Selama lebih dari tiga dekade, para ilmuwan tahu bahwa sebuah gunung berapi raksasa telah meletus pada pertengahan abad ke-13 dan mengguncang iklim global — namun identitasnya tetap menjadi misteri. Sejumlah kandidat sempat diajukan, mulai dari Okataina di Selandia Baru, El Chichón di Meksiko, hingga Quilotoa di Ekuador. Namun tak satu pun dari kandidat tersebut benar-benar cocok dengan skala kedahsyatan yang tercatat di dalam es kutub.
Titik terang baru muncul berkat kerja detektif ilmiah dua vulkanolog asal Prancis: Franck Lavigne dari Universitas Paris 1 Panthéon-Sorbonne, dan Jean-Christophe Komorowski dari Institut de Physique du Globe de Paris. Pendekatan mereka digambarkan layaknya investigasi kriminal — mereka tidak tahu siapa "pelakunya", tetapi mereka memiliki dua petunjuk kuat: waktu kejadian yang presisi dari inti es, dan "sidik jari" geokimia berupa jejak sulfat serta partikel abu yang tersimpan dalam es kutub.

Danau kawah Segara Anak di dalam kaldera raksasa Gunung Rinjani, Lombok — kaldera inilah yang terbentuk akibat keruntuhan Gunung Samalas setelah erupsi dahsyatnya pada 1257. Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.
Ekspedisi ke Pulau Lombok
Petunjuk penting yang mengarahkan tim peneliti ke Indonesia datang dari kombinasi antara catatan sejarah lokal dan data geologi awal. Legenda lokal di Lombok, yang tertuang dalam naskah kuno Babad Lombok, menceritakan kehancuran total sebuah kerajaan bernama Pamatan akibat letusan gunung berapi dahsyat — sebuah kisah yang selama ini lebih dianggap sebagai cerita rakyat ketimbang catatan geologi yang akurat.
Tim Lavigne dan Komorowski, bekerja sama dengan para peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Indonesia, melakukan ekspedisi lapangan yang ekstensif di kompleks vulkanik Gunung Rinjani, Lombok. Fokus utama penyelidikan mereka adalah sebuah danau kawah besar bernama Segara Anak yang terletak di dalam sebuah kaldera raksasa — sebuah cekungan yang terbentuk ketika sebuah gunung berapi runtuh ke dalam dirinya sendiri setelah mengeluarkan magma dalam jumlah sangat besar.

Ignimbrit adalah endapan aliran piroklastik — sampel semacam inilah yang dikumpulkan tim ekspedisi dari lapisan endapan Lombok untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium. Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.
Mengidentifikasi Kaldera Samalas

