Selalu ada pelajaran positif yang bisa kita dapatkan dari cerita rakyat yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu kisah inspiratif yang bisa kita pelajari bersama terdapat dalam cerita rakyat Sulawesi Tenggara.
Ada salah satu cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara yang menceritakan tentang pentingnya berbuat baik antarsesama dengan ikhlas. Sebab bisa saja dari kebaikan tersebut akan ada balasan yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Bagaimana kisah dalam cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara tersebut? Simak kisah lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Ketika Kebaikan Selalu Dapatkan Balasan, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara
Dinukil dari buku Cerita Rakyat Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara, dikisahkan pada zaman dahulu hiduplah sebuah keluarga di Kampung Lakudo. Keluarga ini terdiri dari sepasang suami istri dan ketiga anaknya.
Keluarga ini hidup dalam taraf kemiskinan. Mereka hanya memiliki uang terbatas untuk menyambung hidup sehari-hari.
Pada suatu hari, sang istri meminta suaminya untuk pergi belanja ke pasar. Hari itu mereka hanya memiliki uang lima belas benggol saja.
Sang istri berpesan agar suaminya bisa memanfaatkan uang itu sebaik-baiknya. Sebab mereka belum tahu apakah masih bisa mendapatkan uang untuk beberapa hari ke depan.
Akhirnya berangkatlah sang suami ke pasar. Di tengah perjalanan, dia melihat keramaian di sebuah kuburan.
Ternyata di sana tengah berlangsung sebuah pemakaman. Namun mayat yang akan dikuburkan tidak bisa dimasukkan ke dalam kubur.
Sang suami penasaran dengan hal tersebut. Dia pun mendekati arah kerumunan itu.
Sesampainya di sana, dia bertanya mengapa mayat tersebut tidak bisa dimasukkan ke dalam kubur. Usut punya usut, ternyata mayat tersebut masih memiliki hutang sebanyak lima belas benggol.
Sang suami langsung melihat uang yang ada di tangannya. Tanpa pikir panjang, dia langsung memberikan uang itu untuk melunasi hutang mayat yang akan dikuburkan.
Begitu hutangnya dibayarkan, mayat tersebut bisa langsung dikuburkan dengan lancar. Setelah itu, sang suami pulang ke rumah dengan tangan kosong.
Sesampainya di rumah, sang istri menanyakan bahan belanjaan yang dia bawa dari pasar. Sang suami pun menjelaskan apa yang baru saja dia alami di jalan.
Sang istri tentu menjadi marah begitu mengetahui hal tersebut. Dia berkata bagaimana bisa mereka membantu orang lain sementara kondisinya saja serba berkekurangan.
Namun sang suami mencoba menenangkan istrinya. Dia berkata jika kelak pasti ada balasan jika mereka berbuat baik selalu di mana saja.
Akhirnya kehidupan keluarga ini kembali berjalan. Mereka tetap berusaha semaksimal mungkin untuk melanjutkan kehidupan.
Pada suatu malam, terdengar suara anak kecil memanggil mereka dari luar rumah. Sang suami kemudian beranjak menuju tempat anak-anaknya.
Dia mengira jika suara itu berasal dari mereka. Namun ketiga anaknya tengah tertidur pulas malam itu.
Sang suami kemudian pergi ke luar rumah. Di sana dia melihat seorang anak kecil yang meminta untuk tinggal bersamanya.
Tanpa pikir panjang, sang suami menerima anak itu. Anak itu pun berterima kasih dan tinggal di keluarga miskin itu.
Sehari-hari dia selalu membantu pekerjaan di keluarga angkatnya. Seiring berjalannya waktu, sang anak pun mulai tumbuh dewasa.
Dia pun berniat untuk pergi merantau dan mencari kehidupan yang layak. Sang suami mengizinkan anak itu untuk pergi merantau dari rumah mereka.
Berlayarlah anak itu dengan menumpang kapal seorang saudagar. Di tengah perjalanan, dia mampir di sebuah pulau yang dipenuhi kucing.
Anak ini kemudian mengumpulkan kucing-kucing itu. Dia pun membawa kucing itu ke tanah Jawa dengan niatan untuk menjualnya.
Sesampainya di Jawa, anak itu melancarkan niatnya. Benar saja, kucing-kucing itu ternyata laku keras.
Saat kedatangannya, wabah tikus tengah terjadi di Jawa. Akibatnya banyak hasil ladang masyarakat yang rusak.
Anak ini mendapatkan keuntungan yang berlimpah. Dia pun kembali ke rumah tempat keluarga miskin yang dulu menerimanya.
Sesampainya di sana, anak ini langsung menyerahkan semua harta yang dia dapatkan dari perantauan. Sang suami yang menerima kedatangannya tentu heran mengapa anak itu menyerahkan hartanya.
Anak itu kemudian menceritakan rahasinya. Dia berkata jika dirinya adalah jelmaan dari mayat yang dulu ditolong oleh sang suami.
Setelah menceritakan hal tersebut, anak itu kemudian pamit pergi dari sana. Sejak saat itu dirinya tidak pernah menampakkan diri lagi dan keluarga miskin tersebut akhirnya hidup dengan serba berkecukupan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


