Stasiun Kampung Bandan adalah stasiun kereta api kelas II di Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Lokasinya sangat strategis karena berada di dekat WTC Mangga Dua, ITC Mangga Dua, kawasan wisata Ancol, dan kawasan Gunung Sahari.
Stasiun ini menjadi titik temu berbagai lintas kereta api di sisi utara Jakarta. Stasiun ini dikelola oleh Daerah Operasi I Jakarta dan melayani perjalanan Commuter Line rute Cikarang serta rute Tanjung Priok.
Stasiun Kampung Bandan memiliki jalur dan peron bertingkat yang memungkinkan kereta dari lintas berbeda beroperasi secara bersamaan dalam satu kawasan. Disadur dari Instagram resmi Commuter Line, Stasiun Kampung Bandan melayani rute Jakarta Kota-Tanjung Priok dengan peron atas melayani rute Tanjung Priok, sedanngkan peron bawah melayani rute Cikarang/Bekasi via Pasar Senen.
Sejarah Stasiun Kampung Bandan
Nama Kampung Bandan konon berkaitan erat dengan era kolonialisme Belanda. Salah satu versi sejarah menyebutkan bahwa nama ini merujuk pada tawanan dari Pulau Banda, Maluku, yang dibawa oleh Jan Pieterszoon Coen ke Batavia di tahun 1620-an. Mereka kemudian ditempatkan di sebuah permukiman yang menjadi saksi bisu perkembangan wilayah Kampung Bandan.
Merangkum dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS), dahulu Dinas Pekerjaan Pelabuhan Batavia bekerja sama dengan perusahaan Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) untuk menggabungkan rel Heemradenplein-Tandjongpriok milik mereka dengan Stasiun Batavia (Batavia Noord) milik NIS.
Kedua stasiun ini dihubungkan untuk mempermudah mobilisasi. Pos percabangan ini juga yang menjadi cikal lahirnya Halte Kampoengbandan.
Halte Kampoengbandan sendiri baru resmi mulai beroperasi pada 12 September 1923 untuk mengatur lalu lintas dan persinyalan kereta api. Halte ini dulu tidak dipakai sebagai tempat naik-turun penumpang.
Pemerintah Hindia Belanda melakukan elektrifikasi di berbagai jalur, termasuk lintas Tandjongpriok-Batavia via emplasemen Halte Kampoengbandan. Mereka juga membuat trase baru yang membuat kereta tak lagi saling menunggu untuk bersilang. Walhasil, kereta tak perlu lagi melewati Halte Kampoengbandan.
Di tahun 1980-an, pemerintah Indonesia ingin membangun jalur Kemayoran-Angke dan membuat stasiun penumpang baru di kawasan viaduk atau jalur KA di Kampung Bandan.
Proyek ini menggandeng perusahaan Jepang. Kemudian, dibangun stasiun stasiun penumpang baru di lokasi viaduk untuk mengakomodir angkutan penumpang dari dua lintas, yakni Stasiun Kampung Bandan yang diresmikan pada 7 April 1987.
Berlanjut di tahun 1990-an, trase lama Kampung Bandan-Sungapi Lagoa via Ancol atau Kampung Bandan bawah ditutup. Hal ini membuat tidak ada lagi layanan kereta barang.
Layani Commuter Line
Stasiun Kampung Bandan saat ini memiliki jalur atas dan bawah. Uniknya, stasiun ini juga sempat diterjang banjir berkali-kali.
Commuter Line mencatat, total volume penumpang yang naik-turun di Stasiun Kampung Bandan mengalami peningkatan tiap tahunnya. Tahun 2023 saja, ada lebih dari 1,6 juta pengguna yang berlalu-lalang di stasiun ini.
Tahun 2024, jumlahnya naik menjadi lebih dari 1,8 juta orang dan tahun 2025 menjadi 1,9 juta orang. Sementara itu, per Mei 2026, Stasiun Kampung Bandan mencatatkan jumlah pengguna sebanyak 780 ribu.
Selain itu, stasiun ini juga digunakan sebagai lokasi transit yang sangat penting. Per Mei 2026, KAI mencatatkan sudah ada lebih dari 2,9 juta penumpang yang melakukan transit di stasiun ini, menunjukkan bahwa Stasiun Kampung Bandan memiliki peran vital sebagai simpul konektivitas.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


