mengurus rumah setelah mereka pulang kerja tidak selalu dibicarakan.
Bahkan, kebebasan ekonomi seorang perempuan dapat bergantung pada kerja perempuan lain yang dibayar murah, misalnya pekerja rumah tangga atau pekerja sektor perawatan.
Pada titik ini, pertanyaan tentang gender tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan tentang kelas.
Pemikiran feminis Nancy Fraser juga mengkritik kecenderungan feminisme yang terlalu dekat dengan individualisme pasar. Kritik tersebut menunjukkan pentingnya menghubungkan perjuangan kesetaraan gender dengan persoalan redistribusi ekonomi dan eksploitasi struktural.
Feminisme tidak cukup hanya memperjuangkan agar lebih banyak perempuan dapat mencapai posisi elite; perjuangan tersebut juga perlu mempertanyakan sistem ekonomi dan sosial yang membuat sebagian perempuan tetap berada dalam pekerjaan yang tidak aman dan tidak dihargai.
Bukan berarti perempuan yang menjadi CEO, pemimpin perusahaan, atau profesional sukses tidak penting. Justru keberadaan mereka menunjukkan bahwa hambatan berbasis gender dapat ditembus. Namun, keberhasilan tersebut seharusnya tidak menjadi satu-satunya ukuran kemajuan perempuan.
Feminisme yang lebih inklusif perlu melihat perempuan yang bekerja di balik layar: buruh pabrik, pekerja rumah tangga, petugas kebersihan, pekerja informal, pengasuh, pedagang kecil, dan berbagai kelompok perempuan yang menopang kehidupan sehari-hari tetapi sering tidak mendapatkan pengakuan yang sepadan.
Pada akhirnya, feminisme seharusnya tidak hanya bertanya, “Berapa banyak perempuan yang berhasil naik ke posisi puncak?” tetapi juga, “Bagaimana kondisi perempuan yang berada di lapisan paling bawah?”.
Sebab, perjuangan kesetaraan tidak akan benar-benar selesai hanya karena sebagian perempuan berhasil mencapai posisi yang sebelumnya didominasi laki-laki.
Kawan GNFI, pemberdayaan perempuan seharusnya bukan sekadar membuat perempuan mampu bertahan dalam sistem yang tidak adil. Pemberdayaan juga berarti menciptakan kondisi agar perempuan tidak harus memilih antara kebutuhan ekonomi, pekerjaan yang layak, keluarga, dan kehidupan yang bermartabat. Karena itu, feminisme membutuhkan kesadaran kelas.
Tanpa memperjuangkan upah layak, perlindungan sosial, pembagian kerja domestik yang adil, serta kondisi kerja yang manusiawi, narasi tentang perempuan yang “berdaya” akan selalu menyisakan pertanyaan: siapa yang sebenarnya masih harus membayar harga dari keberdayaan tersebut?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


