ada fosil laut purba di atas bukit perbukitan bayat di klaten bakal jadi destinasi geopark terbaru - News | Good News From Indonesia 2026

Ada Fosil Laut Purba di Atas Bukit, Perbukitan Bayat di Klaten Bakal Jadi Destinasi Geopark Terbaru

Ada Fosil Laut Purba di Atas Bukit, Perbukitan Bayat di Klaten Bakal Jadi Destinasi Geopark Terbaru
images info

Dok. Venus (Google Maps)


Masyarakat Jawa Tengah sebentar lagi punya Geopark baru di Kabupaten Klaten. Pemerintah Kabupaten Klaten sedang menata kawasan perbukitan purba di Kecamatan Bayat untuk dijadikan destinasi wisata berbasis taman bumi.

Kawasan ini menyuguhkan pengalaman wisata yang berbeda. Pengunjung bukan cuma melihat pemandangan hijau khas pedesaan, tetapi juga menyusuri jejak dasar lautan purba yang terangkat ke permukaan bumi puluhan juta tahun lalu.

Di antara pemukiman dan lahan pertanian warga, tersembunyi 15 titik batuan tua. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Bukit Wungkal di Kecamatan Wedi.

Ada juga Desa Jarum yang menyimpan struktur Lava Bantal. Batuan beku ini terbentuk sewaktu lelehan lahar panas menyentuh air laut purba dan membeku seketika. Untuk yang mau mandi, ada Umbul Brondong di Kebonarum, sumber mata air alami yang keluar langsung dari celah retakan geologi tanah.

 

 

 

 

Geopark Klaten dan Apa yang Tersimpan di Dalamnya

Geopark bukan kawasan wisata biasa. Konsepnya menggabungkan tiga hal sekaligus, konservasi warisan geologi, edukasi ilmu kebumian, dan pembangunan ekonomi masyarakat sekitar. UNESCO mengakui model pengelolaan ini sebagai pendekatan yang berkelanjutan, dan sejumlah kawasan di Indonesia sudah masuk dalam jaringan globalnya.

Geopark Klaten dibangun di atas tiga warisan yang saling bertautan. Warisan geologi dari aktivitas vulkanik Gunung Merapi dan proses tektonik jutaan tahun lalu. Warisan hayati dari ekosistem yang tumbuh di atas tanah vulkanik yang subur.

Dan warisan budaya dari masyarakat yang sudah lama hidup berdampingan dengan bentang alam ini, memanfaatkan sumber air, mengolah lahan, dan meninggalkan jejak berupa candi dan situs budaya lainnya.

Kawasan ini mencakup 15 objek. Tiga belas berada di Bayat, satu situs fosil di Bukit Wungkal, Wedi, dan satu mata air unik bernama Umbul Brondong di Kebonarum. Kawasan utamanya adalah Perbukitan Jiwo dengan Rawa Jombor seluas 14,5 hektar di Jiwo Barat yang sudah lebih dulu dimanfaatkan untuk wisata perahu.

Informasi pertama tentang geologi Perbukitan Jiwo ditulis oleh Bothe pada 1929. Peneliti-peneliti berikutnya terus melanjutkan pemetaan itu. Sumosusastro pada 1956 memberikan gambaran rinci tentang geologi bagian timur perbukitan.

Di Bukit Wungkal, ada fosil bernama Nummulites. Bentuknya seperti koin pipih, dan usianya jauh melampaui peradaban mana pun yang pernah berdiri di Pulau Jawa. Fosil itu adalah sisa organisme laut yang kini terdiam di atas bukit.

Bukan hanya Bukit Wungkal. Di Perbukitan Jiwo yang terbelah Sungai Dengkeng menjadi dua bagian, Jiwo Barat dan Jiwo Timur, tersimpan batuan metamorf yang usianya diperkirakan mencapai 98 juta tahun.

Hal yang istimewa dari adalah kelangkaannya. Batuan jenis ini hanya muncul ke permukaan di tiga titik di seluruh Pulau Jawa. Pertama di Bayat sendiri, kedua di Karangsambung, Kebumen, dan ketiga di Ciletuh, Sukabumi. Karangsambung dan Ciletuh sudah lebih dulu diakui sebagai geopark nasional. Bayat sedang berjalan ke arah yang sama.

Singkapan batuan itu tersebar di permukaan Perbukitan Jiwo, sebagian terungkap karena aktivitas sehari-hari warga sekitar, dari pembuatan jalan, kebun, hingga halaman rumah.

 

Status Baru, Peluang Baru

Kementerian ESDM kini resmi menetapkan situs-situs geologi di Klaten sebagai Kawasan Cagar Alam Geologi melalui SK Nomor 306.K/GL.01/MEM.G/2026. Dokumen itu diserahkan langsung kepada Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo di Ruang Badan Anggaran DPRD Klaten.

Pengusulan kawasan Bayat sebagai geoheritage sudah dimulai sejak 2020. Kabid Litbang Bappedalitbang Klaten Muhammad Umar Said menjelaskan bahwa setiap titik geoheritage yang diusulkan sudah dikondisikan dengan persetujuan pemilik lahan, baik masyarakat, Perhutani, maupun kepala desa setempat.

Di saat yang sama, tekanan terhadap kawasan ini juga terus berjalan. Sejumlah bukit di Bayat sudah ditambang secara tradisional selama puluhan tahun. Peneliti S.S. Surjono dan M. Datun pada 2010 memperingatkan bahwa jika eksploitasi batu gamping miosen terus berlangsung tanpa perlindungan di titik-titik tertentu, data geologi penting yang berkaitan dengan sedimentologi, stratigrafi, dan geologi struktural akan hilang selamanya.

Status KCAG memberi dasar hukum untuk mulai menahan laju itu, sekaligus membuka jalan bagi pengembangan geowisata.

 

Ketika Batu Tua Bisa Jadi Penghidupan

Karangsambung dan Ciletuh memberikan gambaran tentang apa yang mungkin terjadi di Bayat. Di kedua kawasan itu, status geopark tidak berhenti di papan nama. Ia membawa peneliti, wisatawan minat khusus, pelajar, dan rombongan edukasi yang semuanya butuh makan, menginap, dan jasa pemandu lokal.

Bayat punya modal yang tidak kalah. Perbukitan Jiwo sudah lama jadi tujuan peneliti geologi. Rawa Jombor di Jiwo Barat sudah dikenal sebagai destinasi wisata air. Umbul Brondong di Kebonarum menawarkan mata air dengan karakter yang berbeda dari sumber air pada umumnya.

Ditambah potensi wisata alam dan budaya di sekitar kawasan Bayat, ada cukup alasan bagi pengunjung untuk datang.

Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo menyebut penetapan ini sebagai tambahan energi bagi Pemkab untuk melanjutkan proses pengembangan kawasan.

"Geoparknya semoga segera terwujud sehingga bisa menjadi sebuah kawasan wisata baru minat khusus geologi yang kemudian bisa menimbulkan multiple effect bagi peningkatan perekonomian masyarakat," katanya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.