menyelami budaya dayak lebih dekat tentang sastra lisan telima dan mengapa keseniannya kerap bertemakan alam - News | Good News From Indonesia 2026

Menyelami Budaya Dayak: Tentang Sastra Lisan Telima & Mengapa Keseniannya Kerap Bertemakan Alam?

Menyelami Budaya Dayak: Tentang Sastra Lisan Telima & Mengapa Keseniannya Kerap Bertemakan Alam?
images info

Peluncuran karya musik kolaboratif "Suara Tanah Kita" di Jakarta pada Jumat (31/7/2026).


Ada banyak hal menarik dalam budaya Dayak. Dua di antaranya yakni adanya bentuk sastra lisan yang disebut Telima dan banyaknya praktik kesenian Dayak yang bertemakan alam.

"Telima adalah tradisi lisan yang dimiliki Suku Dayak Kayaan Mendalam yang isinya bersyukur kepada Tuhan, bersyukur kepada kebersamaan kita, dan tak lupa pula atas kebersamaan itu ada nasehat dan pedoman hidup yang dituturkan dalam bentuk lantunan," ujar Ine Martha Haran, seorang tokoh adat Dayak sekaligus pelantun Telima, kepada awak media termasuk GNFI di Jakarta pada Jumat (31/7/2026).

Martha hadir di Jakarta dalam rangka peluncuran karya musik kolaboratif "Suara Tanah Kita" oleh lembaga nirlaba Yayasan Madani Berkelanjutan. Kebetulan, Martha adalah salah satu orang yang ikut membawakan karya tersebut bersama dengan penyanyi Asteriska dan satu budayawan Dayak lainnya, Dominikus Uyub.

Dalam acara tersebut, Martha tidak hanya tampil membawakan lagu bersama Asteriska dan Uyub. Ia juga berbagi cerita seputar budaya Dayak, khususnya keseniannya.

Kata "Ine" di depan namanya adalah bukti darah Dayak dalam diri Martha. Bagi masyarakat Dayak, "Ine" adalah sebutan untuk orang tua perempuan, sama seperti panggilan "Ibu" dalam bahasa Indonesia.

Sebagai tokoh adat Dayak Kayaan Mendalam, Martha punya peran besar bagi komunitasnya di Kapuas Hulu. Selain menjadi penutur syair Telima, ia juga merupakan Dayung Aya atau imam besar dalam upacara adat Dange.

Menurut Martha, Telima sejatinya adalah pesan dari leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia pun punya harapan agar warisan budaya leluhur tersebut bisa terus dijaga oleh Dayak melalui sosok-sosok penerus yang mengambil jalan hidup seperti dirinya.

"Ine berharap agar di saat-saat yang kemudian nanti timbullah regenerasi penerusnya untuk menggantikan Ine seterusnya," katanya.

Kesenian Dayak, baik itu yang berbentuk sastra lisan seperti Telima atau yang lainnya, punya satu fenomena yang menarik, yakni isinya kerap mengambil tema alam atau mengandung pesan-pesan mengenai alam. Ini tentu bukan kebetulan dan ada alasan di baliknya.

Soal ini, budayawan muda Dayak Punan Hovongan, Samuel Moring, memberi penjelasan. Menurutnya, budaya Dayak memiliki pengetahuan mengenai bagaimana manusia selayaknya berperilaku terhadap alam di wilayah adat. Nah, pengetahuan-pengetahuan itulah yang diturunkan secara turun-temurun melalui media seni.

"Banyak sekali tempat-tempat yang disakralkan, kemudian ada juga tempat-tempat yang tidak boleh sembarangan kita eksploitasi. Itu sudah diatur oleh masyarakatnya sendiri, tanpa dituangkan dalam bentuk dokumen atau aturan, hanya melalui mulut saja," papar Moring.

Diterangkan Moring, seni dan budaya pada dasarnya adalah salah satu unsur warisan leluhur selain wilayah adat dan sejarah. Selama suatu masyarakat adat menempati suatu wilayah, maka keseniannya pun akan bercampur dengan pengetahuan-pengetahuan lokal yang ada.

"Terciptalah beragam seni, baik itu seni musik, tarian, sastra, baik itu sastra lisan atau sastra tulis, gambar, dan sebagainya, itu adalah wujud dari salah satu yang menurut saya bahwa mereka sudah lama berada di wilayah tersebut," tutur Moring.

baca juga

 

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.