Purwoceng (Pimpinella pruatjan) selama ini dikenal luas sebagai salah satu tanaman obat endemik Indonesia yang menyimpan nilai ekonomi sangat tinggi.
Tumbuhan herbal ini jamak dimanfaatkan sebagai bahan baku utama pembuatan jamu stamina, obat tradisional, hingga produk fitofarmaka skala pabrikan. Namun, keberlanjutan pasokannya di pasar nasional kini menghadapi ancaman akibat keterbatasan bahan baku serta penyusutan populasi alami di habitat aslinya.
Secara alami, flora ini hanya mampu tumbuh subur di wilayah dataran tinggi dengan iklim dingin, terutama di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Alih fungsi lahan perkebunan serta degradasi kualitas lingkungan membuat status keberadaan purwoceng di alam liar kini berada dalam posisi terancam punah.
Pengembangan komoditas obat ini dibedah dalam webinar EstCrops Corner #28 yang digelar oleh Pusat Riset Tanaman Perkebunan (PRTP) BRIN. Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN menekankan pentingnya perlindungan hukum dan konservasi habitat agar kelestarian purwoceng tetap terjaga.
"Purwoceng sebagai tanaman endemik Indonesia harus kita konservasi, harus kita budidayakan, dan harus kita standarisasi agar menjadi bahan baku herbal unggulan yang mampu menopang kemandirian industri fitofarmaka nasional," ujar Kepala ORPP BRIN, Puji Lestari.
Teknologi Kultur Akar Rambut dan Kandidat Obat Antikanker
Guna menyokong kebutuhan industri tanpa menguras sisa populasi liar di hutan, BRIN menyiapkan strategi perbanyakan bibit secara terintegrasi. Hal ini mencakup pemuliaan genetik, pelepasan varietas unggul, hingga aplikasi teknik perbanyakan vegetatif melalui kultur jaringan.
Inovasi paling mutakhir yang dikembangkan oleh para peneliti adalah penerapan teknologi kultur kalus dan kultur akar rambut (hairy root culture). Teknologi laboratorium ini memungkinkan tim peneliti memproduksi senyawa metabolit sekunder purwoceng secara stabil di dalam wadah pembiakan steril tanpa harus bergantung pada hasil panen tanah di lapangan.
“Selain mengandung senyawa seperti sitosterol, stigmasterol, flavonoid, alkaloid, dan furanokumarin, purwoceng juga memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan baku fitofarmaka, termasuk kandidat antikanker,” kata Peneliti Ahli Utama PRTP BRIN, Otih Rostiana.
Pemanfaatan bioteknologi ini menjadi kunci penting untuk menyuplai ekstrak tanaman secara konsisten sekaligus menekan kerusakan ekosistem perbukitan.
Tantangan terbesar dalam komersialisasi tanaman obat tradisional selama ini terletak pada belum optimalnya standardisasi mutu bahan baku di tingkat petani. Kadar kandungan senyawa aktif pada tanaman hasil panen tradisional sering kali berubah-ubah akibat perbedaan cara tanam dan kondisi cuaca di lapangan.
Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, BRIN menyusun panduan baku penanganan pascapanen serta rantai pasok teratur yang disesuaikan dengan standar kebutuhan pabrik farmasi. Kerja sama lintas sektor terus dibangun dengan melibatkan akademisi, pemerintah, kelompok tani, hingga pelaku usaha swasta.
Harapannya, kolaborasi ini mampu mempercepat penetapan standar bahan baku nasional, sehingga produk olahan purwoceng buatan memiliki daya saing tinggi di pasar global.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


