mahasiswa uns sukses bangun ikatan emosional lintas negara - News | Good News From Indonesia 2026

Mahasiswa UNS Sukses Bangun Ikatan Emosional Lintas Negara, Tak Hanya Belajar

Mahasiswa UNS Sukses Bangun Ikatan Emosional Lintas Negara, Tak Hanya Belajar
images info

sumber: AIESEC in UNS


Apakah Kawan GNFI pernah bermimpi menjadi seorang guru ketika masih kecil? Guru adalah sebuah profesi yang sangatlah mulia dan sering kali disebut sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Banyak sekali anak muda yang berbondong-bondong ingin menjadi guru ketika sudah dewasa.

Hal ini disebabkan oleh banyaknya kasus keterbatasan akses pendidikan, sehingga dibutuhkan perubahan secepatnya.

Kondisi tersebutlah yang membuat terciptanya poin nomor 4 mengenai Quality Education dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Dengan adanya tujuan ini, diharapkan kualitas pendidikan di seluruh dunia dapat meningkat.

Namun, pernahkah berpikir bahwa Kawan GNFI dapat mendapatkan pengalaman mengajar tanpa harus menyandang gelar sarjana pendidikan? 

Impian tersebut dapat diwujudkan melalui program Global Volunteer (GV) yang dipelopori oleh AIESEC in UNS. Dengan hadirnya program ini, Kawan GNFI bukan hanya berkontribusi di dalam negeri, melainkan juga dapat ikut berpartisipasi dalam mengatasi permasalahan di negeri lain.

baca juga

Permasalahan mengenai terbatasnya akses pendidikan dan kualitas pendidikan yang rendah merupakan sebuah tantangan global yang sedang dihadapi banyak negara. Salah satunya ialah Tailan.

Perjuangan ini telah dibuktikan oleh perjalanan yang dilakukan oleh kedua mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS), Aidil Tegar Ramadhani dan Zahrah Putri Alina.

Mereka merupakan perwakilan yang mengikuti proyek Global Classroom dan berhasil berangkat ke Thailand guna meningkatkan kualitas pendidikan di sana. 

Selama 6 minggu, Aidil dan Zahrah memiliki kisah yang berbeda. Di sana, Aidil disambut dan dipandu oleh Kawan GNFI dari AIESEC in Assumption University untuk mengajar di Chum Chon Wat Ban Rakad School bagi siswa tingkat Kindergarten hingga Secondary 2.

Di sisi lain, Zahrah ditemani oleh Kawan GNFI dari Kasetsart University untuk melakukan kegiatan belajar-mengajar di Wat Phlapphla School pada siswa tingkat Primary hingga Secondary 3.

Fokus yang dipegang teguh oleh mereka itu sama, yaitu mengajarkan bahasa Inggris kepada para siswa yang tergolong jarang menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tentu, setiap perjalanan tidak selalu mulus sesuai harapan, sebab banyak kendala yang harus dilewati oleh mereka.

Language barrier merupakan salah satu faktor yang memengaruhinya. Kendala berikutnya adalah perihal karakter siswa yang beragam, mulai dari siswa yang mudah diarahkan sampai siswa yang harus diberikan perhatian khusus.

Demi mencairkan suasana dan menghindari kejenuhan siswa di dalam kelas. Aidil dan Zahrah sering kali mengombinasikan materi bahasa Inggris dan materi budaya Indonesia. Hal ini bertujuan agar para siswa menjadi antusias dan penasaran sehingga misi cross-cultural understanding dapat tercapai.

Beruntungnya, orang-orang lokal di sana sangat terbuka atas kehadiran kedua mahasiswa ini, mulai dari guru, direktur, sampai wakil direktur sekolah memberikan sambutan hangat untuk mereka.

Selain itu, terdapat banyak momen yang berkesan karena mampu memperluas wawasan budaya dan pendidikan mereka. Perayaan Student Day menjadi salah satu agenda yang ditunggu-tunggu karena para siswa diminta untuk melakukan penampilan seni, pembagian hadiah, pendirian bazar makanan, dan pertunjukan permainan secara gratis.

baca juga

Di samping itu, terdapat pula Teacher’s Day yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkunjung ke Chiang Mai dan Anuban Banthapui School guna bertukar informasi antar-institusi pendidikan.

Berkat program ini juga mereka mampu mendapatkan banyak relasi lintas negara dan dalam negara, sebab hubungan tersebut makin erat ketika merayakan Hari ASEAN bersama-sama

Lalu, terdapat pula agenda yang tidak bisa dilewatkan oleh para Exchange Participants (EPs), yaitu mengelilingi destinasi wisata di Thailand, mulai dari Bangkok, Ayutthaya, Chanthaburi, Chiang Mai sampai Ko Chang.

Oleh karena itu, program Global Volunteer (GV) memiliki dampak positif yang luar biasa bagi satu sama lain. Bentuk apresiasi berupa surat, hadiah, kerajinan tangan, sticker, dan ucapan kasih sayang merupakan bukti bahwa program ini berhasil menjalin hubungan emosional antara siswa dengan pengajar.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.