Ada cerita panjang di balik dinding batu setinggi sekitar 125 meter yang menjulang di kawasan karst Bandung Barat. Bukan sekadar arena panjat tebing, kawasan yang populer dengan nama Citatah 125 itu menyimpan mitos Sangkuriang, sejarah olahraga ekstrem Indonesia, hingga kegelisahan masyarakat terhadap masa depan sumber air.
Cerita tersebut terungkap saat EIGER mengundang sejumlah jurnalis mengikuti hari pertama Media Field Journal, Kamis, 9 Juli 2026. Berkolaborasi dengan Outdoor Good Hub dan Monti Outdoor Service, perjalanan dimulai dengan menyusuri Tebing Pabeasan di Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
Di tempat inilah para jurnalis bertemu warga lokal sekaligus pegiat panjat tebing, Yoga Zara dan Hasan Husaeri.
Citatah 125 Ternyata Pabeasan, Mitos Sangkuriang Jadi Pesan Menjaga Alam
Nama Citatah 125 mungkin lebih familiar di kalangan pencinta aktivitas luar ruang. Namun Yoga Zara mengungkapkan, masyarakat lokal sebenarnya mengenal dinding karst tersebut sebagai Tebing Pabeasan.
Nama Citatah muncul karena keberadaan PT Citatah di sekitar kawasan. Sementara angka 125 merujuk pada perkiraan tinggi tebing.
“Adapun nama Citatah 125 muncul karena di sekitar lokasi terdapat pabrik PT Citatah. Orang-orang dari luar kemudian menggunakan nama itu sebagai penanda lokasi. Sementara angka 125 merujuk pada tinggi tebing,” kata Yoga.
Jauh sebelum kawasan industri berkembang, masyarakat telah memiliki cara tersendiri untuk menjaga bentang alam karst. Salah satunya melalui cerita dan mitos yang diwariskan lintas generasi.
“Lokasi ini adalah salah satu spot dalam kawasan karst Bandung Barat. Orang-orang terdahulu mengaitkannya dengan mitos agar kawasan ini tetap terjaga. Warga dulu menghubungkan bentang alam karst ini dengan kisah amuk Sangkuriang yang gagal menikahi Dayang Sumbi karena mereka memahami pentingnya menjaga kawasan ini,” kata Yoga.
Bagi masyarakat, cerita rakyat bukan hanya dongeng pengantar tidur. Mitos menjadi semacam benteng budaya agar manusia tidak sembarangan merusak alam.
Karst Terancam Tambang, Warga Pernah Menghadapi Krisis Air Bersih
Di balik keindahan tebing, muncul persoalan yang lebih serius. Aktivitas penambangan dan industri batu kapur terus berkembang di sekitar kawasan karst Bandung Barat.
Hasan Husaeri mengatakan Tebing Pabeasan kini berstatus sebagai destinasi wisata dan pengelolaannya telah berada di bawah BUMDes. Namun lokasi wisata tersebut tetap berdampingan dengan aktivitas industri dan pertambangan.
“Sebelumnya status kawasan ini merupakan kawasan cagar alam geologis. Sekarang beralih menjadi kawasan wisata, tetapi tetap berdampingan dengan kawasan tambang dan industri. Untuk wisata berbasis alam seperti ini tentu ada dampak yang dirasakan dari aktivitas tambang dan industri. Meski demikian, saat ini pengelolaan wisatanya sudah dipegang oleh BUMDes,” ujar Hasan.
Kekhawatiran terbesar bukan hanya hilangnya bentang alam. Kawasan karst mempunyai fungsi penting sebagai penyimpan air alami.
“Kawasan karst berfungsi sebagai tangki air alami. Jika terus ditambang, maka sumber-sumber mata air akan hilang dan masyarakat sekitar akan merasakan dampaknya,” ujarnya.
Masyarakat bahkan pernah mengalami krisis air bersih. Jaringan pompa sepanjang sekitar dua kilometer harus dibangun dari kawasan Cisereh untuk memenuhi kebutuhan warga dan kawasan wisata.
“Kalau kawasan karst Citatah rusak, bukan hanya wisata yang terdampak, tetapi masyarakat juga akan kehilangan sumber air,” katanya.
Sejak 2010, masyarakat bersama komunitas pencinta alam telah memperjuangkan moratorium pertambangan di kawasan karst Rajamandala. Perjuangan itu sempat menghasilkan penetapan kawasan sebagai cagar alam geologi dalam RTRW 2012. Namun, menurut Yoga, status perlindungan tersebut berubah pada 2024 setelah tidak lagi diakui dalam regulasi Kementerian ESDM.
Dari Tebing Bersejarah Menuju Kisah Pendaki Indonesia di Gunung Eiger
Tebing Pabeasan juga memiliki posisi istimewa dalam sejarah panjat tebing nasional. Hasan menyebut kawasan tersebut menjadi lokasi praktik panjat tebing modern menggunakan peralatan khusus pada 1976.
“Citatah memiliki sejarah besar bagi dunia panjat tebing Indonesia. Selain menjadi arena olahraga, kawasan ini juga memiliki fungsi pendidikan, rekreasi, petualangan, dan pembinaan prestasi,” ujarnya.
Dari Citatah, rombongan Media Field Journal melanjutkan perjalanan ke pabrik EIGER di Katapang, Kabupaten Bandung. Para jurnalis melihat proses pembuatan tas, mulai pemotongan material, penjahitan, pengendalian kualitas, hingga produk siap dipasarkan.
Perjalanan hari pertama berakhir di EIGER Store Jalan Sumatra, Kota Bandung. Film dokumenter “Tebing Tuhan Aku” diputar untuk membawa peserta mengenal perjalanan Harry Suliztiarto dan tim ekspedisi Indonesia menaklukkan Gunung Eiger di Swiss.
Diskusi kemudian menghadirkan Mamay S. Salim, anggota ekspedisi bersejarah tersebut, serta Seven Summiter Indonesia Sofyan Arief Fesa atau Ian yang dijadwalkan mengikuti jejak pendakian Gunung Eiger.
Public Relations EIGER, Sulhan Syamsul Rijal, berharap Media Field Journal memberikan pengalaman lebih utuh kepada jurnalis tentang semangat petualangan yang dibangun EIGER.
Perjalanan sehari itu akhirnya mempertemukan tiga cerita: mitos Sangkuriang yang dahulu digunakan untuk menjaga alam, perjuangan mempertahankan karst Citatah, dan keberanian pendaki Indonesia menghadapi dinding ekstrem dunia.
Sebab petualangan rupanya bukan hanya soal mencapai puncak. Terkadang, tantangan terbesarnya justru memastikan tebing, mata air, dan cerita di sekitarnya tetap hidup untuk generasi berikutnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


