gantikan gandum impor siapa sangka kalau sorgum bisa jadi bahan baku terigu lokal - News | Good News From Indonesia 2026

Gantikan Gandum Impor, Siapa Sangka Kalau Sorgum Bisa Jadi Bahan Baku Terigu Lokal

Gantikan Gandum Impor, Siapa Sangka Kalau Sorgum Bisa Jadi Bahan Baku Terigu Lokal
images info

Dok. Dwi Setijo Widodo (Shutterstock)


Ancaman perubahan iklim yang diikuti oleh fenomena cuaca ekstrem seperti kemarau panjang El Nino memaksa sektor pertanian nasional untuk segera berbenah. Jika terus mengandalkan pola tanam konvensional, angka produktivitas pangan dalam negeri dipertaruhkan.

Guna mengantisipasinya, Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN mendorong integrasi teknologi budidaya pada komoditas tangguh, salah satunya adalah tanaman sorgum.

Sorgum dinilai menjadi kandidat kuat pangan masa depan karena kemampuannya yang luar biasa untuk tetap tumbuh subur di lahan kering maupun tanah marginal yang miskin hara. Dari sisi ketahanan ekonomi, biji tanaman ini diproyeksikan mampu menjadi bahan baku substitusi tepung terigu di pasar domestik.

Langkah pengalihan ini menjadi hal yang penting mengingat Indonesia masih terjebak melakukan impor gandum dengan volume yang sangat fantastis, yakni menembus angka 11 juta ton setiap tahunnya.

Ketergantungan akut tersebut menguras devisa negara dalam jumlah besar, sehingga kehadiran varietas sorgum unggul diharapkan mampu memotong rantai pasokan luar negeri tanpa menurunkan kualitas mutu olahan pangan di tingkat konsumen.

Pemanfaatan tanaman ini juga dirancang multifungsi untuk menyuplai sektor energi hijau nasional. Selain itu, sisa biomassa batangnya juga dilirik oleh perusahaan swasta sebagai bahan campuran (co-firing) batu bara pada fasilitas pembangkit listrik di berbagai daerah.

 

Tembakan Sinar Gamma Mempercepat Evolusi Genetik

Akselerasi penciptaan bibit unggul ini berhasil diwujudkan berkat adopsi teknologi pemuliaan modern berbasis mutasi induksi. Metode ini bekerja dengan cara mempercepat munculnya keragaman variasi genetik baru pada tanaman, yang nantinya akan diseleksi secara ketat oleh tim peneliti di lapangan.

Dalam prosesnya, peneliti memanfaatkan mutagen berupa radiasi sinar gamma untuk memicu perubahan materi genetik pada tingkat genom atau kromosom tumbuhan.

Penggunaan radiasi ini diklaim sangat efektif dan direkomendasikan secara internasional oleh Joint FAO/IAEA karena tidak melibatkan penyisipan gen asing dari luar, sehingga status produknya berbeda dengan tanaman transgenik (GMO).

"Induksi mutasi menggunakan radiasi gamma tidak meninggalkan residu radiasi pada tanaman. Produk yang dihasilkan pada dasarnya sama dengan mutasi alami, hanya proses terbentuknya dipercepat," ujar Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Prof. Soeranto.

Aplikasi teknologi nuklir damai ini mampu memutus keterpautan genetik yang tidak diinginkan pada tanaman. Sebagai contoh, pada kasus padi lokal yang dikenal punya rasa nasi sangat pulen namun masa panennya terlampau lama, tembakan sinar gamma bisa memisahkan sifat lambat tersebut, sehingga dihasilkan varietas baru yang tetap enak namun berumur genjah atau cepat dipanen.

 

Deretan Varietas Mutan Unggul Penghuni Sawah Rakyat

Guna menyokong riset mutasi tanaman berskala makro ini, infrastruktur riset telah diperkuat dengan ketersediaan lima unit fasilitas gamma irradiator, laboratorium kultur jaringan, hingga sistem analisis bioteknologi terpadu.

Pada pelaksanaannya, dosis radiasi harus dihitung secara presisi sejak awal karena setiap jenis tanaman memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap paparan mutagen.

Proses penyaringan tanaman mutan sudah mulai digarap sejak generasi kedua (M2). Tim peneliti memfokuskan pencarian pada karakter fisik yang kebal terhadap hantaman kekeringan, tingkat keasaman tanah yang tinggi, kadar salinitas air laut, hingga resistensi terhadap serangan hama wereng.

Hingga saat ini, pemanfaatan teknologi mutasi di dalam negeri telah sukses menelurkan puluhan varietas unggul baru yang telah dilepas secara resmi ke sektor industri pertanian. Daftarnya mencakup 34 varietas padi, 15 varietas kedelai, tiga varietas sorgum, hingga gandum tropis.

Beberapa produk mutan yang kini menjadi andalan para petani di antaranya adalah padi varietas Mustajab dan Inpari Sidenuk yang mencatatkan potensi panen melimpah hingga 10 ton per hektare sekaligus kebal dari penyakit blas.

Di sektor palawija, terdapat kedelai varietas Mutiara 1 berukuran biji raksasa, serta sorgum varietas Pahat yang berpostur semi-kerdil namun menyimpan cadangan biomassa yang melimpah untuk kebutuhan industri pakan ternak.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.