Pernahkah Kawan merasa sangat takut ditolak, selalu merasa kurang meski sudah berprestasi, sulit percaya orang, dan perasaan negatif lainnya? Namun, dalam dunia psikologi, kondisi ini bisa jadi berakar dari satu hal yang jarang dibicarakan secara terbuka seperti father wound.
Menurut Fransiska Xaveria Aryani, M.Psi, Psikolog, mengatakan father wound adalah bentuk luka atau trauma emosional yang dialami seseorang akibat dinamika hubungannya dengan figur ayah. Luka ini biasanya terbentuk sejak masa kanak-kanak hingga remaja.
Meski kejadiannya sudah lama berlalu, bekasnya bisa bertahan hingga dewasa dan secara tak sadar memengaruhi pembentukan identitas diri, rasa keberhargaan diri (self-worth), hingga cara kita berhubungan dengan orang lain.
Luka ini tidak selalu muncul dari sosok ayah yang jahat. Penyebabnya sangat beragam, di antaranya:
- Ketidakhadiran fisik: Ayah yang tidak ada karena perceraian, meninggal dunia, penelantaran, atau bekerja jauh dalam jangka waktu lama.
- Keterbatasan emosional (Emotional Unavailability): Ayah hadir di rumah dan memenuhi kebutuhan finansial, namun bersikap dingin, berjarak, dan tak pernah hadir secara emosional.
- Kekerasan atau trauma: Mengalami tindakan kekerasan fisik, verbal, emosional, maupun seksual.
- Kurang terlibat secara konsisten: Janji-janji yang tak ditepati atau ketidakhadiran dalam momen penting yang merusak rasa percaya anak.
- Pola asuh perfeksionis dan conditional love: Kasih sayang yang hanya diberikan jika anak berprestasi atau memenuhi ekspektasi tertentu.

"Ciri yang sering tak disadari seperti, takut ditolak berlebihan, merasa tidak pernah cukup baik, kesulitan percaya pada laki-laki atau figur otoritas, menjadi people-pleaser, hingga bergantung pada validasi luar" ujar Fransiska Xaveria Aryani, M.Psi. Psikolog saat dihubungi melalui zoom.
Luka emosional ini memicu dampak jangka pendek maupun panjang. Seseorang yang mengalami father wound cenderung memiliki self-esteem dan kepercayaan diri yang rendah.
Ketika terjadi masalah, mereka sering menyalahkan diri sendiri dan menganggap semua adalah kesalahan mereka.
Fransiska juga menambahkan bawha rasa tidak aman akan berlanjut menjadi kecemasan berlebih, suasana hati negatif, bahkan risiko depresi. Dalam hubungan sosial dan asmara, mereka kerap kesulitan menentukan batasan diri bisa menjadi sangat kaku atau justru terlalu longgar.
Tak jarang, secara tidak sadar seseorang justru tertarik pada pasangan yang memiliki sifat mirip ayahnya, seperti pasangan yang dingin atau verbal abusive.
Bagi seorang laki-laki yang mengalami father wound dan tidak pernah berusaha memulihkan lukanya, pola pengasuhan yang sama kemungkinan besar akan terulang kepada anaknya kelak. Namun, rantai trauma ini bisa diputus.
Langkah Memutus Rantai Trauma (Healing Step):
- Sadar dan Berdamai: Menyadari trauma yang ada dan belajar menerima pengalaman tersebut sebagai bagian dari perjalanan hidup tanpa harus menyalahkan diri sendiri.
- Mencintai Diri Sendiri: Belajar menerima kekurangan dan menghargai keberadaan diri sendiri secara utuh.
- Penuhi Kebutuhan Emosional: Mengidentifikasi apa yang dulu tidak didapatkan saat kecil dan berusaha memenuhinya secara mandiri dan sehat.
- Bantuan Profesional: Jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog atau konselor untuk
membantu memproses trauma secara tepat.
Bisa Terjadi Meski Ayah Terlihat "Baik-Baik Saja"
Menariknya, seseorang yang merasa ayahnya tidak bermasalah pun tetap bisa menurunkan father wound kepada anaknya. Mengapa? Karena father wound bukan hanya soal perilaku nyata sang ayah, melainkan juga bagaimana persepsi dan penerimaan anak terhadap perilaku tersebut.
Dengan membangun kesadaran emosional sejak dini, kita bisa menghentikan lingkaran ini agar generasi berikutnya tumbuh lebih sehat dan bahagia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

