Urusan memperluas pasar ekspor terus didorong. Kali ini, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membidik kawasan Eurasia dengan mempererat hubungan bilateral bersama Rusia. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya mempercepat pertumbuhan manufaktur sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Panggung utamanya adalah pameran INNOPROM 2026 yang bakal digelar di Ekaterinburg, Rusia, pada 6–9 Juli 2026. Dalam ajang internasional tersebut, Indonesia mendapatkan status terhormat sebagai Partner Country. Status ini dinilai menjadi momentum bagus untuk membuka keran investasi dan kolaborasi teknologi antar-kedua negara.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sudah bertemu dengan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov, di Jakarta untuk mematangkan persiapan. Selain membahas pameran, pertemuan itu juga menjajaki penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Kerja Sama Industri yang baru sebagai payung hukum kolaborasi ke depan.
Dari Urusan Galangan Kapal Sampai Riset Asbes
Hubungan Jakarta-Moskow sebenarnya bukan barang baru. Jauh sebelum pameran di Ekaterinburg ini dirancang, kedua negara sudah menyepakati dua nota kesepahaman pada Desember 2025.
Isinya mengatur tentang kerja sama di sektor industri perkapalan dan kajian ilmiah terkait penggunaan asbes krisotil yang aman.
Melalui momentum pameran ini, pemerintah ingin implementasi dua kesepahaman tersebut bisa berjalan lebih cepat. Urusan riset asbes dan pembuatan kapal diharapkan segera membuahkan program konkret yang melibatkan para pelaku usaha dari kedua belah pihak secara langsung.
Untuk memastikan misi ini berjalan maksimal, Kemenperin tidak berangkat dengan tangan kosong. Pemerintah memboyong sekitar 50 perusahaan dari berbagai sektor strategis.
Daftarnya mulai dari industri makanan dan minuman, permesinan, elektronik, furnitur, teknologi digital, energi hijau, hingga manufaktur yang berorientasi ekspor.
Kehadiran delegasi Indonesia di Rusia nanti tidak cuma untuk memajang barang di stan pameran. Kemenperin sudah menjadwalkan serangkaian forum bisnis dan diskusi panel untuk membedah sektor-sektor potensial yang bisa digarap bersama.
Beberapa komoditas andalan yang bakal disorong dalam diskusi antara lain industri kelapa sawit, petrokimia, perkapalan, aluminium, hingga pengelolaan kawasan industri.
Forum-forum ini disiapkan sebagai ruang negosiasi langsung bagi para pelaku usaha kedua negara untuk memotong jalur birokrasi yang berbelit.
Menperin sendiri mengaku optimistis dengan rencana keberangkatan ini. Target jangka panjang dari kunjungan ini adalah memicu transfer teknologi dan mewujudkan kemitraan industri yang berkelanjutan, bukan sekadar seremonial tanda tangan di atas kertas.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


