Kawan pernah tidak, memperhatikan halaman rumah yang selalu tergenang setiap kali hujan turun deras? Masalah sepele yang sering dianggap biasa ini justru menjadi perhatian serius bagi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University yang mengabdi di Desa Wonorejo, Kabupaten Demak.
Pada Selasa, 28 Juli 2026, mahasiswa KKNT IPB University menyelesaikan pelaksanaan program bertajuk BIOAKSI, singkatan dari Biopori Aksi Resapan dan Konservasi Lingkungan.
Program ini digagas sebagai upaya sederhana, tetapi berdampak untuk meningkatkan resapan air sekaligus mendorong masyarakat memanfaatkan sampah organik rumah tangga yang selama ini belum dikelola secara optimal.
Ide program ini bermula dari pengamatan mahasiswa terhadap kondisi sejumlah area permukiman di Desa Wonorejo yang telah didominasi permukaan beton. Kawan tentu bisa membayangkan, semakin banyak permukaan tanah yang tertutup beton, semakin sempit pula ruang bagi air hujan untuk meresap ke dalam tanah. Akibatnya, genangan air pun mudah muncul, terutama saat intensitas hujan sedang tinggi.
Di sisi lain, sampah organik rumah tangga seperti sisa sayuran, daun kering, dan limbah dapur sebenarnya masih memiliki potensi besar untuk diolah kembali melalui proses penguraian alami, hanya saja belum banyak dimanfaatkan warga.

Biopori yang telah dipasang
Melihat dua persoalan yang saling berkaitan itu, mahasiswa KKNT IPB University memperkenalkan lubang resapan biopori sebagai solusi yang mengintegrasikan konservasi air dengan pengelolaan sampah organik sekaligus.
Secara teknis, biopori dibuat dalam bentuk lubang vertikal ke dalam tanah dengan kedalaman sekitar satu meter dan diameter 10 sampai 15 sentimeter.
Selain berfungsi sebagai jalur tambahan bagi air hujan untuk meresap ke dalam tanah, lubang ini juga dimanfaatkan sebagai tempat penguraian sampah organik rumah tangga secara alami.
Cara kerjanya cukup sederhana, Kawan. Sampah organik seperti sisa sayuran, daun kering, dan limbah dapur dimasukkan ke dalam lubang biopori sebagai sumber makanan bagi organisme tanah.
Aktivitas organisme tersebutlah yang kemudian membantu menciptakan dan memperbanyak pori-pori alami di dalam tanah, sehingga kemampuan tanah dalam menyerap air pun meningkat.
Seiring waktu, sampah organik yang terdekomposisi akan berubah menjadi bahan organik yang bisa dimanfaatkan kembali sebagai kompos untuk menyuburkan tanah dan tanaman di sekitar rumah.
Kegiatan BIOAKSI dilaksanakan dari 27—28 Juli 2026, mulai pukul 15.30 WIB, bertempat di RT 07/RW 02, Desa Wonorejo. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memasang lima unit biopori pada titik-titik yang telah ditentukan sebelumnya.
Sebanyak tiga unit dipasang di halaman rumah Ketua BPD Wonorejo, Nyamani, sedangkan dua unit lainnya ditempatkan di sekitar area Pos Kesehatan Desa (PKD).
Aktivitas ini turut dihadiri oleh Ketua BPD Wonorejo Nyamani, Ketua RT 07/RW 02 Suyikno, serta perwakilan warga RT 07 Sutarno.
Kehadiran perangkat desa dan warga setempat menjadi bagian penting dari kegiatan ini, bukan sekadar formalitas.
Selain melakukan pemasangan langsung, mahasiswa KKNT IPB University juga menjelaskan cara kerja dan manfaat biopori kepada warga yang hadir, dengan harapan teknologi sederhana ini dapat dirawat dan terus dimanfaatkan secara mandiri dan berkelanjutan oleh masyarakat setelah masa KKN berakhir.
Koordinator Desa KKNT IPB University Desa Wonorejo, Dhelon Armando, menjelaskan bahwa BIOAKSI memang dirancang sebagai solusi yang mudah diterapkan dan dirawat secara mandiri oleh masyarakat.
"Kami berharap biopori tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan resapan air, tetapi juga dapat mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah organik rumah tangga. Dengan perawatan yang sederhana, biopori dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan," ujar Dhelon.
Senada dengan itu, Nyamani turut menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan program BIOAKSI. Ia berharap keberadaan biopori yang telah dipasang dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan, sekaligus mendorong warga untuk mengembangkan program serupa di berbagai titik lain di Desa Wonorejo.
"Terima kasih banyak kepada adik-adik KKNT IPB yang sudah memperkenalkan biopori kepada kami, warga Desa Wonorejo. Saya berharap setelah dipasangnya biopori, genangan air dapat semakin berkurang dan warga Wonorejo bisa meneruskan pemasangan biopori ini di beberapa titik lainnya di desa," ujar Nyamani ditemui di tempat.
Melalui program BIOAKSI, Kawan, mahasiswa KKNT IPB University berharap keberadaan biopori dapat menjadi langkah awal dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi air dan pengelolaan sampah organik.
Program sederhana tersebut juga diharapkan tidak berhenti di lima titik yang telah dipasang, melainkan terus dikembangkan dan diterapkan di titik-titik lain di Desa Wonorejo, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


