Interaksi antara Belanda dan Indonesia tentu memiliki sejarah panjang di masa lalu. Seperti yang Kawan ketahui, interaksi masyarakat Nusantara dengan bangsa Eropa ini bahkan berlangsung selama ratusan tahun lamanya.
Hal ini tentu memberikan banyak pengaruh di antara kedua belah pihak. Tidak hanya soal monopoli ekonomi dan sejenisnya yang sering kita temui di buku sejarah, tapi juga dalam hal kebudayaan.
Banyak pengaruh kebudayaan Belanda yang berkembang di tengah masyarakat Nusantara di masa lampau. Bahkan sisa-sisa kebudayaan ini masih bisa Kawan saksikan di berbagai gedung bekas Pemerintah Kolonial yang masih berdiri kokoh di beberapa daerah di Indonesia.
Pada 1971 silam, surat kabar Indonesia Raya pernah menerbitkan edisi khusus yang mengulas hubungan antara Indonesia dan Belanda. Edisi khusus ini berkaitan dengan kunjungan Ratu Belanda, Ratu Juliana ke Indonesia pada tahun tersebut.
Keberadaan kebudayaan Belanda menjadi salah satu hal yang disoroti dalam edisi spesial tersebut. Lantas bagaimana situasi serta keberadaan kebudayaan Belanda di tengah masyarakat Indonesia pada dekade awal setelah kemerdekaan?
Kerja Sama Kebudayaan
Dinukil dari artikel "Aktivitas Kebudajaan Belanda di Indonesia" yang terbit di surat kabar Indonesia Raya edisi 24 Agustus 1971, periode 1968-1970 menjadi salah satu momen penting dalam interaksi kebudayaan Indonesia dan Belanda. Sebab pada 1968, telah disetujui kerja sama kebudayaan antara kedua negara waktu itu.
Kerja sama kebudayaan ini secara efektif diterapkan pada 1970 silam. Tonggak sejarah dari kerja sama ini ditandai dengan dibukanya Erasmus Huis di Jakarta pada 27 Maret 1970.
Dengan adanya kerja sama ini, interaksi untuk saling mengenal kembali antara kedua bangsa akhirnya terjalin. Kerja sama ini juga menjadi langkah awal dari hubungan bilateral antara Indonesia dan Belanda pada waktu itu.
Pertukaran Ilmu Pengetahuan
Salah satu dampak yang diberikan oleh persetujuan kerja sama ini adalah adanya pertukaran ilmu pengetahuan antara kedua negara. Pada waktu itu, banyak berdatangan para ahli dari Belanda untuk mengajar di beberapa universitas di Indonesia.
Para ahli yang didatangkan juga berasal dari berbagai macam latar belakang keilmuan, mulai dari teknik, kedokteran, hukum, hingga sastra. Selain itu, ada juga upaya dalam menerjemahkan publikasi bahasa Belanda ke dalam bahasa Indonesia waktu itu.
Kerja sama alih bahasa ini dikerjakan langsung oleh LIPI dengan beberapa ahli yang didatangkan. Alih bahasa ini tentu menjadi cara agar transfer ilmu pengetahuan yang terjadi pada waktu itu bisa berjalan lebih cepat.
Dari Restorasi Bangunan, Buku dan Film, hingga Keberadaan Bahasa Belanda
Tidak hanya di bidang keilmuan, keberadaan kebudayaan Belanda di tengah masyarakat juga masih terasa pada waktu itu. Misalnya, kerja sama yang terjalin ini menemukan jalan agar bangunan-bangunan bersejarah di Indonesia diupayakan untuk terus dijaga keberadaannya.
Pemerintah Belanda juga turut memberikan sumbangan untuk membantu proses restorasi tersebut. Para ahli juga didatangkan untuk membantu proses restorasi tersebut.
Kedutaan Belanda di Jakarta juga memberikan arahan bagi para konsulat di beberapa kota besar, seperti Yogyakarta, Bandung, hingga Makassar untuk membuka ruang baca yang menyediakan berbagai macam buku dan film.
Keberadaan bahasa Belanda juga masih terasa pada periode awal tersebut. Apalagi penggunaan bahasa Belanda cukup penting di kalangan akademisi, khususnya di bidang sejarah dan hukum.
Sebab sebagian besar referensi dan sumber yang dibutuhkan untuk mempelajari bidang keilmuan tersebut umumnya masih menggunakan bahasa Belanda.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


