AIESEC in UIN Jakarta kembali melanjutkan rangkaian Incoming Global Volunteer melalui kegiatan Mother Growth Lab 2 yang diselenggarakan pada Kamis, 20 Agustus 2026 di Kelurahan Cempaka Putih.
Kegiatan ini mempertemukan Exchange Participants (EPs), Local Volunteers (LVs), dan komunitas ibu-ibu PKK dalam ruang pertukaran pengalaman, perspektif, serta pengetahuan yang mendorong pengembangan potensi masyarakat lokal.
Sebagai bagian dari perjalanan Global Volunteer, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi EPs untuk tidak hanya mengenal kehidupan masyarakat Indonesia secara lebih dekat, tetapi juga belajar dari pengalaman dan tantangan yang dihadapi komunitas lokal.
Di sisi lain, interaksi tersebut membuka ruang bagi masyarakat untuk bertukar gagasan dengan anak muda dari berbagai latar belakang dan negara.
Aktivitas diawali dengan persiapan dan registrasi peserta sebelum memasuki sesi pembukaan. Setelah MC menyampaikan rangkaian kegiatan dan tata tertib, peserta mengikuti sesi check-in sebagai langkah awal untuk membangun suasana yang lebih terbuka sebelum memasuki acara utama.
Rangkaian utama dimulai dengan Presentation Session by All Group, yang mempertemukan EPs dan LVs dengan ibu-ibu PKK Cempaka Putih. Para peserta memperkenalkan diri dengan membagikan nama, usia, serta pekerjaan atau kesibukan yang sedang dijalani. Sesi ini menjadi langkah awal untuk membangun koneksi antara peserta internasional dengan komunitas lokal.
Interaksi kemudian dilanjutkan melalui Workshop Session by All Group, ketika perwakilan ibu-ibu PKK membagikan cerita mengenai keseharian, perjalanan mereka dalam menjalani kegiatan, serta pengalaman membangun penghidupan melalui Bank Sampah dan usaha kecil.
Cerita tersebut memberikan kesempatan bagi EPs dan LVs untuk memahami kondisi komunitas secara lebih dekat, termasuk berbagai tantangan yang mereka hadapi dan harapan mereka untuk masa depan.
Bagi para Exchange Participants, sesi berbagi tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman pertukaran budaya.
Alih-alih hanya mengenal Indonesia melalui tempat wisata atau aktivitas formal, mereka memperoleh kesempatan untuk mendengarkan cerita langsung dari masyarakat dan memahami bagaimana kehidupan, pekerjaan, serta aktivitas komunitas berjalan dari perspektif lokal.
“Bagi saya, mendengarkan cerita dari ibu-ibu secara langsung membuat pengalaman exchange menjadi jauh lebih bermakna. Kami tidak hanya datang untuk mengenal budaya Indonesia, tetapi juga belajar memahami pengalaman dan tantangan yang dihadapi masyarakat lokal. Dari sana, kami bisa saling bertukar perspektif dan mencari ide yang dapat memberikan manfaat,” ujar Ivy, salah satu peserta.
Setelah mendengarkan berbagai pengalaman tersebut, EPs dan LVs kemudian mengidentifikasi kesamaan motivasi serta hal-hal yang membuat para ibu tetap bertahan dalam kegiatan PKK dan Bank Sampah.
Proses ini dilanjutkan melalui Partner Session: Emina Tap-In, ketika peserta mulai memetakan kemungkinan pengembangan skema usaha yang dapat dilakukan berdasarkan potensi komunitas.
Beberapa gagasan yang dibahas antara lain penyelenggaraan workshop membuat kerajinan dari sampah, edukasi mengenai pemilahan sampah, hingga kegiatan yang mengajarkan bagaimana sampah dapat memiliki nilai ekonomi.
Peserta juga mendiskusikan manfaat dari setiap gagasan serta bagaimana strategi pemasaran dapat digunakan untuk memperkenalkan kegiatan dan produk kepada masyarakat yang lebih luas.
Pertukaran pengetahuan kemudian berlanjut pada aspek digital. EPs dan LVs memperkenalkan sejumlah platform media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan usaha komunitas.
Melalui diskusi tersebut, peserta bersama ibu-ibu PKK mengeksplorasi bagaimana media sosial dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan produk, kegiatan, maupun potensi komunitas kepada calon konsumen.
Sesi berikutnya, Partner Session: TUKR Tap-In, memberikan ruang bagi ibu-ibu PKK dan peserta untuk mendiskusikan kembali gagasan yang telah dikembangkan.
Peserta dapat menyampaikan ide sekaligus menerima tanggapan dari komunitas agar rencana yang dibahas dapat lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi mereka.

“Hal yang menarik dari kegiatan ini adalah adanya proses dua arah. Kami tidak hanya memberikan ide kepada komunitas, tetapi juga mendengarkan tanggapan mereka untuk memahami apakah ide tersebut memang relevan dengan kebutuhan yang ada. Menurut saya, kolaborasi seperti ini membuat pengalaman volunteer terasa lebih nyata,” ungkap Dimas, Peserta.
Melalui interaksi lintas budaya tersebut, Mother Growth Lab 2 menunjukkan bahwa pengalaman Global Volunteer tidak berhenti pada kegiatan sosial secara langsung.
Pertemuan antara EPs, LVs, dan komunitas lokal juga menjadi ruang pembelajaran bersama, tempat setiap pihak dapat berbagi cerita, memahami perspektif yang berbeda, serta mengembangkan gagasan berdasarkan kebutuhan nyata di masyarakat.
Bagi EPs, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses memahami kehidupan lokal di Indonesia sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan adaptasi dalam lingkungan yang berbeda dari keseharian mereka.
Sementara bagi komunitas, kehadiran para volunteer membuka kesempatan untuk memperoleh perspektif baru mengenai pengembangan usaha, pemasaran, dan pemanfaatan media sosial.
Melalui Mother Growth Lab 2, AIESEC in UIN Jakarta berharap pengalaman GlobalVolunteer dapat terus menjadi ruang yang mempertemukan generasi muda dari berbagai latar belakang dengan masyarakat lokal.
Pertukaran pengalaman dan pengetahuan yang terjadi di dalamnya diharapkan dapat membangun hubungan yang lebih bermakna sekaligus mendorong lahirnya gagasan yang relevan bagi pengembangan komunitas.
Dengan demikian, exchange tidak hanya menjadi perjalanan menuju tempat baru, tetapi juga sebuah proses untuk datang dengan rasa ingin tahu, belajar dari masyarakat, berbagi perspektif, dan menciptakan dampak bersama.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


