Perlu Kawan GNFI ketahui bahwa pendidikan merupakan salah satu isu yang masih banyak disuarakan oleh masyarakat Indonesia, khususnya anak muda.
Hal ini disebabkan oleh banyak masyarakat yang masih kesulitan mendapatkan haknya sebagai warga negara, yaitu mendapatkan akses pendidikan. Akan tetapi, apakah permasalahan ini hanya terjadi di Indonesia?
Jawabannya adalah tidak. Faktanya, negara lain seperti Korea Selatan mengalami permasalahan yang sama. Ketimpangan dalam pemerataan akses pendidikan masih menjadi tantangan yang dihadapi oleh masyarakat di sana.
Namun, kontribusi apa yang bisa dilakukan masyarakat Indonesia ke negara lain di saat negara sendiri mengalami kendala yang sama?
Melalui program Global Volunteer yang dinaungi oleh AIESEC in UNS, pemuda Surakarta bisa turut membantu mengatasi permasalahan tersebut dengan mengedepankan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin nomor 4 tentang Quality Education.
Aksi ini sudah dibuktikan oleh perjuangan yang dilakukan oleh Nabila Nur Amalina Luthfi dan Syabilla Maryam Sunaryo selaku mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS).
Dengan bantuan dari dua universitas ternama, yaitu Yonsei University dan Sogang University, mereka berhasil menuntaskan petualangannya di Korea Selatan demi memajukan kualitas pendidikan di sana.
Nabila yang ditemani oleh teman-teman dari AIESEC in Yonsei University, berupaya menggaungkan proyek Play in English (PIE) kepada para siswa sekolah. Proyek yang berlangsung di Hyochang Welfare Center ini dirancang untuk membantu siswa menikmati pembelajaran bahasa Inggris. Hal ini disebabkan oleh tidak semua siswa yang memiliki akses yang setara terhadap pendidikan tambahan.
Sistem pembelajaran yang berfokus pada ujian (exam-centered education) membuat siswa di sana kurang memiliki kesempatan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
Itulah mengapa, proyek ini berusaha menciptakan pembelajaran bahasa Inggris yang interaktif dan terjangkau bagi mereka.
Sementara itu, Syabilla menjalankan proyek berupa Languange Education Over Nation (LEON) bersama AIESEC in Sogang University di beberapa perpustakaan.
Berbeda dari PIE, selain mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak lokal, Syabilla juga memperkenalkan dasar dari poin SDGs nomor 4 guna mengetahui kewarganegaraan global dan perbedaan kultur.
Walaupun, target dari proyek ini adalah siswa, model pembelajaran yang diajarkan oleh mereka sangatlah interaktif, seperti permainan, interaksi langsung, dan komunikasi sederhana dalam bahasa Inggris. Tujuannya agar siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga dapat membangun kepercayaan diri dan minat belajar sejak dini.
Di samping kegiatan belajar-mengajar, Nabila dan Syabilla juga mengikuti kegiatan pendukung lainnya, seperti City Tour yang dipandu oleh Yonsei University dan Sogang University. Kegiatan selingan ini membuat mereka mampu mengenal budaya Korea Selatan sekaligus mempererat tali pertemanan dengan teman-teman AIESEC di sana guna mewujudkan cross-cultural understanding.
Jika disimak lebih dalam, banyak sekali dampak positif yang sudah mereka lakukan selama di Korea Selatan. Berbagai pengalaman baru dan tantangan berhasil mereka lewati dengan baik.
Nabila menyampaikan bahwa program Global Volunteer ini mampu memberikan pemahaman baru bagi dirinya tentang pentingnya pendekatan belajar yang menyenangkan. “Saya melihat bagaimana metode yang interaktif dapat membuat anak-anak lebih percaya diri dalam belajar bahasa Inggris,” ungkapnya.
Di sisi lain, Syabilla melihat bahwa pengalaman luar biasa ini dapat memperluas wawasannya dalam memandang pendidikan dari perspektif global. “Pengalaman ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya tentang materi, tetapi juga tentang bagaimana menciptakan pengalaman belajar yang bermakna,” ungkapnya.
Jadi, sudah siapkah kalian berkontribusi seperti mereka? Simak terus keseruan program Global Volunteer berikutnya di Instagram @unstopable.youths! Buktikan bahwa Kawan GNFI juga bisa berkontribusi bagi dunia global!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


