Tahukah Kawan GNFI jika Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa penduduk Indonesia saat ini didominasi anak-anak alias bocah berusia 0-4 tahun? Kelompok ini disebut dengan Generasi Alpha (Gen Alpha).
Sebagai informasi, Gen Alpha adalah kelompok yang lahir pada rentang tahun 2013 hingga 2024. Generasi ini lahir di tengah masifnya teknologi. Umumnya, anak-anak Gen Alpha lahir dari orang tua Milenial (1981-1996) dan Gen Z awal (1997-awal 2000-an).
Bocah cilik (Bocil) yang lahir di rentang tahun itu umumnya sudah sangat akrab dengan teknologi, utamanya penggunaan gawai sejak dini. Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, generasi mereka lebih gemar melihat konten video alih-alih konten teks biasa.
Bocil Gen Alpha Jadi yang Terbanyak di Indonesia
Data SUPAS BPS 2025 dalam kategori Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, jumlah total Gen Alpha di Indonesia per 2025 mencapai 22.741.968. Jumlah itu merupakan akumulasi dari kelompok umur 0-4 tahun.
Sebagai informasi, BPS mengelompokkan umur dengan rentang 4 tahun, terhitung dari umur 0 hingga 75 tahun ke atas. Dalam daftar tersebut, bocil-bocil Gen Alpha berusia 0-4 tahun menjadi yang paling banyak dibandingkan kelompok umur lainnya.
Berikut adalah jumlah penduduk menurut kelompok umur berdasarkan SUPAS BPS 2025:
Kelompok Umur | Jumlah (Jiwa) |
0–4 | 22.741.968 |
5–9 | 21.970.803 |
10–14 | 22.015.009 |
15–19 | 22.093.120 |
20–24 | 22.153.295 |
25–29 | 22.506.749 |
30–34 | 22.197.967 |
35–39 | 21.726.551 |
40–44 | 20.696.816 |
45–49 | 19.652.937 |
50–54 | 17.631.641 |
55–59 | 15.203.417 |
60–64 | 12.397.482 |
65–69 | 9.302.058 |
70–74 | 6.375.215 |
75+ | 6.002.225 |
Total | 284.667.253 |
Gen Alpha, Si Digital Native Sejati
Dalam jurnal INNOVATIVE: Journal of Social Science Research tulisan Lewis Edbert Chendana dkk., Gen Alpha disebut sebagai digital native sejati. Berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya yang mengenal teknologi sebagai alat bantu, bagi Gen Alpha, teknologi sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ekosistem kehidupan mereka sejak lahir.
Mereka tumbuh dalam lingkungan di mana akses informasi hampir tidak terbatas. Segala hal bisa didapatkan hanya dengan mengetikkan sesuatu di mesin pencarian.
Hal ini disebut membawa tantangan tersendiri dalam pembentukan karakter mereka. Dengan masifnya arus informasi digital, terdapat risiko degradasi nilai-nilai nasionalisme jika tidak diiringi dengan pondasi yang kuat.
Namun, dikarenakan gen ini memiliki akses digital yang sangat besar, mereka bisa memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk memiliki generasi yang memiliki kompetensi global dan daya saing tinggi di masa depan.
Di sisi lain, Indonesia memili visi besar yang dirangkum dalam Indonesia Emas 2045. Satu abad kemerdekaan Indonesia nanti, Gen Alpha akan ada di usia produktif dan memegang peran strategis sebagai penggerak utama pembangunan bangsa.
Strategi untuk memperkuat nasionalisme mereka pun harus inovatif, yaitu lewat pemanfaatan teknologi digital sebagai medium pembelajaran yang adaptif. Gen ini dianggap sedikit “berbeda” dengan generasi-generasi sebelumnya, sehingga perlu ada perlakuan yang berbeda.
Orang tua harus melakukan pendampingan digital yang baik. Sebagai generasi yang tumbuh di era teknologi super canggih, pola asuh lama yang cenderung kaku akan kurang efektif.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