Lanskap vulkanik khas Indonesia, negara dengan jumlah gunung berapi aktif terbanyak di dunia — kondisi geologi serupa inilah yang menjadi latar ekspedisi tim Lavigne dan Komorowski ke Lombok. Foto oleh Khusna Faiq, diambil di Gunung Bromo, Jawa Timur, Unsplash (Unsplash License, bebas digunakan).
Melalui rekonstruksi topografi menggunakan data pra-erupsi dan pasca-erupsi, tim peneliti berhasil membuktikan bahwa sebelum abad ke-13, di lokasi Segara Anak sekarang pernah berdiri sebuah gunung berapi besar yang mereka namai Gunung Samalas — bagian dari kompleks vulkanik yang sama dengan Gunung Rinjani yang masih aktif hingga kini. Tidak ada bukti letusan Plinian besar lain di kawasan ini selain dari peristiwa pertengahan abad ke-13, sehingga tim menyimpulkan bahwa kaldera tersebut memang terbentuk akibat keruntuhan Gunung Samalas dalam satu peristiwa erupsi tunggal yang sangat masif.
Untuk memastikan hipotesis mereka, tim peneliti menganalisis endapan sedimen pumis (batu apung) yang tersebar di seluruh Pulau Lombok. Lapisan-lapisan pumis ini dipetakan secara sistematis untuk merekonstruksi arah, ketebalan, dan jangkauan sebaran material erupsi. Hasilnya sangat mengejutkan: abu vulkanik dari letusan ini ditemukan tersebar hingga ratusan kilometer jauhnya, bahkan mencapai Pulau Jawa yang berjarak ratusan kilometer dari sumbernya — sebuah indikasi jelas dari skala letusan yang jauh melampaui letusan-letusan besar lain yang dikenal dalam sejarah modern seperti Krakatau maupun Tambora.
Merekonstruksi Skala Bencana dengan Pemodelan 3D
Setelah memetakan sebaran endapan pumis secara menyeluruh, tim peneliti menggunakan teknik pemodelan tiga dimensi untuk merekonstruksi total volume material yang dilontarkan selama erupsi. Dengan menggabungkan data ketebalan endapan di berbagai lokasi, kepadatan batuan, dan luas area sebaran, mereka menghitung volume setara batuan padat (dense-rock equivalent/DRE) dari seluruh material yang dikeluarkan gunung tersebut.
Angka yang dihasilkan sungguh mencengangkan: sekitar 40 kilometer kubik material vulkanik dilontarkan selama erupsi empat fase yang berlangsung hanya dalam hitungan puluhan jam. Sebagai perbandingan, angka ini jauh melampaui volume letusan Krakatau 1883 maupun Tambora 1815, menjadikan erupsi Samalas 1257 salah satu letusan eksplosif terbesar sepanjang zaman Holosen — periode geologi 11.700 tahun terakhir yang mencakup seluruh sejarah peradaban manusia modern. Kolom letusannya diperkirakan menjulang hingga ketinggian sekitar 43 kilometer, menembus jauh ke dalam lapisan stratosfer — faktor krusial yang menjelaskan mengapa dampaknya bisa terasa hingga ke seluruh dunia.
Dengan magnitudo erupsi yang diperkirakan mencapai skala 7 pada Volcanic Explosivity Index (VEI), Samalas kini diakui sebagai salah satu dari sedikit letusan bermagnitudo tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah geologi manusia.
Dari Legenda Menjadi Bukti Ilmiah
Yang membuat penemuan ini begitu berarti adalah bagaimana ia menyatukan berbagai jenis bukti yang sebelumnya berdiri sendiri-sendiri: legenda lokal Babad Lombok yang menceritakan kehancuran Kerajaan Pamatan, penanggalan radiokarbon terhadap arang purba di lokasi erupsi yang konsisten dengan pertengahan abad ke-13, serta rekonstruksi fisik-vulkanologi yang membuktikan skala letusan yang sepadan dengan lonjakan sulfat raksasa yang telah lama tercatat di inti es kutub.
Namun, mengidentifikasi lokasi dan skala erupsi saja belum cukup untuk menutup kasus ini sepenuhnya. Untuk benar-benar membuktikan bahwa Samalas adalah "pelaku" di balik anomali iklim global 1258, tim ilmuwan masih perlu satu langkah pembuktian terakhir: mencocokkan secara kimiawi abu vulkanik dari Lombok dengan sampel es yang diambil ribuan kilometer jauhnya di Kutub Selatan. Proses pembuktian akhir inilah yang akan dibahas dalam artikel berikutnya dari seri ini.
Referensi
- Lavigne, F. et al. (2013). Source of the great A.D. 1257 mystery eruption unveiled, Samalas volcano, Rinjani Volcanic Complex, Indonesia. PNAS.
- Lavigne, F. et al. (2015). Dynamics of the major plinian eruption of Samalas in 1257 A.D. (Lombok, Indonesia). Bulletin of Volcanology.
- Dokumenter: The Lost Supervolcano: The Biggest Eruption in Human History (segmen 21:23–35:41).
Artikel ini adalah bagian ketiga dari seri "Erupsi Samalas 1257: Menguak Bencana Vulkanik Terbesar dalam Sejarah Manusia".
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


