Halo, Kawan GNFI!
Masalah limbah rumah tangga seperti minyak goreng bekas pakai atau minyak jelantah seringkali diabaikan dan dibuang begitu saja hingga mencemari lingkungan.
Di sisi lain, anak-anak penyandang disabilitas fisik yang telah menyelesaikan masa sekolah formal (post-school) kerap menghadapi tantangan besar dalam mendapatkan keterampilan hidup (life skills) yang dapat menunjang kemandirian ekonomi mereka.
Melihat adanya dua tantangan tersebut, sekelompok mahasiswa dari UNS mengambil langkah nyata melalui program pengabdian kepada masyarakat.
Kegiatan ini berhasil didanai dan dilaksanakan sebagai bagian dari program Hibah Jaringan Penggerak Akademik (JARPAK) 2026. Pada tanggal 24 April 2026, bertempat di Aula SLB D/D1 YPAC Surakarta, tim pengabdian mahasiswa UNS menyelenggarakan edukasi, demonstrasi, dan praktik langsung pembuatan lilin aromaterapi dengan memanfaatkan minyak jelantah. Acara tersebut melibatkan partisipasi aktif dari para murid pascasarjana beserta orang tua mereka.
Pemilihan lokasi di YPAC Surakarta didasari oleh pertimbangan sosiologis bahwa lembaga ini merupakan salah satu pusat pembinaan anak disabilitas fisik (tunadaksa) tertua di Indonesia yang berkomitmen kuat dalam mencetak kemandirian anak, yaitu mengubah limbah menjadi nilai ekonomis. Kegiatan pengabdian ini dirancang dengan dua tujuan utama yang saling berkesinambungan.
Tujuan pertama adalah memberikan edukasi ekologis mengenai pemanfaatan limbah. Mahasiswa UNS memperkenalkan kepada para murid dan orang tua bahwa minyak jelantah yang biasanya dibuang dan menyumbat saluran air sebenarnya dapat dimurnikan kembali. Bahkan, diolah menjadi produk baru yang memiliki nilai estetis serta nilai jual tinggi, seperti lilin aromaterapi.
Dalam sesi demonstrasi, mahasiswa menjelaskan proses penjernihan minyak jelantah menggunakan bahan alami seperti arang aktif atau kulit pisang terlebih dahulu untuk menghilangkan bau tengik.
Setelah minyak jernih, proses dilanjutkan dengan pelelehan bahan pengeras (seperti stearin atau soy wax), pencampuran minyak, serta penambahan minyak esensial (essential oil) sebagai sumber wewangian aromaterapi yang menenangkan.
Tujuan kedua dari kegiatan ini adalah melatih kemampuan vokasi khusus bagi murid pascasarjana. Bagi anak-anak tunadaksa, keterampilan motorik halus dan ketekunan merupakan aspek yang harus terus distimulasi melalui aktivitas fungsional yang menyenangkan.
Praktik pembuatan lilin aromaterapi ini menjadi sarana terapi okupasi dan vokasional yang aman karena seluruh prosesnya disesuaikan dengan kapasitas fisik anak dan dilakukan di atas meja kerja (deskwork).
Sinergi murid dan orang tua di suasana Aula SLB D/D1 YPAC Surakarta tampak hidup dan dipenuhi antusiasme ketika praktik langsung dimulai. Setiap meja kerja diisi oleh kolaborasi antara murid pascasarjana dan orang tua mereka. Sinergi ini sengaja dibentuk oleh tim mahasiswa UNS untuk membangun pemahaman yang selaras antara pihak sekolah, anak, dan rumah.
Para murid dilatih menggunakan tangan dominan mereka untuk menakar bahan, mengaduk formula lilin secara perlahan, serta menuangkan cairan lilin ke dalam gelas kaca kecil yang sudah diberi sumbu.
Bagi murid dengan kekakuan otot tangan (spastik), aktivitas mengaduk dan menuang ini menjadi latihan Bina Gerak yang sangat baik untuk melatih kontrol kekuatan otot jemari mereka.
Sementara itu, para orang tua bertindak sebagai pendamping yang membantu memegang gelas atau menstabilkan posisi alat bantu agar cairan lilin tidak tumpah. Tidak hanya fokus pada proses pembuatan, mahasiswa UNS juga memberikan materi tambahan mengenai teknik pengemasan (packing) produk dan pelabelan kreatif.
Lilin aromaterapi yang sudah mengeras dihias menggunakan pita dan stiker label buatan para murid sendiri. Langkah ini bertujuan membuka wawasan para orang tua bahwa produk kerajinan tangan ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi usaha mikro berbasis rumah tangga (home industry).
Harapan Kemandirian Masa Depan melalui Hibah JARPAK 2026: kegiatan pengabdian mahasiswa Universitas Sebelas Maret ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda satu hari saja, melainkan menjadi stimulus berkelanjutan.
Murid post-sekolah yang selama ini bingung menentukan arah produktivitas setelah lulus sekolah kini memiliki alternatif keterampilan hidup yang nyata dan bernilai ekonomi. Edukasi mengenai pengelolaan limbah minyak jelantah ini membuka mata masyarakat sekitar bahwa dengan kreativitas dan adaptasi metode yang tepat, keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi lingkungan dan ekonomi keluarga.
Sinergi antara mahasiswa UNS, pihak YPAC Surakarta, murid, dan orang tua menjadi modal sosial utama dalam mewujudkan lingkungan inklusif yang mandiri dan berdaya guna di Kota Surakarta.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


