Laju perubahan iklim dunia yang semakin memicu musim kemarau panjang berdampak langsung pada penyusutan cadangan air tanah dan peningkatan suhu udara secara drastis.
Dampak lanjutannya terasa di sektor pertanian, di mana tanah menjadi sangat kering dan kehilangan kesuburan alaminya. Kondisi ekstrem ini turut mengganggu populasi mikroba tanah yang bertugas sebagai penyedia unsur hara alami bagi tanaman.
Guna mengatasi persoalan degradasi lahan tersebut, Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN mengisolasi mikroba dari lingkungan ekstrem.
Peneliti mengumpulkan bakteri dan kapang yang hidup di lapisan tanah rhizosphere kawasan gersang serta hutan mangrove yang berkadar garam tinggi. Jenis mikroba ini terbukti memiliki daya tahan tubuh yang kuat terhadap cekaman kekeringan dan salinitas.
Mikroba yang berhasil dikoleksi diuji kemampuannya dalam memproduksi hormon pemacu pertumbuhan, menguraikan senyawa kompleks menjadi nutrisi siap serap, hingga melakukan bioremediasi pada tanah yang rusak.
"Melalui penelitian ini kami berupaya memanfaatkan mikroba yang berasal dari lingkungan ekstrem untuk konservasi sekaligus meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah maupun tanaman," ujar Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Arwan Sugiharto.
Formulasi Media Pembawa dan Uji Coba di Tanah Kering
Pemanfaatan mikroba di lapangan membutuhkan media pembawa (carrier) khusus agar agen hayati tersebut tidak cepat mati saat diterpa panas ekstrem. BRIN meracik bahan pembawa yang berfungsi sebagai pelindung sekaligus penyedia nutrisi awal bagi mikroba hingga siap bersimbiosis dengan perakaran tanaman.
Inovasi unik diterapkan pada mikroba asal ekosistem mangrove. Tim peneliti memanfaatkan gulma Derris trifoliata yang diolah menjadi serbuk, lalu dicetak dalam bentuk tablet atau pot khusus. Bentuk padat ini menjaga mikroba tetap aktif walau diaplikasikan pada tanah bergaram atau gersang.
Formulasi bakteri tahan kering ini telah disebar untuk mendampingi budidaya jagung rakyat di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) serta kawasan Seririt dan Buleleng di Bali.
"Kami memformulasikannya dengan mikroba sehingga menjadi satu kesatuan yang mampu mendukung pertumbuhan mikroba sekaligus membantu pertumbuhan tanaman pada lahan yang mengalami cekaman kekeringan," kata Arwan Sugiharto.
Selain difokuskan pada sektor pangan, aplikasi mikroba ekstrem ini diperluas untuk proyek pemulihan lingkungan (restorasi) di kawasan bekas pertambangan.
Proses hijau kembali kawasan bekas tambang menghadapi tantangan yang berat karena hilangnya lapisan tanah teratas (humus). Ketiadaan humus membuat kadar nutrisi tanah merosot tajam dan struktur tanah menjadi keras.
Targetnya, siklus hara alami agar vegetasi baru bisa tumbuh kembali di atas tanah bekas galian.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

