dulu cuma ikan rawa hasil tangkapan liar papuyu siap melesat jadi primadona baru perikanan budidaya - News | Good News From Indonesia 2026

Dulu Cuma Ikan Rawa Hasil Tangkapan Liar, Papuyu Siap Melesat Jadi Primadona Baru Perikanan Budidaya

Dulu Cuma Ikan Rawa Hasil Tangkapan Liar, Papuyu Siap Melesat Jadi Primadona Baru Perikanan Budidaya
images info

Dok. Abu Hamas (Wikimedia)


Ikan papuyu (Anabas testudineus) menyimpan potensi ekonomi luar biasa di sektor akuakultur nasional. Spesies ikan air tawar lokal ini dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang sangat kuat terhadap kondisi lingkungan perairan ekstrem, mulai dari rawa gambut hingga kolam minim oksigen.

Daya tahan hidupnya yang tinggi memberi keunggulan besar dalam proses rantai pasok dan distribusi, di mana ikan papuyu mampu bertahan hidup lama saat dijual dalam keadaan segar tanpa memerlukan sarana pendingin rumit.

Sebagai hidangan pangan khas yang sangat digemari masyarakat di berbagai daerah, khususnya di Kalimantan, papuyu selalu diburu pembeli dengan harga yang cenderung tinggi.

Sayangnya, sebagian besar pasokan pasar hingga kini masih bergantung pada hasil tangkapan liar di alam bebas.

Pola pengambilan dari alam yang tak terkendali ini berisiko mengancam kelestarian populasi liar. Langkah domestikasi dan pengembangan budidaya terencana menjadi jalan keluar untuk mengubah ikan rawa ini menjadi komoditas bisnis akuakultur yang menguntungkan.

"Ikan papuyu memiliki nilai ekonomi tinggi dan sangat digemari masyarakat sebagai pangan khas di berbagai daerah. Secara biologis, spesies ini memiliki kemampuan adaptasi yang kuat terhadap lingkungan ekstrem, daya tahan hidup yang tinggi, serta keunggulan dalam distribusi ikan hidup," kata Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari.

 

Tantangan Ketimpangan Ukuran dan Harga Premium

Usaha budidaya papuyu sejauh ini masih menghadapi masalah klasik, yakni ukuran tubuh ikan yang tidak seragam saat masa panen tiba. Ketimpangan ukuran ini berdampak langsung pada nilai jual di tingkat pembudi daya. Hanya ikan dengan ukuran besar atau masuk kategori Grade A yang sanggup menembus pasar dengan harga premium.

Ketimpangan pertumbuhan tersebut dipicu oleh sifat genetik dimorfisme seksual, di mana laju pertumbuhan ikan betina jauh meninggalkan ikan jantan. Ikan papuyu betina mencatatkan pertumbuhan konsisten antara 1,4 hingga 2 kali lipat lebih cepat ketimbang ikan jantan.

Guna mengatasi persoalan tersebut, Pusat Riset Budidaya Air Tawar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merancang Program Pemuliaan Papuyu Terpadu (PPPT). Salah satu yang diupayakan adalah menciptakan populasi betina monoseks lewat rekayasa neo-male technology.

Lewat teknik ini, induk betina dimaskulinisasi menjadi jantan fungsional agar menghasilkan keturunan yang seluruhnya berjenis kelamin betina.

"Masalah utama budi daya ikan terletak pada variasi ukuran ikan saat panen yang memengaruhi nilai ekonomi. Hanya ikan kualitas Grade A yang mendapat harga premium. Variasi ini diduga dipicu oleh sifat genetik dan seksual dimorfisme," kata peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN Imron.

Program rekayasa genetik jangka panjang ini juga memadukan analisis marka mikrosatelit dan pemetaan silsilah (pedigree) menggunakan metode mix model. Pendekatan ini mampu menghitung Estimated Breeding Value (EBV) guna memastikan kemajuan kualitas genetik benih tanpa memicu risiko perkawinan sedarah (inbreeding).

Setumpuk keunggulan teknis dari hasil riset pemuliaan ini berpeluang memotong durasi pemeliharaan kolam dan menekan efisiensi pakan bagi para peternak ikan. Ketersediaan benih unggulan yang tumbuh cepat dan berukuran seragam akan menjamin kepastian pasokan bagi pasar kuliner maupun industri olahan ikan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.