Kegagahan Timnas Indonesia di ASEAN Championship jelas bukan kabar baik. Kendati demikian, di baliknya ada pelajaran penting bagi sepak bola negeri ini: perlunya untuk terus berproses, apalagi jika ingin menuju panggung dunia.
Timnas Indonesia kandas di babak penyisihan grup ASEAN Championship atau yang juga dikenal sebagai Piala AFF 2026. Hasil imbang 1-1 dengan Singapura yang didapat di Stadion Jalan Besar pada Jumat (7/8/2026) jadi akhir perjalanan Garuda dalam persaingan dengan negara-negara tetangga kali ini.
Secara jujur, perlu dikatakan permainan Timnas Indonesia jauh dari memuaskan. Tanda-tandanya sudah terlihat sejak laga kontra Timor Leste pada Jumat (31/7/2026) di mana para pemain kesulitan mencetak gol dan baru bisa memecah kebuntuan saat waktu menuju menit-menit akhir. Kemudian saat menghadapi Vietnam pada Senin (3/8/2026), Timnas Indonesia malah jadi bulan-bulanan di kandang sendiri.
Padahal, di atas kertas materi pemain Timnas Indonesia bisa dibilang lebih dari cukup. Sebagian besar pemain yang dipakai Pelatih John Herdman memang berasal dari liga domestik Tanah Air, namun banyak di antaranya adalah nama-nama top yang memang sudah menjadi langganan Timnas Indonesia. Ditambah lagi, ada belasan pemain diaspora jebolan Eropa.
Dengan skuad seperti demikian, apa yang tampak di atas lapangan jauh dari ekspektasi. Di hadapan Vietnam, koordinasi lini belakang Timnas Indonesia sangat buruk yang diperparah ketidakmampuan kiper mengantisipasi serangan dengan baik. Sementara itu, lini tengah dan depan juga tidak mampu mengembangkan permainan. Hal ini terulang dalam laga kontra Singapura, bahkan lebih parah hingga tim tuan rumah mencuri gol dengan cara yang terbilang konyol akibat blunder pemain Indonesia.
Semua itu terjadi di tengah menggebunya ambisi Indonesia untuk lolos ke Piala Dunia 2030. Bahkan, target itu datang langsung dari kepala negara yang tampak amat ngebet melihat negaranya ikut memperebutkan trofi Jules Rimet.
Satu hal yang agaknya terlupakan: Indonesia masih perlu berproses untuk mencapai Piala Dunia, dan kegagalan di Piala AFF 2026 menunjukkan jika proses itu harus dilalui bertahap.
Pembinaan dan Liga Jadi Kunci
Saat Piala Dunia 2030 jadi ambisi, Timnas Indonesia belum pernah juara di ASEAN. Sejak era Piala Tiger hingga kini bernama ASEAN Championship, pencapaian Timnas Indonesia paling mentok adalah runner-up.
Selain ASEAN Championship, mulai tahun ini hadir pula FIFA ASEAN Cup. Jika Timnas Indonesia di ASEAN Championship berisikan pemain yang sebagian besarnya bermain di klub lokal, maka di ASEAN Cup nanti pemain-pemain yang berkiprah di Eropa bisa ikut serta karena turnamen tersebut masuk ke dalam agenda resmi FIFA.
Di level Asia, Timnas Indonesia menorehkan pencapaian apik pada 2023 dengan lolos ke babak 16 besar Piala Asia untuk pertama kalinya. Tahun depan, saat Piala Asia digelar lagi di Arab Saudi, Timnas Indonesia perlu membuktikan kemampuannya untuk melaju lebih jauh.
Menjadi yang terbaik di ASEAN dan diakui sebagai salah satu kekuatan utama di Asia adalah bagian dari proses menuju Piala Dunia yang diidam-idamkan. Apa yang dibutuhkan sekarang agar Timnas Indonesia bisa menjalani proses itu dengan baik? Jawabannya sebetulnya sudah sering kita dengar: utamanya adalah pembinaan pemain dan kompetisi lokal yang berkualitas. Hanya saja, kita mungkin lupa karena sibuk berkhayal tentang Piala Dunia.
Untuk pembinaan pemain, langkah PSSI sudah tepat dengan menjalankan Elite Pro Academy (EPA) sebagai sistem kompetisi liga sepak bola usia muda. Ada pula aturan di liga yang mewajibkan klub mendaftarkan minimal 5 pemain berusia di bawah 23 tahun. Hanya saja, perlu diingat bahwa pembinaan tidak bisa instan. Hasilnya baru bisa dirasakan dalam jangka menengah dan panjang.
Untuk peningkatan kualitas kompetisi lokal, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan. Apalagi, liga Indonesia memang tak bagus-bagus amat. Di AFC Club Competition Ranking, peringkat liga Indonesia hanya berada di urutan 20, lebih rendah dari Thailand, Vietnam, Singapura, bahkan Kamboja.
Pertanyaan kritis mengenai kualitas liga Indonesia juga mengemuka di tengah publik seiring dengan ramainya pemain diaspora yang tak lagi berkiprah di Eropa dan bergabung dengan klub Indonesia. Tidak lama setelah fenomena tersebut muncul, terjadilah kemerosotan performa Timnas Indonesia. Maklum saja, ini jauh berbeda dengan penampilan Timnas Indonesia di FIFA Series pada Maret serta FIFA Matchday edisi Juni 2026 lalu yang turun full team dengan diperkuat pemain-pemain yang berkiprah di Eropa.
Membangun tim nasional yang kuat lewat menggenjot pembinaan dan meningkatkan kualitas liga bukanlah hal baru, melainkan sudah jadi formula standar di berbagai negara. Jepang adalah contoh terbaik di mana mereka mencanangkan program ambisius "Visi 100 Tahun" yang dicetuskan pada 1990-an. Liga profesional dibentuk dan terus diperbaiki, pembinaan usia dini juga konsisten dijalankan melalui sekolah.
Hasilnya bisa kita lihat bersama. Jepang adalah penguasa Asia dengan banyak pemain yang malang melintang di klub beken Eropa. Liganya juga jadi yang terbaik kedua di Asia.
Pada 1992, Jepang untuk pertama kalinya juara Dynasty Cup dan Piala Asia, yang menegaskan posisi mereka sebagai penguasa Asia Timur sekaligus Asia secara keseluruhan. Enam tahun berselang, Jepang tampil di Piala Dunia untuk yang pertama kalinya dan kini mereka menargetkan juara pada 2050. Prosesnya jelas, bermula dari level regional dan benua, Jepang naik level ke panggung dunia.
Sekali lagi perlu diingat, Timnas Indonesia belum juara di ASEAN, belum juga jadi jagoan di Asia. Kegagalan di ASEAN Championship 2026 sudah selayaknya menyadarkan kita bahwa langkah menuju panggung dunia masih sangat panjang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


