klinik ini jadikan sampah sebagai ongkos berobat gagasan unik antarkan bening saguling foundation raih kalpataru 2026 - News | Good News From Indonesia 2026

Klinik Ini Jadikan Sampah sebagai Ongkos Berobat: Gagasan Unik Antarkan Bening Saguling Foundation Raih Kalpataru 2026

Klinik Ini Jadikan Sampah sebagai Ongkos Berobat: Gagasan Unik Antarkan Bening Saguling Foundation Raih Kalpataru 2026
images info

Bening Saguling Foundation raih Kalpataru Adya 2026 berkat gagasan unik untuk menangani sampah


Cukup bawa sampah minimal satu kilogram, Kawan bisa mengakses bantuan pengobatan. Ya, inilah program yang diterapkan Klinik Mitra Enviro, hasil dari olah pikir Bening Saguling Foundation, lembaga swadaya masyarakat yang berbasis di Desa Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat.

Gagasan unik itulah yang akhirnya mengantarkan Bening Saguling Foundation meraih Penghargaan Kalpataru 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup (LH). Ini jelas menjadi sebuah penghargaan tertinggi negara bagi individu maupun kelompok yang berjasa dalam pelestarian lingkungan.

Tahun ini, sebanyak 16 orang dan kelompok menerima penghargaan tersebut. Salah satu nama besar yang hadir dalam daftar penerima adalah Emil Salim, ekonom senior sekaligus mantan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup, yang menerima kategori lifetime achievement.

Bening Saguling Foundation tak ketinggalan. Setelah disebut pada 2020, kali ini Bening Saguling Foundation kembali meraih penghargaan tersebut. Lebih tepatnya, Kalpataru Adya Tahun 2026 kategori Penghargaan Kalpataru Lestari.

Sungai yang Bening di Hulu, Keruh di Hilir

Untuk memahami mengapa Bening Saguling layak diganjar penghargaan ini, penting melihat kondisi Sungai Citarum lebih dulu. Di kawasan Cisanti, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, air sungai memang masih jernih. Sayangnya, di bagian hilir, kondisi sungainya beda jauh akibat limbah industri dan sampah domestik.

Sungai Citarum merupakan salah satu sungai terpanjang sekaligus paling vital di Jawa Barat. Alirannya membentang dari hulu hingga bermuara di Karawang dan menjadi sumber kehidupan bagi jutaan warga. Selama bertahun-tahun, pemerintah berupaya memulihkan kondisinya melalui Program Citarum Harum. Namun, berbagai persoalan lingkungan masih menjadi tantangan besar di sepanjang aliran sungai ini.

Kondisi itulah yang mendorong Bening Saguling Foundation mengambil peran, khususnya di ruas Km 77 hingga Km 100 Sungai Citarum. Selama mendampingi upaya pemulihan kawasan tersebut, yayasan ini menemukan tiga persoalan utama yang terus berulang, yakni timbunan sampah domestik, ledakan populasi eceng gondok, serta sedimentasi yang mengganggu aliran sungai.

Di luar persoalan lingkungan, mereka juga menghadapi tantangan sosial yang tak kalah kompleks. Banyak warga di bantaran sungai masih hidup dalam kondisi ekonomi yang terbatas, dengan akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan yang relatif rendah.

Tiga Pilar: Pencegahan, Pelestarian, Edukasi

Direktur Eksekutif Bening Saguling Foundation, Muhammad Dzikri Fauzan, menjelaskan bahwa lembaganya membangun tiga program besar untuk terjun mengatasi masalah sampah, yakni pencegahan, pelestarian, dan edukasi.

Program pencegahan mencakup pemilahan sampah organik lewat inisiatif "UNIK" (Urus Sampah Organik), klinik kesehatan berbayar sampah Mitra Enviro, Bank Sampah Induk Bangkit Bersama dengan 25 unit di Bandung Barat dan Cimahi, hingga TPS3R yang melibatkan sekitar 300 kepala keluarga.

Di sisi pelestarian, ada Citarum Repair Project, kolaborasi dengan River Recycle dan Waste4Change yang memakai alat trashboom dan mesin conveyor untuk mengambil sampah sungai. Data sampah yang terkumpul bahkan digunakan untuk riset di Finlandia.

Ada pula Plastic Credit Project yang mengumpulkan 51 ton sampah plastik bernilai rendah per bulan, dengan total akumulasi sekitar 250 ton, serta pemanfaatan eceng gondok seluas 85 hektare di Waduk Saguling menjadi kerajinan tas dan sandal.

Program edukasi diwujudkan lewat Festival Citarum tahunan dan Sekolah Alam Tunas Inspiratif, sekolah yang uniknya menerima pembayaran dalam bentuk sampah untuk jenjang TK dan SMP.

Ketika Sampah Berubah Jadi Telur Ayam

Salah satu inovasi yang paling menarik dari Bening Saguling adalah konsep ekonomi sirkular lewat kolaborasi dengan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) sejak 2023. BRI Peduli mendukung pembangunan kandang ayam petelur berukuran 8x25 meter berisi 1.500 ekor ayam, lengkap dengan mobil pengangkut sampah organik.

"Jadi dulu tuh BRI Peduli support kami dalam bentuk fisik support pembuatan kandang ayam petelur, terus juga mobil untuk mengangkut sampah organik," ungkap Dzikri.

Mekanismenya sederhana namun cerdas. Sampah organik dari 24 titik di Bandung Raya, meliputi 17 titik perumahan serta kawasan horeka dan industri, diolah menjadi pakan maggot atau larva lalat black soldier fly. Maggot ini kemudian menjadi pakan ayam petelur.

Karena sumber pakan gratis dari sampah, harga telur pun bisa ditekan.

"Biasanya di pasaran mungkin di harga Rp27.000-Rp28.000 kita biasa bisa jual ke masyarakat dengan harga yang lebih murah," jelas Dzikri.

Sebagian hasil telur bahkan disisihkan untuk program sarapan gratis bagi masyarakat sekitar setiap bulannya.

Jejak Panjang Sebelum Kalpataru 2026

Pengakuan atas kerja Bening Saguling sebenarnya kali pertama diberikan. Sejak 2016, yayasan ini sudah mengumpulkan sejumlah penghargaan, di antaranya Anugerah Inovasi Pemberdayaan Provinsi Jawa Barat (2016), Anugerah Inovasi Teknologi Tepat Guna dari Kementerian Desa (2017), status Kampung Iklim dari KLHK (2018), Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2020), hingga Anugerah Raksa Prasada dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat (2021).

Kalpataru 2026 sebagai penegasan sekaligus menandakan konsistensi kerja mereka selama lebih dari satu dekade, bukan sekadar proyek jangka pendek untuk mengejar penghargaan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.