Sebuah renungan tentang mekanisme dekolonisasi dan hak pribumi dalam menafsirkan sejarahnya sendiri.
Sejarah, dalam pandangan kolonial, selalu diperlakukan seperti satu jalan lurus; dari primitif ke beradab, dari gelap ke tercerahkan, dengan Barat sebagai titik puncak dan standar ukur atas segala sesuatu. Sementara semua peradaban lain diletakkan sebagai versi yang belum sampai ke sana.
Dekolonisasi menolak logika satu-jalan ini. Sebab, sejarah bukan garis lurus menuju satu titik akhir yang sama, melainkan banyak jalan, banyak logika, banyak cara memaknai waktu dan peristiwa; dan tak satu pun berhak jadi penguasa tunggal atas makna. Sebab, setiap tempat punya kosmologinya sendiri, lengkap dengan ukurannya sendiri.
Arsip-arsip, kategori-kategori, hingga istilah-istilah standarwi yang diwariskan penjajah, dan sering dipakai begitu saja bahkan oleh sejarawan pribumi sendiri, adalah warisan paling licik dari kolonialisme. Sebab, ia tak lagi butuh penjajahan fisik untuk bekerja.
Ia menjelma pagar yang bersembunyi dalam kamus, menentukan cara pandang, dan memonopoli cara kita memaknai masa silam. Dengan begitu, penjajahan akan terus berlangsung, meski secara fisik keberadaan mereka sudah tidak ada. Sebab yang mereka jajah bukan lagi wilayah, tapi makna dan istilah.
Baca Selengkapnya

