Ketergantungan para petani lokal terhadap penggunaan pupuk kimia konvensional dalam dosis berlebih kini mulai memicu dampak buruk yang serius.
Alih-alih membuat tanaman tumbuh subur, pola pemupukan yang tidak efisien tersebut justru memicu pembengkakan biaya modal produksi yang sangat tinggi. Berdasarkan data pemantauan, sebagian besar unsur hara dari pupuk biasa ternyata hilang menguap begitu saja ke udara atau larut terbawa air irigasi sebelum sempat diserap oleh akar tanaman.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa tanaman sebetulnya hanya mampu menyerap sekitar 35 hingga 40 persen saja dari total nutrisi yang ditaburkan oleh petani. Sementara itu, lebih dari 70 persen sisa bahan kimia lainnya terbuang percuma ke lingkungan sekitar melalui proses pencucian tanah, penguapan gas, maupun reaksi kimia internal bumi.
Akibatnya, tingkat produktivitas lahan sawah terus merosot akibat degradasi kualitas tanah, yang dibarengi dengan meningkatnya angka pencemaran ekosistem air.
Menyikapi ancaman kerusakan lahan tersebut, Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN mencoba menawarkan jalan keluar ramah lingkungan melalui sosialisasi di Desa Sidowayah, Kabupaten Klaten. Mereka memperkenalkan formula pupuk modifikasi bernama Slow Release Fertilizer (SRF) atau NPK dengan sistem pelepasan terkontrol.
"Selama ini efisiensi pemupukan masih relatif rendah. Sebagian besar unsur hara justru hilang ke lingkungan sebelum sempat dimanfaatkan tanaman," ujar Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Sutardi.
Kondisi tersebut mempercepat penurunan kualitas tanah, sehingga intervensi teknologi pemupukan bertahap dinilai mendesak untuk segera diterapkan secara massal.
Memanfaatkan Bahan Alami Sebagai Pelapis Nutrisi
Cara kerja teknologi pupuk NPK SRF ini tergolong cerdas karena mengubah sifat pelepasan unsur hara yang tadinya cepat larut (fast release) menjadi tersedia secara pelan-pelan (slow release).
Formula kimia nitrogen, fosfor, dan kalium dibungkus menggunakan lapisan khusus yang bertindak sebagai "jaket pelindung". Jaket pelapis ini bekerja memanfaatkan mekanisme adsorpsi, difusi, dan pertukaran ion agar nutrisi keluar sedikit demi sedikit mengikuti ritme kebutuhan tumbuh tanaman.
Uniknya, bahan-bahan yang dipakai untuk membuat lapisan pelindung pupuk ini seluruhnya memanfaatkan material alami yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan pedesaan.
Tim peneliti meracik kombinasi antara batuan zeolit, kapur tohor, kapur kalsit, guano fosfat, biochar sekam padi, arang tempurung kelapa, hingga kotoran kambing organik. Penggunaan bahan alami ini menjamin bahwa sisa residu penguraian pupuk di dalam tanah dipastikan bebas dari kandungan logam berat yang beracun.
Hasil uji coba laboratorium dan lapangan membuktikan bahwa asupan nutrisi yang stabil ini berdampak sangat positif pada pembentukan struktur fisik padi. Tanaman menunjukkan pertumbuhan jaringan akar yang lebih lebat, jumlah anakan produktif yang bertambah banyak, hingga proses fotosintesis daun yang lebih maksimal.
Bahkan pada beberapa pengujian formula terbaik, kuantitas penggunaan pupuk kimia konvensional milik petani bisa dipangkas antara 25 hingga 50 persen tanpa menurunkan tonase hasil panen gabah.
Hilirisasi Riset Menjadi Mesin Penggerak Ekonomi Desa
Penerapan inovasi pertanian ini disambut baik oleh pemerintah daerah sebagai langkah taktis untuk memulihkan kandungan bahan organik tanah di wilayah Klaten yang mulai jenuh akibat paparan zat kimia selama puluhan tahun.
Di tingkat akar rumput, program hilirisasi teknologi ini tidak hanya berhenti pada urusan urus-mengurus padi di sawah. Pemerintah Desa Sidowayah melirik potensi ekonomi baru dengan berencana menyerahkan pengelolaan produksi dan distribusi pupuk SRF ini ke unit usaha lokal.
"Saya sangat antusias dengan adanya workshop yang diadakan oleh BRIN dan sangat mendukung kegiatan ini karena bertujuan untuk kemajuan masyarakat Sidowayah," kata Lurah Desa Sidowayah, Mujahid Jaryanto.
Pihak desa menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi kebutuhan infrastruktur, sarana produksi, hingga ketersediaan dana awal. Melalui keterlibatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), inovasi teknologi hijau ini diharapkan bisa diproduksi secara mandiri di tingkat lokal guna mendongkrak kesejahteraan ekonomi masyarakat desa secara berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


