agrotoga desa dangiang - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Pekarangan, Desa Dangiang Menanam Harapan lewat AgroTOGA

Dari Pekarangan, Desa Dangiang Menanam Harapan lewat AgroTOGA
images info

Kegiatan AgroTOGA di Desa Dangiang menjadi langkah awal pemanfaatan lahan melalui perpaduan agroforestri dan tanaman obat keluarga. © Dokumentasi KKN-


Sebuah lahan tidak selalu harus luas untuk memberikan manfaat. Di Desa Dangiang, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, gagasan tersebut mulai diwujudkan melalui sebuah demplot sederhana yang memadukan agroforestri dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA).

Di lahan tersebut, tanaman produktif dan tanaman obat ditanam berdampingan. Bukan sekadar untuk menghijaukan lingkungan, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa lahan di sekitar masyarakat dapat dikelola secara produktif sekaligus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Demplot tersebut menjadi bagian dari AgroTOGA, salah satu rangkaian program SAMARA (Sadar Alam, Masyarakat Berdaya dan Sejahtera) yang dilaksanakan di Desa Dangiang pada 19 Juli 2026.

SAMARA merupakan program pengelolaan lingkungan berkelanjutan yang menggabungkan pengembangan agroforestri, pemanfaatan TOGA, pengolahan limbah organik menjadi kompos, serta kegiatan kebersihan dan penghijauan. Namun, AgroTOGA tidak hanya berbicara mengenai kegiatan menanam.

Program ini membawa gagasan sederhana: bagaimana lahan yang sudah dimiliki masyarakat dapat memberikan lebih banyak manfaat tanpa harus kehilangan fungsi ekologisnya.

Ketika Pekarangan Tidak Hanya menjadi Pekarangan

Desa Dangiang memiliki potensi yang kuat pada sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Kondisi tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan berbagai bentuk pemanfaatan lahan yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan melalui AgroTOGA adalah agroforestri.

Secara sederhana, agroforestri merupakan bentuk pengelolaan lahan yang mengombinasikan tanaman berkayu dengan tanaman pertanian atau tanaman produktif lainnya dalam satu ruang. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat dari berbagai jenis tanaman sekaligus mempertahankan fungsi ekologis lahan.

baca juga

Konsep tersebut kemudian dipadukan dengan Tanaman Obat Keluarga atau TOGA. TOGA dapat menjadi pilihan pemanfaatan lahan yang relatif sederhana karena tanaman dapat dibudidayakan pada pekarangan maupun ruang yang tersedia di sekitar rumah.

Dengan demikian, sebuah lahan dapat memiliki beberapa fungsi sekaligus. Tanaman produktif memberikan manfaat ekonomi, tanaman obat dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, sementara keberadaan vegetasi tetap mendukung lingkungan yang lebih hijau.

Survei Lahan

Belajar Tidak Harus Selalu di Dalam Ruangan

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam AgroTOGA adalah bagaimana pengetahuan mengenai lingkungan dapat diterapkan secara nyata.

Masyarakat tidak hanya diperkenalkan melalui materi mengenai agroforestri dan TOGA, tetapi juga melalui demplot Agroforestri dan TOGA percontohan. Demplot tersebut menjadi salah satu luaran utama program SAMARA. Kehadiran demplot membuat proses belajar menjadi lebih konkret.

Masyarakat dapat melihat secara langsung bagaimana tanaman ditempatkan dan bagaimana sebuah lahan dapat dimanfaatkan dengan pendekatan yang lebih beragam.

Dari sinilah demplot memiliki peran lebih dari sekadar tempat menanam. Ia menjadi ruang belajar terbuka bagi masyarakat. Harapannya, masyarakat dapat melihat bahwa konsep agroforestri tidak selalu harus diterapkan dalam skala besar. Prinsip yang sama dapat disesuaikan dengan kondisi lahan yang tersedia dan kebutuhan masing-masing keluarga.

baca juga

Belajar di tingkat Tapak

 

Menanam Bukan Akhir, Melainkan Awal

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam kegiatan penghijauan: menanam hanyalah permulaan. Setelah bibit masuk ke tanah, perjalanan sebenarnya justru dimulai. Tanaman membutuhkan air, nutrisi, pemeliharaan, dan perhatian agar dapat tumbuh dengan baik.

Karena itu, AgroTOGA tidak hanya diarahkan pada terbentuknya demplot, tetapi juga pada peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan TOGA dan konsep agroforestri. Dalam rangkaian SAMARA, peningkatan pengetahuan tersebut menjadi salah satu capaian yang ingin dibangun bersama masyarakat.

Gagasan keberlanjutan juga terlihat dari rancangan program. Demplot Agroforestri dan TOGA diharapkan dapat dikelola dan dikembangkan oleh masyarakat sebagai model pemanfaatan lahan yang produktif. Dengan begitu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari berapa banyak tanaman yang ditanam pada hari pelaksanaan. Keberhasilan yang lebih penting adalah ketika masyarakat tetap merawatnya setelah kegiatan selesai.

Menanam hari ini untuk masa depan

Dari Sampah Kembali ke Tanah

AgroTOGA juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan lingkungan yang saling terhubung dalam SAMARA. Pada hari yang sama, program KOMPAK memperkenalkan pengolahan limbah organik rumah tangga menggunakan komposter sederhana. Program tersebut menghasilkan unit komposter percontohan dan pupuk kompos dari pengolahan sampah organik.

Keterhubungan tersebut menciptakan sebuah siklus sederhana. Sisa organik rumah tangga yang sebelumnya dianggap sebagai sampah dapat diolah menjadi kompos. Kompos kemudian dapat digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Sampah dari rumah kembali ke tanah, tanah menumbuhkan tanaman, dan tanaman kembali memberikan manfaat bagi rumah. Gagasan seperti inilah yang membuat pengelolaan lingkungan menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Tidak selalu membutuhkan lahan yang luas. Yang dibutuhkan adalah pengetahuan, kemauan, dan kebiasaan untuk melakukannya secara konsisten.

Kompos dari Bahan Organik

Menanam Kebiasaan untuk Masa Depan

SAMARA melibatkan 40 peserta dan dirancang untuk mendorong peningkatan pengetahuan mengenai TOGA dan agroforestri, keterampilan mengolah limbah organik, serta partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa kegiatan lingkungan bukan hanya tentang membuat suatu tempat menjadi lebih hijau.

Lebih jauh dari itu, ada upaya untuk mengubah cara masyarakat melihat lingkungan di sekitarnya. Pekarangan tidak lagi sekadar halaman rumah. Limbah organik tidak selalu harus berakhir sebagai sampah. Tanaman tidak hanya dipandang sebagai penghijauan.

Ketiganya dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang lebih produktif dan berkelanjutan. Desa Dangiang mungkin masih memiliki perjalanan panjang dalam membangun pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Namun, perubahan tidak harus selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Kadang, perubahan dimulai dari sepetak lahan, beberapa tanaman, dan tangan-tangan yang bersedia merawatnya. Sebab menanam bukan hanya tentang memasukkan bibit ke dalam tanah. Menanam adalah tentang menitipkan harapan kepada masa depan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

GF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.