Alun-Alun Tuban adalah titik di mana sejarah, religi, dan kehidupan sehari-hari warga Tuban bertemu dalam satu ruang yang sama.
Di sisi baratnya berdiri Masjid Agung Tuban yang megah dengan arsitektur khas pesisir Jawa-Timur Tengah. Di belakang masjid itu, Makam Sunan Bonang menjadi salah satu situs ziarah Wali Songo yang paling ramai dikunjungi di seluruh Jawa.
Tidak sampai dua kilometer dari alun-alun ke arah utara, Pantai Boom menghadap langsung ke Laut Jawa. Semuanya terhubung dalam radius yang bisa dijangkau berjalan kaki atau becak.
Alun-alun ini berlokasi di Jalan Veteran, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, dan baru saja melewati proses revitalisasi besar yang dimulai pertengahan 2024 dan selesai awal 2025.
Datang ke sini berarti berada di tengah kota yang punya lapisan sejarah sangat tebal, dari era Majapahit, masa dakwah Wali Songo, hingga peninggalan kolonial Belanda yang masih bisa ditemukan dalam beberapa bangunan tua di sekitarnya.
Sekilas Mengenai Alun-Alun Tuban
Seperti alun-alun di kota-kota bersejarah di Jawa pada umumnya, Alun-Alun Tuban adalah ruang yang tumbuh bersama kotanya selama berabad-abad.
Fungsinya bergeser dari waktu ke waktu, dari ruang upacara kerajaan, pusat aktivitas kolonial, hingga kini menjadi ruang publik modern yang terbuka bagi siapapun.
Revitalisasi yang baru selesai awal 2025 mencakup penataan ulang taman hijau, perluasan jalur pedestrian, pemasangan lampu hias, penambahan bangku taman dan tempat sampah, serta beberapa spot foto yang melengkapi suasana baru.
Proyek ini merupakan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Tuban dengan arsitek dan kontraktor lokal yang memahami karakter kota dan kebutuhan warganya.
Pasca revitalisasi, area parkir kendaraan tidak lagi berada di dalam alun-alun.
Untuk motor, tersedia parkir di Kantor Koramil Tuban, halaman Kantor Pos, Parkir Wisata Pantai Boom, Jalan Yos Sudarso, halaman CPM, Parkir Kebonsari, dan area dalam Masjid Agung.
Sementara untuk kendaraan roda empat, parkir tersedia di halaman Kantor Pos, Parkir Pantai Boom, Jalan Veteran, dan Jalan Yos Sudarso.
Daya Tarik Utama Alun-Alun Tuban
Alun-alun ini sendiri menawarkan suasana yang cukup menyegarkan untuk sebuah ruang terbuka di pusat kota.
Area pedestrian yang luas, taman hijau yang rapi, dan pencahayaan artistik di malam hari menjadikan kawasan ini paling ramai di sore hingga malam hari, ketika warga datang untuk joging, bersantai, berkumpul, atau sekadar menikmati udara laut yang sering berembus dari utara.
Daya tarik sesungguhnya dari kawasan ini adalah konsentrasi destinasi wisata bersejarah yang berada dalam radius berjalan kaki.
Masjid Agung Tuban, yang berdiri langsung berbatasan dengan alun-alun di sisi barat, diyakini sudah ada sejak abad ke-15 dan erat kaitannya dengan penyebaran Islam oleh Sunan Bonang.
Makam Sunan Bonang sendiri berada di belakang masjid, hanya beberapa menit berjalan kaki, dan setiap harinya dikunjungi ribuan peziarah dari berbagai penjuru Nusantara.
Tidak jauh dari kawasan alun-alun juga berdiri Museum Kambang Putih yang menyimpan koleksi peninggalan sejarah Tuban dari berbagai era, serta Kelenteng Kwan Sing Bio di kawasan pesisir, salah satu kelenteng terbesar di Asia Tenggara yang dikenal dengan gapura kepiting raksasanya.
Sementara Pantai Boom, destinasi sore hari favorit warga Tuban, berjarak hanya sekitar 1,5 km dari alun-alun.
Akses Menuju Alun-Alun Tuban
Alun-Alun Tuban berada di Jalan Veteran, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, tepat di pusat kota.
Dari Surabaya, perjalanan menuju Tuban bisa ditempuh menggunakan bus antarkota dari Terminal Purabaya (Bungurasih) dengan waktu tempuh sekitar 3,5 hingga 4 jam.
Dari arah Semarang atau kota-kota di barat, alun-alun bisa dicapai langsung melalui jalur Pantura karena Tuban berada tepat di jalur utama tersebut.
Kendaraan pribadi bisa diparkir di lokasi-lokasi yang sudah ditetapkan setelah revitalisasi, dengan tarif parkir motor Rp2.000 dan mobil Rp5.000.
Alun-alun sendiri berada di jantung kota dan mudah ditemukan bahkan tanpa panduan peta karena Masjid Agung yang menjulang tinggi bisa dijadikan patokan dari berbagai arah.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Alun-Alun Tuban terbuka 24 jam setiap hari tanpa biaya masuk.
Waktu terbaik berkunjung adalah sore menjelang malam, mulai sekitar pukul 16.00, saat udara mulai sejuk, lampu hias mulai menyala, dan suasana alun-alun paling hidup dengan aktivitas warga.
Pagi hari antara pukul 06.00 hingga 08.00 juga menjadi waktu favorit bagi warga yang joging di lintasan yang tersedia.
Fasilitas yang ada di kawasan ini meliputi pedestrian luas, taman hijau, bangku taman, air mancur, lintasan joging, lampu hias, spot foto, dan toilet umum.
Di sekitar alun-alun banyak pedagang kaki lima yang mulai berdatangan di sore hari, menawarkan jajanan khas Tuban dan minuman segar yang cocok dinikmati sambil bersantai.
Ayo Berkunjung ke Alun-Alun Tuban!
Alun-Alun Tuban paling tepat dijadikan sebagai titik awal sebelum menjelajahi kawasan wisata religi dan sejarah kota ini.
Datanglah sore hari, mulai dari alun-alun, kemudian jalan kaki ke Masjid Agung dan Makam Sunan Bonang, dan tutup hari dengan sunset di Pantai Boom.
Jadwal perjalanan sederhana itu sudah cukup untuk merasakan karakter Tuban sebagai Kota Wali yang sesungguhnya. Selamat berkunjung, Kawan GNFI!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


