Foto: Menpora Erick Thohir (Kemenpora)
BERITA – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyoroti berbagai tantangan serius yang justru berpotensi melemahkan peran dan potensi pemuda di tengah momentum bonus demografi yang sedang dialami bangsa Indonesia. Hal ini disampaikan Erick saat memaparkan pandangan dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang berlangsung di Ruang Rapat Komisi X DPR RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Selasa (14/7).
Dalam pemaparannya, Erick mengemukakan sejumlah isu mendasar yang menjadi ancaman nyata bagi masa depan generasi muda. Isu pertama yang menjadi sorotan tajam adalah polarisasi yang terjadi di ruang digital. Kondisi ini dinilai telah melahirkan berbagai polemik, sekaligus membuat kalangan pemuda sangat rentan terpapar informasi yang tidak benar atau disinformasi. Lebih jauh, kondisi ini berisiko besar mendorong mereka terlibat dalam konflik antar kelompok maupun menjadi pihak yang memperburuk suasana ketidakstabilan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Masalah terkait ruang digital ini menjadi polemik tersendiri yang harus kita hadapi. Alhamdulillah, pemerintah mulai menyadari hal ini dan telah mengambil langkah kebijakan untuk membatasi penggunaan sarana digital di lingkungan sekolah bagi usia mulai 16 tahun. Saya menyadari keputusan ini terkesan kontroversial, namun saya yakin langkah ini adalah yang paling tepat. Lihatlah negara lain seperti Australia yang masyarakatnya terbuka saja sudah melakukan koreksi terhadap pola penggunaan digital di kalangan mudanya, apalagi kita yang kualitas sistem pendidikannya masih tertinggal dibandingkan negara maju,” papar Erick.
Selain tantangan di ruang maya, isu kesehatan mental juga menjadi bayang-bayang serius yang menimpa generasi muda. Kondisi ini menuntut perhatian khusus serta penanganan yang komprehensif agar para pemuda dapat kembali bangkit dan berkontribusi secara maksimal.
Baca Selengkapnya

