Di tengah Kota Klungkung, tepat di depan Kantor Bupati, ada sebuah kompleks yang sudah berdiri selama lebih dari tiga abad. Kerta Gosa adalah sisa dari Keraton Semarapura, pusat kekuasaan Kerajaan Klungkung yang dibangun sekitar tahun 1700 Masehi oleh Raja I Dewa Agung Jambe.
Kata "kerta" dalam bahasa Sansekerta berarti keadilan atau kebaikan, dan "gosa" berarti diumumkan atau didiskusikan. Sesuai namanya, tempat ini berfungsi selama ratusan tahun sebagai mahkamah agung kerajaan, di mana raja dan para hakim Brahmana duduk bersidang memutuskan perkara-perkara hukum.
Yang paling menarik dari bangunan ini bukan gedung peradilannya sendiri, melainkan apa yang ada di langit-langitnya.
Ratusan panel lukisan bergaya wayang Kamasan menutupi seluruh plafon Bale Kerta Gosa, menggambarkan kisah Bhima Swarga, yaitu epik tentang perjalanan Bhima ke surga dan neraka untuk menyelamatkan jiwa orang tuanya. Bagi para terdakwa yang duduk di bawah sidang, melihat ke atas berarti melihat gambaran hukuman yang menanti di akhirat bagi mereka yang bersalah.
Bagi Kawan GNFI yang menjelajahi Bali Timur, Kerta Gosa adalah destinasi yang memberikan pemahaman tentang Bali dari sisi peradaban kerajaan dan seni tradisionalnya, bukan hanya pantai dan pura.
Sekilas Mengenai Kerta Gosa
Keraton Semarapura yang menjadi induk kompleks ini dibangun pada 1686 oleh Ida I Dewa Agung Jambe, raja pertama Kerajaan Klungkung. Kerta Gosa sebagai salah satu bangunan utamanya diperkirakan selesai sekitar 1700 M, berdasarkan angka tahun yang terpahat dalam Candra Sengkala di Pemedalan Agung (pintu utama).
Kerajaan Klungkung adalah kerajaan yang paling dihormati di Bali pada masa itu, karena keturunan langsung raja-rajanya berasal dari Majapahit dan dianggap memiliki otoritas spiritual tertinggi di antara kerajaan-kerajaan Bali lainnya.
Fungsi Kerta Gosa sebagai pengadilan tertinggi berlanjut bahkan setelah Belanda menyerang Klungkung pada 1908 dalam Perang Puputan Klungkung. Pada 1909, Belanda justru meresmikan Kerta Gosa sebagai pengadilan resmi wilayah Klungkung, sehingga bangunan ini terus digunakan sebagai tempat peradilan hingga tahun 1942.
Lukisan di langit-langitnya mengalami beberapa kali pembaruan. Catatan tertua yang diketahui berasal dari 1842, kemudian dilukis ulang pada 1918, 1933, dan 1963, dengan perbaikan panel individual pada 1980-an dan 1990-an.
Seniman-seniman terkemuka dari Desa Kamasan seperti Kaki Rambut, Pan Seken, Mangku Mura, dan Nyoman Mandra turut berkontribusi atas pengecatan ulang di abad ke-20.
Daya Tarik Utama Kerta Gosa
Kompleks Taman Kerta Gosa terdiri dari beberapa elemen yang masing-masing punya nilai tersendiri.
Bale Kerta Gosa adalah bangunan utama yang paling banyak menarik perhatian. Paviliun terbuka bertingkat ini berdiri di atas kolam yang tenang dan dikelilingi taman yang terawat. Di sinilah ratusan panel lukisan Kamasan memenuhi seluruh langit-langit dalam susunan yang bisa "dibaca" layaknya sebuah cerita bersambung.
Kisah Bhima Swarga menempati lima baris plafon dan dibaca searah jarum jam mulai dari sudut timur laut. Selain Bhima Swarga, terdapat pula kisah Tantri, kisah Garuda, dan panel yang menggambarkan pertanda gempa bumi yang disebut Palindon. Di tengah langit-langit, sebuah motif lotus dikelilingi empat burung merpati melambangkan keberuntungan dan pencerahan.
Tidak jauh dari Bale Kerta Gosa, terdapat Bale Kambang yang berdiri di atas kolam besar berisi ikan dan teratai. Bangunan ini dulunya digunakan sebagai tempat beristirahat dan rekreasi keluarga kerajaan. Arsitekturnya mencerminkan konsep mandala dalam kosmologi Hindu-Bali, dan ornamen yang menghiasinya tidak kalah kaya dari bangunan utama.
Di sisi barat kompleks terdapat Museum Semarajaya yang menyimpan koleksi peninggalan Kerajaan Klungkung. Di sini tersimpan benda-benda prasejarah, senjata yang digunakan dalam Perang Puputan Klungkung 1908, foto-foto raja, serta berbagai artefak kerajaan lainnya. Tiket masuk museum ini sudah termasuk dalam tiket Kerta Gosa.
Akses Menuju Kerta Gosa
Kerta Gosa berada di Jalan Kenanga No. 11, Semarapura Kelod, Klungkung, tepat di pusat Kota Klungkung dan bersebelahan dengan Kantor Bupati Klungkung. Lokasinya sangat mudah ditemukan karena berada di persimpangan utama kota.
Dari Denpasar, perjalanan menuju Klungkung membutuhkan waktu sekitar 45 hingga 60 menit menggunakan kendaraan pribadi melalui jalur Bypass Ngurah Rai dilanjutkan Jalan Raya Klungkung. Dari kawasan Sanur atau Ubud, waktu tempuhnya lebih singkat, sekitar 30 hingga 40 menit. Kerta Gosa juga sering menjadi bagian dari paket wisata Bali Timur yang menggabungkan kunjungan ke Klungkung, Padangbai, dan Candidasa.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Kerta Gosa buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WITA. Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hari sebelum pukul 10.00 untuk menghindari keramaian dan panas siang hari.
Tiket masuk untuk wisatawan domestik dewasa Rp25.000 dan anak-anak Rp15.000. Untuk wisatawan mancanegara dewasa Rp50.000 dan anak-anak Rp25.000. Harga tiket sudah termasuk sarung dan selendang yang wajib dikenakan sebelum memasuki area taman, serta akses ke Museum Semarajaya.
Fasilitas yang tersedia di kawasan ini meliputi area parkir, toilet umum, kios suvenir, dan pemandu wisata yang bisa disewa di lokasi untuk penjelasan lebih mendalam tentang koleksi lukisan dan sejarah kerajaan.
Ayo Berkunjung ke Kerta Gosa!
Kerta Gosa adalah salah satu destinasi wisata budaya di Bali yang paling padat informasinya dalam area yang relatif kecil.
Datanglah pagi hari, minta pemandu untuk menjelaskan urutan kisah di langit-langit, dan luangkan waktu di Museum Semarajaya sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali Timur. Kawan GNFI yang tertarik pada seni dan sejarah Bali akan mendapati bahwa kunjungan ke sini jauh lebih berkesan dari yang dibayangkan sebelumnya!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


