Kawan, stunting merupakan kondisi kekurangan gizi kronis yang disebabkan karena ketidakcukupan asupan zat gizi dalam jangka waktu yang panjang, terutama akibat pemberian makanan yang tidak memenuhi kebutuhan gizi anak. Kondisi ini dapat mulai berkembang sejak masa kehamilan atau ketika janin masih di dalam rahim ibu. Umumnya, kondisi stunting mulai terlihat ketika anak mencapai usia dua tahun.
Berdasarkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2016), kekurangan gizi seperti stunting selama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik dan peningkatan risiko terkena penyakit. Namun, juga dapat menghambat perkembangan kognitif sehingga berpotensi memengaruhi kecerdasan dan produktivitas anak di masa mendatang.
Salah satu wilayah yang memiliki kasus stunting berada di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (ePPGBM), prevalensi stunting di Kabupaten Banyumas tercatat turun dari 14,52 persen pada tahun 2024 menjadi 12,69 persen per Mei 2026.
Di tingkat kecamatan, Cilongok tercatat memiliki 1.127 balita stunting. Melihat masih tingginya angka tersebut serta pentingnya pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai salah satu upaya pencegahan stunting, mahasiswa KKN Tematik IPB University menghadirkan ProgramGENIUS (Gerakan Nutrisi Ibu dan Anak Unggul Sehat): Edukasi 1000 Hari Pertama Kehidupan dalam Pencegahan Stunting.

Edukasi Program GENIUS kepada peserta terkait 1000 Hari Pertama Kehidupan, Pencegahan Stunting, Pemilihan Kualitas Telur, Pemenuhan Protein, dan Resep Nuget Tempe | Dokumentasi Pribadi
Program GENIUS dilaksanakan pada Jumat, 17 Juli 2026 di Posyandu Hapsari 5, Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Adapun, sasaran utama program ini, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, keluarga yang memiliki balita, dan kader posyandu.
Dalam pelaksanaanya, program tersebut dihadiri sebanyak 20 orang. Program ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil dan keluarga yang memiliki balita mengenai pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal, sekaligus meningkatkan pemahaman mengenai upaya pencegahan stunting.
Dalam pelaksanaannya, peserta diberikan edukasi terkait pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai periode emas tumbuh kembang anak, mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun.
Adapun, materi yang disampaikan meliputi pengertian dan penyebab stunting, serta langkah-langkah pencegahannya melalui prinsip ABCDE (aktif minum tablet tambah darah, bumil teratur periksa kehamilan minimal 6 kali, cukupi konsumsi protein hewani, datang ke posyandu setiap bulan, dan eksklusif ASI 6 bulan).
Selain itu, peserta juga diajarkan cara memilih telur ayam sebagai salah satu sumber protein hewani yang berkualitas baik dan mudah diakses masyarakat, mulai dari pengamatan bagian eksterior dan interior telur, hingga tips umum menguji kualitas telur melalui metode perendaman dalam air.
Mahasiswa KKNT IPB University juga memperkenalkan inovasi olahan pangan alternatif yang berbahan dasar tempe kepada peserta. Tempe dipilih karena merupakan produk fermentasi kedelai yang dikenal sebagai sumber protein berkualitas tinggi.
Artinya, kedelai pada tempe mengandung semua asam amino esensial atau asam amino yang diperlukan oleh tubuh.
Berdasarkan Data Komposisi Pangan Indonesia, di dalam 100 gram tempe, umumnya mengandung protein sebesar 19–21 gram, sekaligus mengandung karbohidrat, lemak baik, serat, kalsium, fosfor, zat besi, dan vitamin B kompleks yang penting bagi tumbuh kembang anak.
Selain bergizi tinggi, tempe juga dinilai sebagai sumber protein alternatif yang ekonomis dan mudah diakses oleh masyarakat.

Leaflet materi program GENIUS dan sampel nuget tempe yang dibagikan kepada peserta | Dokumentasi Pribadi
Dalam kegiatan tersebut, warga diperkenalkan dengan nuget tempe sebagai salah satu alternatif pangan tinggi protein untuk mendukung pencegahan stunting, lengkap dengan penjelasan resep dan cara pembuatannya.
Sebagai bentuk edukasi yang lebih nyata, mahasiswa KKNT IPB University turut membagikan sampel nuget tempe kepada peserta agar dapat langsung merasakan produk olahan tersebut.
Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi peserta dalam mengolah makanan lebih bervariasi dan tetap bergizi untuk memenuhi kebutuhan protein anak, sekaligus mendorong pemanfaatan pangan lokal secara lebih optimal.
“Dalam program GENIUS, kami ingin memastikan kepada peserta, khususnya ibu hamil dan keluarga yang memiliki balita untuk mencukupi kebutuhan protein dengan baik. Hal ini dikarenakan, asupan protein yang cukup, berkualitas, dan mudah dicerna memiliki peran penting untuk menyediakan asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan, produksi enzim, hormon, dan menjaga daya tahan tubuh,” ujar mahasiswa KKNT IPB University dalam pelaksanaan kegiatan.
GENIUS (Gerakan Nutrisi Ibu dan Anak Unggul Sehat): Edukasi 1000 Hari Pertama Kehidupan dalam Pencegahan Stunting menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKNT IPB University terkait pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan dan pencegahan stunting di Indonesia, khususnya di Desa Panembangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.
Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Namun, juga mendorong ibu dan keluarga untuk menerapkan praktik pemberian makan, pengasuhan, dan pemantauan tumbuh kembang anak secara tepat.
Dengan demikian, GENIUS diharapkan dapat menjadi langkah edukatif dalam membangun kesadaran masyarakat untuk bersama-sama mencegah stunting dan mewujudkan generasi yang sehat dan unggul.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


