India, Nigeria, Vietnam, hingga Brazil. Ketika kita mendengar nama-nama tersebut, mungkin tanpa sadar kita sudah memiliki gambaran tertentu di kepala. Entah tentang makanan, pakaian, bahasa, musik, bahkan seperti apa orang-orangnya.
Kemudahan akses informasi sering kali mendorong kita untuk mengenal sebuah negara melalui potongan-potongan informasi yang kemudian perlahan berubah menjadi sebuah kesimpulan.
“Oh, orang India sukanya seperti ini.”
“Orang Nigeria biasanya begitu.”
“Kalau dari negara ini, pasti…”
Label-label semacam itu memang terdengar sederhana. Ia sering membuat sesuatu yang asing menjadi lebih mudah untuk dipahami.
Namun, ketika kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa seseorang hanya berasal dari tempat asalnya, akan ada banyak cerita yang akhirnya tidak pernah kita dengar. Karena, seseorang tidak pernah sesederhana sebatas nama negara yang tertulis di paspornya.
Hal tersebut menjadi salah satu pengalaman yang dapat ditemukan dalam Global Village 2026 bertemakan “The Journey Painted in Canvas: United Every Mosaic Piece of Culture,” yang diselenggarakan oleh AIESEC in UNS pada 5 Agustus 2026 lalu.
Di kegiatan tersebut, peserta dipertemukan dengan Exchange Participants dari berbagai negara, seperti Vietnam, Brazil, India, Nigeria, Pakistan, Bangladesh, Myanmar, hingga Portugal.
Lebih dari sekadar memperkenalkan budaya dari berbagai negara, pertemuan tersebut memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat masyarakat asli di balik budaya yang selama ini mungkin hanya mereka kenal dari informasi singkat di internet.
Di satu sisi, peserta dapat menemukan berbagai hal yang identik dengan negara tertentu melalui country booths. Di sana para Exchange Participants menawarkan makanan, permainan, cerita, hingga berbagai pernak-pernik yang khas dengan tradisi masing-masing negara.
Namun, pengalaman tersebut tidak berhenti ketika peserta selesai melihat-lihat booth. Hal sederhana seperti bertanya mengenai makanan, asal daerah, tradisi, atau kehidupan sehari-hari dapat mengubah cara seseorang memandang budaya yang sebelumnya terasa asing. Negara yang semula hanya berupa nama di peta perlahan memiliki wajah, suara, hingga cerita.
Pengalaman tersebut juga terasa melalui rangkaian international performances. Para Exchange Participants membawa budaya mereka melalui musik, tarian, dan pakaian tradisional yang mereka tampilkan di hadapan peserta.
Dengan sekitar 400 pemuda yang hadir, Global Village menjadi ruang pertemuan bagi orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa rasa ingin tahu terhadap budaya asing masih menjadi sesuatu yang dekat dengan generasi muda.
Bagi AIESEC in UNS, keberagaman tidak seharusnya berhenti pada kemampuan untuk menyebutkan berapa banyak negara yang kita tahu.
Pemahaman mengenai budaya asing justru mulai tumbuh ketika kita bersedia untuk mendengarkan seseorang tanpa terburu-buru memasukkannya ke dalam sebuah kategori atau label.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu berhenti menggunakan label dalam upaya mengenal budaya asing. Namun, kita perlu belajar untuk tidak menjadikannya sebagai acuan bahkan batas dalam memahami seseorang.
Karena setelah bertemu dan berbicara langsung, kita mungkin menyadari bahwa orang yang sebelumnya hanya kita kenal sebagai ‘orang dari India’ ternyata memiliki selera humor, cerita, makanan favorit, dan kepribadian yang sama uniknya dengan kita.
Dan di situlah perjalanan dari stereotip menuju rasa ingin tahu, dari rasa ingin tahu menuju percakapan, hingga akhirnya pemahaman benar-benar dimulai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


