dari potensi lokal menuju kolaborasi exchange participants belajar membangun strategi partnership untuk pariwisata berkelanjutan - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Potensi Lokal Menuju Kolaborasi: Exchange Participants Belajar Bangun Strategi Partnership untuk Pariwisata Berkelanjutan

Dari Potensi Lokal Menuju Kolaborasi: Exchange Participants Belajar Bangun Strategi Partnership untuk Pariwisata Berkelanjutan
images info

AIESEC in UIN Jakarta incoming Global Volunteer Tourism Changemakers: Outreaching Strategy for Sustainable Tourism| Dokumentasi Pribadi


AIESEC in UIN Jakarta kembali melanjutkan rangkaian Incoming Global Volunteer melalui kegiatan Tourism Changemakers: Outreaching Strategy for SustainableTourism pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Kelas Psikologi UIN Jakarta, Ruang 101 dan 106 ini mempertemukan Exchange Participants (EPs) dan Local Volunteers (LVs) dalam sesi pembelajaran yang berfokus pada strategi membangun kolaborasi untuk mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya diajak memahami kondisi destinasi wisata yang telah mereka kunjungi sebelumnya. Namun, juga belajar melihat berbagai kebutuhan yang dapat dikembangkan melalui dukungan pihak lain.

Pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan menjadi strategi pendekatan, rancangan partnership, hingga simulasi pertemuan dengan calon stakeholder.

baca juga

Kegiatan diawali dengan registrasi, pembukaan oleh Master of Ceremony (MC), penjelasan rangkaian agenda dan tata tertib, serta sesi check-in. Setelah roll dance dan sambutan dari perwakilan AIESEC in UIN Jakarta, peserta memasuki rangkaian utama yang menghubungkan pengalaman eksplorasi mereka dengan kemampuan menyusun strategi kolaborasi.

Sesi Human Library: Local Stories Edition menjadi titik awal peserta untuk kembali merefleksikan destinasi wisata yang telah mereka kunjungi sebelumnya.

Dalam kelompok, EPs dan LVs membahas kondisi pariwisata pada destinasi tersebut, potensi daya tarik yang dapat dikembangkan, berbagai hambatan yang mungkin muncul, serta kebutuhan yang perlu menjadi prioritas.

Melalui proses tersebut, peserta belajar melihat sebuah destinasi tidak hanya dari sisi daya tarik wisata, tetapi juga dari tantangan dan kebutuhan yang ada di dalamnya.

Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar bagi peserta untuk menentukan bentuk dukungan atau kolaborasi yang paling relevan.

Pembelajaran dilanjutkan melalui Introduction to Partnership. Setiap kelompok berperan sebagai tim pengelola destinasi wisata yang harus merumuskan solusi berdasarkan permasalahan yang telah ditemukan.

Peserta berdiskusi untuk menentukan kemungkinan kebijakan, dukungan fasilitas, maupun program peningkatan kapasitas yang dapat diterapkan.

Setelah menghasilkan beberapa alternatif solusi, peserta memasuki sesi Understanding the Partnership Flow. Dalam sesi ini, mereka mulai mengidentifikasi pihak-pihak yang berpotensi mendukung, bekerja sama, maupun berinvestasi dalam pengembangan pariwisata.

Setiap kelompok kemudian menentukan stakeholder prioritas sekaligus menyusun strategi pendekatan yang dianggap paling realistis.

Kemampuan tersebut semakin diasah melalui Stakeholder & SnD Mapping. Peserta melakukan roleplay sebagai perwakilan destinasi wisata yang sedang mencari mitra.

Mereka ditantang menyusun short pitch yang menjelaskan tujuan kolaborasi, pesan utama, metode komunikasi, serta bentuk dukungan yang ingin ditawarkan.

Sesi ini memberikan pengalaman kepada EPs dan LVs untuk menyesuaikan cara komunikasi dengan karakteristik stakeholder yang berbeda. Peserta tidak hanya dituntut memiliki ide, tetapi juga mampu menjelaskan alasan sebuah kolaborasi perlu dilakukan dan manfaat yang dapat diberikan kepada masing-masing pihak.

baca juga

Selanjutnya, peserta mendapatkan pembekalan mengenai Developing a Partnership Strategy and Proposal. Mereka mempelajari bagaimana menentukan stakeholder yang relevan, menyusun valueproposition, memilih metode komunikasi yang tepat, hingga membuat rancangan awal proposal kerja sama.

Pembelajaran kemudian diterapkan secara langsung melalui Partnership Sales Meeting Roleplay. Dalam simulasi tersebut, peserta dibagi menjadi dua pihak, yaitu tim partnership dan calon stakeholder.

Mereka menjalankan proses diskusi mulai dari pembukaan, menggali kebutuhan, menyampaikan valueproposition, menjawab pertanyaan maupun keberatan, hingga melakukan negosiasi dan menentukan langkah tindak lanjut.

Rangkaian pembelajaran utama ditutup dengan Group Presentation & Feedback. Setiap kelompok mempresentasikan lima stakeholder pilihan beserta alasan pemilihan, kebutuhan yang ingin dijawab, serta strategi partnership yang dirancang.

Peserta kemudian memperoleh masukan mengenai relevansi stakeholder, kelayakan strategi, kekuatan value proposition, dan efektivitas pendekatan yang digunakan.

Setelah sesi utama, peserta mengikuti waktu istirahat sebelum kembali berinteraksi melalui permainan ABC 5 Dasar. Acara dilanjutkan dengan sesi Get to Know What is Asar Humanity, yang memperkenalkan ASAR Humanity kepada EPs, LVs, OCs, dan members sebagai bagian dari rangkaian kegiatan hari tersebut.

Menjelang akhir acara, EPs dan LVs memasuki Working Time untuk berdiskusi dan mempersiapkan materi yang akan digunakan dalam kegiatan penyuluhan bersama komunitas PKK Cempaka Putih.

Sesi ini memberikan ruang bagi peserta untuk mengolah kembali pembelajaran yang telah diperoleh dan mempersiapkan kontribusi mereka untuk agenda berikutnya.

Salah satu peserta mengungkapkan bahwa sesi praktik membuat pembelajaran mengenai partnership terasa lebih nyata.

“Menurut saya, bagian roleplay paling membantu karena kami jadi bisa merasakan bagaimana rasanya menawarkan sebuah kerja sama secara langsung. Ternyata bukan hanya soal punya ide, tetapi kita juga harus memahami kebutuhan pihak yang ingin diajak bekerja sama,” ujar Rahma, salah satu peserta.

Peserta lainnya menilai bahwa kegiatan tersebut memberikan perspektif baru mengenai cara mengembangkan sebuah destinasi wisata.

“Saya jadi belajar bahwa untuk mengembangkan pariwisata, kita tidak bisa hanya melihat apa yang kurang, tetapi juga harus tahu siapa yang bisa diajak berkolaborasi dan bagaimana cara menyampaikan ide kita dengan tepat,” ungkap Keyla.

Melalui TourismChangemakers: OutreachingStrategyforSustainableTourism, AIESEC in UIN Jakarta memberikan ruang bagi EPs dan LVs untuk mengembangkan kemampuan analisis, komunikasi, negosiasi, dan partnership building melalui situasi yang menyerupai konteks nyata.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan GlobalVolunteer dalam mendorong peserta untuk tidak hanya mengenali potensi dan tantangan komunitas, tetapi juga belajar merancang kolaborasi yang dapat mendukung terciptanya pariwisata yang lebih berkelanjutan

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.