Jarum jam belum genap menunjukkan pukul tiga ketika grup WhatsApp di ponsel Salma Nadhifah Hasna Khairiyyah mulai banyak mengeluarkan bunyi notifikasi. Teman-temannya membicarakan tentang pengumuman SNBP yang tinggal menghitung menit.
Ketimbang mengikuti obrolan itu, Salma memilih untuk menunaikan salat Asar lebih dulu. Ia baru membuka hasil seleksi setelahnya. Kabar baik, ia diterima di Program Studi Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM). Bonusnya, subsidi UKT 100%.
Di rumahnya di Padukuhan Nogosari, Desa Sidokarto, Godean, Sleman, tangis haru pun pecah karena sebuah perjuangan panjang akhirnya membuahkan hasil.
Ibu Tunggal, Jualan Air Galon lewat WhatsApp
Kisah ini sebenarnya bukan tentang Salma seorang. Ini juga tentang Riyanti (48), ibunya, yang sejak 2021 menjadi tulang punggung keluarga setelah sang suami meninggal dunia.
Tanpa pekerjaan tetap, Riyanti mulai berjualan air minum kemasan. Bukan lewat toko atau penjualan yang mapan, melainkan lewat telepon genggam. Biasanya, Riyanti menerima pesanan via WhatsApp, lalu mengantarkannya sendiri ke warung-warung dan pelanggan yang membutuhkan.
Penghasilan dari menjual air minum tidak menentu, rata-rata sekitar Rp1,5 juta per bulan. Model usaha semacam ini sebenarnya mencerminkan potret umum sektor informal di Indonesia, di mana banyak kepala keluarga bertahan hidup dari usaha kecil tanpa jaminan pendapatan tetap maupun perlindungan sosial formal. Namun keterbatasan itu tidak pernah membuat Riyanti berhenti berharap.
"Saya sering ada di titik terendah dalam keluarga. Tapi Tuhan itu Maha Baik. Kita berusaha terus. Kalau hari ini tidak jualan, nanti ada rezeki lain yang tiba-tiba datang," ujarnya, Rabu (8/7), sebagaimana dikutip dari laman resmi UGM.
Mendukung Mimpi Tanpa Tahu Jalan Keluarnya
Kawan, mari kilas balik Salma nekat mengungkapkan mimpinya melanjutkan kuliah.
Ketika Salma menyampaikan keinginannya untuk kuliah di UGM, Riyanti tidak langsung punya jawaban soal biaya. Yang ia punya hanya tekad untuk tidak menghalangi mimpi anaknya.
"Salma cerita kalau dia mau kuliah. Saya bilang pokoknya semangat belajar, insyaallah ada jalannya. Meskipun ada keterbatasan ekonomi, saya tetap dukung. Tidak tahu jalannya dari mana, tapi dicoba dulu saja," katanya.
Betapa gigihnya Riyanti karena tidak menahan cita-cita anaknya dengan alasan ekonomi. Ketimbang menyurutkan semangat putrinya, ia memilih mendukung lebih dulu dan mencari solusi belakangan.
Apa yang dilakukan Riyanti jelas bukan tak berdasar. Selama di SMAN 1 Godean, ia tahu persis bahwa Salma tidak hanya rajin secara akademik, tetapi juga aktif di ekstrakurikuler jurnalistik sekolah. Ketekunan Salma inilah yang menjadi dasar ibunya untuk tetap memperjuangkan mimpi anaknya.
Terbukti, pada akhirnya Salma lolos dan resmi menjadi calon mahasiswa UGM. Bahkan, ia dapat subsidi UKT 100%
"Keadaan ekonomi kini memang sulit, tetapi ternyata alhamdulillah UGM memberi subsidi sampai 100 persen dan itu di luar bayangan saya selama ini," ujar Salma.
Bagi Riyanti, kabar itu terasa seperti jawaban dari doa yang ia panjatkan hampir sepekan penuh sebelum pengumuman.
"Perasaan saya sudah dag dig dug sejak satu minggu sebelum pengumuman. Saya terus berdoa, ya Allah tolong luluskan anakku," katanya.
Salma sendiri menyadari betul peran ibunya dalam setiap langkah yang ia tempuh.
“Peran ibu sangat penting bagi saya karena ibu sendiri yang sudah membesarkan saya dari saya kecil. Beliau adalah sosok yang kuat, yang selalu memberi saya support sampai sekarang. Saya tidak akan berada di titik ini kecuali dengan ibu saya. Makasih umi," tuturnya.
Riyanti pun menaruh harapan sederhana untuk masa depan.
"Salma itu hatinya kecil. Saya selalu memberi semangat ke Salma meskipun ayahnya sudah tidak ada. Insyaallah umi sehat dan kuat, masih bisa mendampingi Salma," ucapnya.
Kini Salma bersiap memulai babak baru sebagai mahasiswa Psikologi UGM. Ia berharap bisa memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, belajar sungguh-sungguh, dan mengembangkan potensi dirinya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


