Kawan GNFI, di tengah kekhawatiran Kementerian Kebudayaan yang minggu ini menyoroti pentingnya permainan tradisional sebagai benteng anak Indonesia di era digital.
Ini adalah sebuah pertanyaan mendasar perlu dijawab secara ilmiah: apakah permainan tradisional benar-benar lebih baik dari game digital untuk perkembangan anak? Jawaban dari berbagai riset akademik ternyata sangat meyakinkan.
Kementerian Kebudayaan Angkat Bicara
Pada 25—26 Juli 2026, Menteri Kebudayaan secara khusus menyoroti pentingnya permainan tradisional sebagai instrumen perlindungan anak di ruang digital.
Pernyataan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan didukung oleh badan riset yang terus berkembang tentang manfaat nyata permainan tradisional bagi perkembangan anak.
Apa Kata Riset?
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Potensia (2025) tentang pengembangan literasi budaya melalui permainan tradisional congklak di era digital menemukan fakta yang menarik.
Seiring berkembangnya teknologi di era digital, siswa kurang mengenal permainan tradisional yang kaya akan nilai-nilai budaya, karena mereka lebih terbiasa dengan permainan kontemporer yang menggunakan teknologi.
Hal ini mengakibatkan kurangnya rasa hormat terhadap budaya daerah dan berpotensi kehilangan kekayaan budaya yang tak ternilai harganya.
Sementara itu, penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Cahaya Paud (2026) secara khusus mengkaji peran permainan tradisional dalam kesejahteraan sosial-emosional anak di era digital.
Dari sini, ditemukan bahwa pesatnya perkembangan teknologi digital telah mengubah pola bermain anak dari interaksi langsung menjadi aktivitas berbasis layar yang cenderung individualistik, sehingga berpotensi menurunkan kemampuan interaksi sosial, empati, dan regulasi emosi anak.
Kajian literatur komprehensif ini menegaskan bahwa permainan tradisional terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan sosial-emosional anak usia dini secara signifikan, sebuah dimensi perkembangan yang justru paling rentan terdampak oleh screen time berlebihan.
Gobak Sodor, Lompat Tali, dan Ketapel, Tak Hanya Sekadar Permainan?
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal BLAZE (2025) tentang permainan tradisional pada anak usia dini mengungkap secara konkret keunggulan permainan-permainan ini.
Permainan tradisional seperti ketapel, lompat tali, dan gobak sodor dapat meningkatkan koordinasi, keseimbangan, serta keterampilan sosial anak melalui interaksi dan kerja sama. Permainan tersebut tidak hanya menguatkan otot-otot besar, tetapi juga membentuk karakter.
Penelitian lain yang menggunakan pendekatan observasional terhadap anak prasekolah yang terlibat dalam aktivitas bermain digital dan tradisional menemukan bahwa permainan tradisional secara konsisten lebih unggul dalam mendorong kreativitas, kolaborasi, dan pengembangan keterampilan motorik dibandingkan permainan digital pada kelompok usia yang sama.
Engklek dan Cublak-Cublak Suweng: Obat untuk Generasi Alpha
Penelitian dalam Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi (2024) yang secara khusus menguji apakah permainan tradisional cublak-cublak suweng dapat meningkatkan perkembangan sosial-emosional anak Generasi Alpha menemukan hasil yang sangat positif.
Permainan yang melibatkan komunikasi verbal, kerja sama kelompok, dan aturan yang disepakati bersama terbukti secara ilmiah menjadi salah satu media paling efektif untuk mengembangkan kecerdasan sosial-emosional anak.
Literasi Budaya sebagai Fondasi Identitas
Yang membuat permainan tradisional semakin istimewa adalah dimensi budayanya. Literasi budaya sangat penting dikembangkan untuk masyarakat Indonesia di era digital saat ini, khususnya pada anak usia dini. Sebab, pendidikan anak usia dini mempunyai peran penting dalam membentuk karakter anak yang memahami, menghargai, dan menjaga keberagaman budayanya.
Dengan kata lain, setiap kali seorang anak bermain engklek, gobak sodor, atau congklak, ia tidak hanya mengembangkan motorik dan kemampuan sosial-emosionalnya. Namun, juga sedang mewariskan dan melestarikan identitas budaya bangsa secara organik dan menyenangkan.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kawan GNFI, temuan-temuan ilmiah ini memberikan arah yang jelas. Permainan tradisional bukan sekadar warisan nostalgia yang patut dikenang, melainkan solusi berbasis bukti untuk tantangan perkembangan anak di era digital.
Langkah paling sederhana yang bisa dimulai dari hari ini adalah memperkenalkan kembali permainan-permainan tradisional kepada anak-anak di sekitar kita, baik di rumah, di sekolah, maupun di komunitas.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


