apem yaqowiyu jejak dakwah ki ageng gribig yang mengakar di jatinom - News | Good News From Indonesia 2026

Apem Yaqowiyu Jatinom Klaten, Jejak Dakwah Ki Ageng Gribig yang Mengakar di Kota Bersinar

Apem Yaqowiyu Jatinom Klaten, Jejak Dakwah Ki Ageng Gribig yang Mengakar di Kota Bersinar
images info

Apem Yaqowiyu, Jejak Dakwah Ki Ageng Gribig yang Mengakar di Jatinom | Tochukwu Ekeh via Pexels


Bagi sebagian orang, apem mungkin hanya jajanan pasar biasa. Namun di Jatinom, Klaten, kue ini punya cerita yang lebih bermakna yang khas disebut dengan apem yaqowiyu.

Setiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa, masyarakat Jatinom berkumpul dalam tradisi Yaqowiyu. Puluhan ribu apem dikumpulkan, disusun menjadi gunungan, lalu dibagikan kepada masyarakat.

Tradisi tersebut telah berlangsung selama ratusan tahun. Pada 2026, Sedekah Apem Yaqowiyu bahkan disebut telah berusia lebih dari 400 tahun, jika dihitung dari masa awal Ki Ageng Gribig menyedekahkan apem kepada masyarakat Jatinom.

Dari Tiga Apem yang Dibawa dari Tanah Suci

Cerita tentang apem Yaqowiyu tidak bisa dilepaskan dari sosok Ki Ageng Gribig, seorang ulama yang dikenal sebagai penyebar Islam di kawasan Jatinom, sekaligus keturunan Raja Brawijaya V.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, setelah menunaikan ibadah haji, Ki Ageng Gribig membawa tiga buah apem dari Tanah Suci. Setibanya di Jatinom, apem tersebut dibagikan kepada masyarakat yang datang menemuinya. Masalahnya, tiga apem tentu tidak cukup untuk dibagikan kepada semua orang.

Dari sinilah tradisi ini bermula. Ki Ageng Gribig kemudian memanjatkan doa dengan mengucapkan “Yaa Qowiyyu”, yang berarti “Wahai Tuhan Yang Maha Kuat”. Setelah itu, adonan apem yang tersisa dibuat lebih banyak agar dapat dibagikan kepada masyarakat.

Kisah tersebut kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Menurut catatan yang ada, awal tradisi sedekah apem yaitu pada tahun 1541 Saka atau 1619 Masehi.

baca juga

Mengapa Harus Apem?

Ada alasan mengapa kue yang dipilih dalam tradisi ini adalah apem. Dalam pemaknaan yang berkembang dalam tradisi tersebut, kata apem kerap dikaitkan dengan kata Arab affuan atau afuwun, yang berarti ampunan. Karena itu, apem dimaknai sebagai simbol permohonan ampunan kepada Tuhan.

Makna tersebut kemudian bertemu dengan praktik sedekah. Apem tidak disimpan untuk dinikmati sendiri, melainkan dibuat dalam jumlah banyak untuk dibagikan kepada orang lain.

Di sinilah cerita tentang apem Yaqowiyu menjadi lebih dari sekadar cerita tentang sebuah makanan.

Sebutir apem menjadi pengingat tentang berbagi. Masyarakat membuatnya, menyumbangkannya, kemudian menyerahkannya untuk dibagikan kembali kepada orang-orang yang datang ke Jatinom.

Bentuknya pun sederhana, apem Yaqowiyu biasanya dibuat dengan ukuran kecil, berwarna putih, dan dibuat dari bahan seperti beras serta santan. 

Setiap Sapar, Jatinom Kembali Dipenuhi Apem Yaqowiyu

Dilansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Klaten, Tradisi Yaqowiyu dilaksanakan setiap tahun pada bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Puncaknya ditandai dengan prosesi sebar apem yang menjadi bagian paling ramai dari rangkaian perayaan.

Masyarakat tidak tiba-tiba membawa puluhan ribu apem pada hari pelaksanaan. Sebelumnya, warga telah membuat dan mengumpulkan apem untuk disumbangkan dalam tradisi tersebut.

tradisi saparan sebar apem yaqowiyu di jatinom klaten
info gambar

tradisi saparan sebar apem yaqowiyu di jatinom klaten


Apem yang dikumpulkan pada tradisi ini bisa menyampai ratusan ribu apem. Apem yang sudah terkumpul kemudian dijadikan gunungan. Setelah rangkaian acara berlangsung, gunungan apem dibawa ke lokasi pelaksanaan, yaitu di Kompleks Makam Ki Ageng Gribig dan Masjid Agung Jatinom. 

Apem kemudian disebar dari atas menara sambil mengucap “Yaa Qowiyyu” dengan harapan bahwa orang yang mendapatkan apem tersebut akan pulang dengan membawa berkah, kekuatan, dan keberuntungan. 

Selain sebar apem, tradisi ini juga diisi dengan kegiatan budaya, pertunjukkan seni tradisional hingga ziarah ke makam Ki Ageng Gribig.

Selama ratusan tahun, tradisi Yaqowiyu terus dilaksanakan di Jatinom. Kini, sebar apem tidak hanya menjadi bagian dari perayaan keagamaan dan budaya, tetapi juga menjadi salah satu tradisi yang lekat dengan identitas Jatinom.

baca juga

 

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Amanda Jingga Rambadani lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Amanda Jingga Rambadani.

AJ
MS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.