mengapa banyak mahasiswa merasa sibuk tetapi tidak produktif - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Banyak Mahasiswa Merasa Sibuk, tetapi Tidak Produktif?

Mengapa Banyak Mahasiswa Merasa Sibuk, tetapi Tidak Produktif?
images info

Foto oleh Vitaly Gariev di Unsplash


Setiap pagi, seorang mahasiswa memulai harinya dengan mengikuti perkuliahan. Setelah itu, ia menghadiri rapat organisasi, mengerjakan tugas kelompok, mengikuti seminar daring, lalu menutup hari dengan menyelesaikan laporan yang harus dikumpulkan keesokan pagi.

Jadwalnya penuh. Hampir tidak ada waktu luang. Namun ketika malam tiba, muncul pertanyaan yang cukup mengganggu.

"Seharian sibuk, tetapi sebenarnya apa yang sudah berhasil aku capai?"

Perasaan seperti ini tidak asing bagi banyak mahasiswa. Aktivitas yang padat sering kali membuat seseorang merasa produktif. Padahal, sibuk dan produktif bukanlah dua hal yang selalu berjalan beriringan.

Di lingkungan kampus, kesibukan bahkan sering dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak kegiatan yang diikuti, semakin aktif seseorang dianggap. Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa yang berusaha mengisi jadwal mereka dengan berbagai aktivitas tanpa benar-benar mempertimbangkan manfaatnya.

baca juga

Ketika Kesibukan jadi Identitas

Menjadi mahasiswa saat ini tidak hanya tentang menghadiri perkuliahan. Banyak juga yang aktif dalam organisasi, kepanitiaan, kompetisi, program magang, hingga berbagai kegiatan pengembangan diri lainnya.

Semua aktivitas tersebut tentu memiliki manfaat. Namun, masalah muncul ketika seseorang mulai merasa harus mengikuti semuanya sekaligus.

Tidak sedikit mahasiswa yang khawatir dianggap kurang aktif jika tidak mengikuti organisasi. Ada pula yang merasa harus menghadiri banyak seminar demi menambah sertifikat atau mempercantik curriculum vitae (CV).

Akibatnya, jadwal menjadi semakin padat, tetapi energi dan perhatian justru terbagi ke terlalu banyak hal.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang mungkin terlihat sangat sibuk dari luar. Namun kenyataannya, banyak pekerjaan yang dikerjakan secara terburu-buru tanpa hasil yang optimal. Kesibukan akhirnya berubah menjadi tujuan, bukan lagi sarana untuk berkembang.

Terlalu Banyak Aktivitas, Terlalu Sedikit Fokus

Salah satu penyebab mahasiswa merasa sibuk, tetapi tidak produktif adalah sulitnya menjaga fokus.

Di era digital, perhatian seseorang mudah terpecah oleh berbagai hal. Notifikasi pesan, media sosial, rapat daring, hingga tugas yang datang bersamaan membuat konsentrasi terus berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.

Akibatnya, banyak waktu yang sebenarnya habis bukan untuk bekerja, melainkan untuk berpindah fokus.

Seorang mahasiswa mungkin membuka laptop untuk mengerjakan tugas. Namun, beberapa menit kemudian, ia memeriksa media sosial, membalas pesan grup, lalu membuka platform lain yang tidak berkaitan dengan pekerjaan utamanya.

Aktivitas tersebut terlihat ringan, tetapi jika terjadi berulang kali dapat mengurangi efektivitas belajar dan bekerja.

baca juga

Dalam berbagai penelitian mengenai produktivitas, kemampuan untuk fokus pada satu pekerjaan dalam waktu tertentu terbukti lebih efektif dibandingkan mengerjakan banyak hal secara bersamaan.

Sayangnya, budaya multitasking masih sering dianggap sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa modern.

Produktif Tidak Selalu Berarti Melakukan Banyak Hal

Produktivitas sering disalahartikan sebagai kemampuan menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaan dalam satu hari.

Padahal, produktif lebih berkaitan dengan kemampuan mencapai tujuan yang penting secara efektif.

Seseorang yang menyelesaikan satu tugas utama dengan baik bisa jadi lebih produktif dibandingkan orang yang menyelesaikan lima pekerjaan kecil tanpa hasil yang jelas.

Karena itu, penting bagi mahasiswa untuk mulai membedakan antara aktivitas yang penting dan aktivitas yang hanya membuat jadwal terlihat penuh.

Mengikuti banyak kegiatan memang dapat memberikan pengalaman berharga. Namun, memilih beberapa aktivitas yang benar-benar sesuai dengan tujuan dan kemampuan diri sering kali memberikan hasil yang lebih baik.

Pada akhirnya, tantangan terbesar mahasiswa bukanlah bagaimana membuat jadwal menjadi semakin padat, melainkan bagaimana menggunakan waktu yang dimiliki secara lebih bermakna.

Kesibukan mungkin membuat seseorang terlihat aktif. Namun produktivitas adalah tentang memastikan bahwa energi, waktu, dan perhatian yang diberikan benar-benar membawa kemajuan.

Di tengah budaya kampus yang serba cepat, kemampuan untuk menentukan prioritas mungkin menjadi keterampilan yang sama pentingnya dengan prestasi akademik itu sendiri.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.