Jakarta, Tahun 1994. Malam itu, di sebuah panggung seni di Jakarta, seorang kiai berpeci hitam membaca puisi. Ia tidak berteriak. Tidak menggertak. Suaranya lirih. Hampir seperti bisikan. Namun, setiap kata yang keluar dari mulutnya menusuk ruang-ruang paling dalam dari kesadaran bangsa:
“Kau bilang aku merdeka,
kau memilihkan untukku segalanya.
Kau suruh aku berpikir,
aku berpikir kau tuduh aku kafir…”
Ruangan hening. Para aktivis, seniman, dan mahasiswa yang hadir menahan napas. Mereka tidak sedang mendengar orasi politik. Mereka sedang menyaksikan sebuah bentuk perlawanan yang tak pernah mereka kenal sebelumnya: perlawanan melalui kelembutan, protes melalui puisi, sanggahan melalui senyuman.
Baca Seutuhnya: Catatan Pinisepuh Jurnaba, Ahmad Rofi’ Usmani
Di sanalah, di atas panggung-panggung seni yang sunyi itu, Gus Mus–K.H. Ahmad Mustofa Bisri–menempatkan dirinya pada posisi yang paling tidak terduga. Seorang kiai kondang, putra pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, cucu ulama Rembang, kini menjadi pensyair protes yang puisinya dibacakan di kampus-kampus, di diskusi-diskusi LSM, dan di dalam sel-sel tahanan politik Orde Baru.
Baca Selengkapnya

