stasiun brumbung jejak kolonial yang masih hidup di masa kini - News | Good News From Indonesia 2026

Stasiun Brumbung, Jejak Kolonial yang Masih Hidup di Masa Kini

Stasiun Brumbung, Jejak Kolonial yang Masih Hidup di Masa Kini
images info

Stasiun Brambang | Rizal Febri Ardiansyah/Wikipedia


Stasiun Brumbung adalah salah satu stasiun kereta api tertua di Indonesia yang terletak di Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. Bangunan bersejarah ini sudah ada sejak era kolonial dan masih beroperasi hingga saat ini.

Berada pada ketinggian 16 meter di atas permukaan laut, stasiun ini menjadi pintu masuk utama transportasi rel bagi warga Demak. Lokasinya sangat strategis karena terletak tidak jauh dari jalan raya Semarang-Purwodadi dan Pasar Ganefo.

Sama halnya dengan stasiun peninggalan Belanda lainnya, arsitektur Stasiun Brumbung juga masih sangat khas dengan nuansa tempo dulu yang tetap terjaga.

Saksi Bisu Jalur Kereta Api Pertama

Disadur dari Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, Stasiun Brumbung diresmikan pada tanggal 10 Agustus 1867 bersamaan dengan operasional Stasiun Alastua di Semarang.

Peresmian ini sekaligus menandai difungsikannya jalur kereta api pertama di Indonesia yang dibangun oleh perusahaan swasta asal Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Kawan GNFI, dulu, kawasan Brumbung merupakan simpul penting untuk kereta penumpang dan barang. Banyak petani dan pedagang dari Grobogan serta Demak yang naik kereta dari stasiun ini untuk membawa hasil bumi seperti tebu.

Jalur awal yang dibangun oleh NISM ini awalnya menggunakan lebar sepur standar 1.435 mm sebelum akhirnya banyak dikonversi ke sepur sempit. Meskipun usianya kini telah melewati satu setengah abad, struktur asli bangunan ini tetap kokoh.

Stasiun Brumbung dikategorikan adalah stasiun kereta api kelas I. Pengelolaannya berada di bawah Daerah Operasi IV Semarang.

baca juga

Secara teknis, Stasiun Brumbung memiliki peran penting karena menjadi titik percabangan antara jalur menuju Surabaya dan Surakarta. Letaknya yang berada di persimpangan utama menjadikannya salah satu titik krusial dalam pengaturan lalu lintas kereta di lintas utara Jawa.

Stasiun ini memiliki tujuh jalur kereta api yang terbagi ke dalam dua emplasemen utama di sisi utara dan selatan bangunan. Jalur selatan melayani rute menuju Solo Balapan, sedangkan jalur utara memfasilitasi perjalanan kereta ke arah Surabaya dan Semarang.

Keunikan arsitekturnya terlihat dari penggunaan lantai tegel serta jendela dan pintu kayu besar yang menjadi ciri khas bangunan kolonial abad ke-19. Pelestarian fisik stasiun ini dilakukan oleh PT KAI untuk menjaga nilai historisnya sebagai cagar budaya perkeretaapian nasional.

Jejak GANEFO di Brambang

Masyarakat lokal lebih mengenal tempat ini dengan sebutan Stasiun Ganefo karena letaknya yang berdampingan dengan Pasar Ganefo. Konon, nama tersebut merujuk pada peristiwa tahun 1962 saat area ini menjadi lokasi istirahat rombongan pembawa api abadi ajang olahraga GANEFO.

Dikatakan bahwa Presiden Soekarno juga tercatat pernah hadir secara langsung di kawasan stasiun ini untuk mengikuti rangkaian acara seremonial kerakyatan.

Kini, Stasiun Brumbung masih aktif melayani berbagai kereta api dari arah barat maupun timur Pulau Jawa. Namun, selain melayani naik turunnya penumpang, stasiun ini juga digunakan untuk kereta api angkuta semen dan peti kemas.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.