Suatu hari guru Ekonomi saya bertanya di kelas, “Siapa di antara kalian yang sudah membayar pajak?” Hampir semua teman termasuk saya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Wajar saja kami masih berstatus belajar dan belum memiliki penghasil tetap. Namun, pertanyaan itu membuat saya berpikir lebih jauh, meskipun belum menjadi wajib pajak setiap hari saya menikmati berbagai fasilitas yang dibangun dari uang pajak.
Saya belajar di sekolah negeri, melewati jalan yang menghubungkan desa ke kota, memanfaatkan layanan kesehatan, hingga menikmati berbagai program pemerintah yang bertujuan peningkatan kualitas pendidikan. Saat itulah saya menyadari bahwa pajak sebenarnya sudah hadir dalam kehidupan saya meskipun saya belum menjadi pembayarannya.
Kesadaran tersebut terasa semakin penting ketika melihat kondisi dunia yang penuh ketidakpastian. Konflik antar negara, perlambatan ekonomi global, perubahan iklim, hingga perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat setiap negara harus memiliki kemampuan bertahan menghadapi berbagai tantangan. Indonesia pun tidak terkecuali, agar pembangunan setiap berjalan dan pelayanan publik tidak berhenti, negara memerlukan kondisi fiskal yang kuat. Salah satu sumber utama kekuatan fiskal tersebut adalah penerimaan pajak
Di tengah dinamika global pembahasan mengenai perluasan basis pajak menjadi semakin relevan. Selama ini, sebagian masyarakat menganggap upaya meningkatkan penerimaan pajak identik dengan menaikkan tarif pajak. Padahal langkah tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik, yang jauh lebih penting adalah memastikan semakin banyak masyarakat dan pelaku usaha yang memenuhi kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dengan kata lain, negara perlu memperluas basis pajak agar penerimaan negara menjadi lebih kuat tanpa membani kelompok wajib pajak yang selama ini sudah patuh.
Menurut saya memperluas basis pajak bukan sekedar persoalan administrasi atau menegakkan hukum. Tantangan yang sesungguhnya justru terletak pada cara membangun kesadaran masyarakat yang masih ada anggapan bahwa pajak hanyalah beban yang mengurangi penghasilan, padahal manfaatnya kembali kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan dan pelayan publik. Ketika masyarakat belum memahami hubungan tersebut, kepatuhan pajak akan sulit tumbuh secara sukarela.
Sebagai pelajar saya melihat bahwa solusi jangka panjang sebenarnya dapat dimulai dari dunia pendidikan. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk membantu karakter warga negara yang bertanggung jawab. Tapi sayangnya, literasi mengenai pajak masih sering dipahami sebatas definisi atau rumus dalam mata pelajaran. Padahal yang lebih penting adalah menumbuhkan kesadaran mengenai alasan mengapa pajak harus dibayar dan bagaimana pajak berperan dalam kehidupan masyarakat.
Menurut saya inilah celah yang perlu diperkuat apabila Indonesia ingin memperluas basis pajak secara berkelanjutan. Generasi muda memang belum menjadi penyumbang penerimaan pada hari ini, tetapi merekalah yang akan menjadi wajib pajak pada masa depan. Jika sejak bangku sekolah mereka telah memahami pentingnya pajak, maka kepatuhan tidak akan muncul karena takut terhadap sanksi, melainkan karena kesadaran bahwa bayar pajak merupakan bentuk partisipasi dalam membangun bangsa.
