siklus hijau langkah mahasiswa kknt ipb ubah limbah peternakan jadi pupuk organik - News | Good News From Indonesia 2026

Siklus Hijau, Langkah Mahasiswa KKNT IPB Ubah Limbah Peternakan Jadi Pupuk Organik

Siklus Hijau, Langkah Mahasiswa KKNT IPB Ubah Limbah Peternakan Jadi Pupuk Organik
images info

Mahasiswa KKN-T IPB University bersama peserta Program Siklus Hijau. Dokumentasi Tim KKN-T IPB University Desa Cangkring.


Desa Cangkring, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Wonogiri, memiliki potensi besar pada sektor pertanian dan peternakan. Di balik potensi tersebut, terdapat limbah organik yang belum dimanfaatkan secara optimal. Jerami sisa panen, misalnya, masih sering dibiarkan menumpuk di lahan dan pada akhirnya dibersihkan dengan cara dibakar. Sementara itu, limbah kotoran ternak yang jumlahnya melimpah sebenarnya memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi lahan pertanian.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN-T IPB University Desa Cangkring menginisiasi program “SIKLUS HIJAU: Praktik Pembuatan Pupuk Organik dari Limbah Peternakan dan Pertanian” yang dilaksanakan pada Kamis (16/7/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 14.00–15.30 WIB ini diikuti oleh 20 peternak Desa Cangkring dengan tujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk yang bernilai guna sekaligus ramah lingkungan.

baca juga

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai alat dan bahan yang digunakan, tahapan pembuatan pupuk organik, cara kerja proses pengomposan, serta manfaat pupuk organik bagi kesuburan tanah. Materi disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami dan dapat langsung diterapkan oleh para peserta di lingkungan masing-masing.

Tidak berhenti pada penyampaian materi, peserta juga diajak mempraktikkan langsung proses pembuatan pupuk organik. Untuk memberikan pengalaman yang lebih komprehensif, peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama membuat pupuk menggunakan campuran kotoran ayam dan jerami, sedangkan kelompok kedua menggunakan campuran kotoran sapi dan jerami.

Proses pembuatan dimulai dengan menyiapkan kotoran ternak sebagai bahan utama. Selanjutnya dibuat larutan starter yang terdiri atas 12 liter air, 250 mililiter EM4, dan 100 mililiter molases. Larutan tersebut kemudian disemprotkan secara merata ke seluruh permukaan kotoran hingga mencapai tingkat kelembapan sekitar 60%, dengan sebagian larutan disisakan untuk proses perawatan berikutnya. Setelah itu, kapur dolomit ditaburkan secara merata, kemudian seluruh bahan diaduk hingga homogen. Jerami ditambahkan di atas campuran sebelum kembali diaduk hingga tercampur sempurna. Campuran tersebut kemudian ditutup rapat menggunakan terpal untuk mendukung proses fermentasi. Selama proses pengomposan berlangsung, bahan perlu diaduk setiap tujuh hari sekali sambil disemprotkan kembali menggunakan sisa larutan starter.

Suasana praktik berlangsung aktif dan interaktif. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan serta berdiskusi mengenai penerapan teknik tersebut sesuai dengan kondisi peternakan yang mereka miliki. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa teknologi sederhana seperti pembuatan pupuk organik dapat menjadi solusi yang mudah diterapkan apabila disampaikan melalui praktik langsung.

Ketua Tim KKN-T IPB University Desa Cangkring, Jody Lawana Maheswara dari Program Studi Agribisnis, menyampaikan bahwa melalui program ini masyarakat diharapkan dapat melihat limbah organik sebagai sumber daya yang memiliki nilai manfaat.

"Melalui program Siklus Hijau, kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan limbah peternakan dan jerami secara lebih optimal menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi lahan pertanian. Dengan begitu, limbah yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat menjadi solusi yang mendukung pertanian berkelanjutan di Desa Cangkring," ujarnya.

Senada dengan itu, pemateri kegiatan, Hilal Akram dari Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan IPB University, menjelaskan bahwa proses pembuatan pupuk organik dapat dilakukan menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar masyarakat.

baca juga

"Pembuatan pupuk organik ini relatif sederhana dan dapat dilakukan secara mandiri. Dengan memanfaatkan kotoran ternak serta jerami yang tersedia di sekitar, masyarakat tidak hanya dapat mengurangi limbah, tetapi juga menghasilkan pupuk yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas tanah," jelasnya.

Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai proses pembuatan pupuk organik sekaligus manfaatnya bagi sektor pertanian. Program Siklus Hijau diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong pengelolaan limbah peternakan dan pertanian yang lebih bijaksana, sehingga jerami dan kotoran ternak tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.