Kesadaran seperti itu tentu tidak dapat tumbuh hanya melalui ceramah di ruang kelas, dibutuhkan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda. Misalnya, sekolah dapat mengadakan proyek pembelajaran yang mengajak siswa mengenali pembangunan di daerahnya yang dibiayai oleh APBN dan APBD, membuat konten edukasi perpajakan di media sosial, atau menghadirkan narasumber dari instansi perpajakan untuk berdiskusi secara langsung. Dengan cara tersebut pajak tidak lagi dipandang sebagai konsep yang jauh dari kehidupan pelajar, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Selain pendidikan, perkembangan teknologi juga membuka peluang besar untuk memperluas basis pajak. Semakin banyak masyarakat yang bertransaksi secara digital, membangun usaha melalui media sosial, hingga memanfaatkan berbagai platform daring untuk memperoleh penghasilan. Perubahan ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi Indonesia terus berkembang, oleh karena itu sistem perpajakan juga perlu terus beradaptasi agar mampu menjangkau aktivitas ekonomi baru secara adil tanpa menghambat inovasi. Di sisi lain kemudahan layanan perpajakan berbasis digital juga dapat mendorong masyarakat untuk lebih mudah mendaftarkan diri, melapor, dan memenuhi kewajiban perpajakan.
Namun, upaya terus harus berjalan beriringan dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. masyarakat akan lebih terdorong untuk taat membayar pajak ketika mereka melihat bahwa penerimaan negara dikelola secara transparan, akuntabel, dan benar-benar digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, kepercayaan dan kepatuhan merupakan dua hal yang saling menguatkan. Ketika keduanya tumbuh perluasan basis pajak tidak lagi dipandang sebagai upaya menambah beban masyarakat melainkan sebagai langkah memperkuat fondasi pembangunan nasional.
Sebagai pelajar yang tinggal di wilayah perbatasan, saya merasakan bahwa pembangunan memiliki arti yang sangat nyata. jalan yang lebih baik memudahkan masyarakat mengakses pendidikan dan layanan kesehatan. Fasilitas sekolah yang semakin lengkap memberikan kesempatan belajar yang lebih baik berbagai pembangunan tersebut tentu memerlukan pembiayaan yang berkelanjutan. Karena itulah, saya memandang bahwa memperkuat penerimaan negara melalui perluasan basis pajak bukan hanya menjadi kepentingan pemerintah tetapi juga kepentingan seluruh masyarakat Indonesia
Saya percaya bahwa membangun budaya sadar pajak harus dimulai jauh sebelum seorang memiliki kewajiban membayar pajak, sama seperti menanam pohon hasilnya tidak dapat dinikmati dalam waktu singkat. Kesadaran perlu ditumbuhkan, dipelihara, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ketika pendidikan mampu menanamkan nilai tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama, maka generasi muda akan tumbuh menjadi warga negara yang memahami bahwa membayar pajak bukan sekedar memenuhi kewajiban hukum tetapi juga bentuk kontribusi nyata terhadap masa depan bangsa.
Pada akhirnya memperluas basis pajak bukan hanya tentang menambah jumlah wajib pajak, melainkan membangun kesadaran kolektif bahwa setiap warga negara memiliki peran dalam menjaga keberlangsungan pembangunan. di tengah dinamika global yang semakin kompleks, Indonesia memerlukan fondasi fiskal yang kuat agar mampu menghadapi berbagai tantangan tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat. Pondasi tersebut tidak hanya dibangun melalui kebijakan yang baik tetapi juga melalui masyarakat yang memahami arti penting pajak bagi kehidupan bersama.
Sebagai pelajar saya mungkin belum dapat berkontribusi melalui pembayaran pajak, namun saya dapat memulai dari hal yang sederhana, yaitu belajar, memahami, dan menyebarkan kesadaran bahwa pajak adalah investasi bersama untuk masa depan Indonesia.
Saya percaya bahwa ketika kesadaran itu tumbuh sejak bangku sekolah, perluasan basis pajak bukan lagi menjadi target jangka pendek pemerintah, melainkan menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat, dari kesadaran itulah ketahanan fisikal Indonesia akan semakin kokoh sehingga bangsa ini mampu menghadapi berbagai dinamika global dengan lebih percaya diri dan tetap melanjutkan pembangunan bagi generasi yang akan datang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


