Anggi Wahyuda Ceritakan Beratnya Daki Gunung Kerinci dengan Satu Kaki
Anggi Wahyuda adalah kreator konten yang kerap mendapat sorotan di media sosial masa ini. Konten-konten yang ia ciptakan berupa kegiatannya berlari dan mendaki gunung dari satu tempat ke tempat lainnya.
Namun, Anggi tidak seperti pelari dan pendaki gunung pada umumnya. Ia hanya memiliki satu kaki setelah kakinya diamputasi seusai kecelakaan menimpanya semasa SMA pada 2015 lalu. Untuk berjalan terlebih mendaki gunung, Anggi pun mesti menggunakan sepasang kruk yang dibawanya ke mana saja.
Kekurangan justru tidak membuat Anggi terpuruk. Semangatnya untuk hidup masih dan bahkan terus menyala sehingga ia menjadi pelari dan pendaki gunung yang istimewa bermodalkan satu kaki yang tersisa.
Tetap Ceria
Kehilangan salah satu anggota tubuh karena insiden jelas membuat siapapun akan bersedih. Termasuk juga Anggi yang mengaku merasakan masa-masa depresi selama dua tahun pascakecelakaan yang menimpanya.
Kondisi psikologisnya semakin berat tatkala Anggi harus memupuskan cita-citanya. Beban bertambah pula karena ia harus beradaptasi dan menenangkan kerabatnya dengan kondisinya yang tidak seperti dulu lagi.
“Orang-orang paling banyak depresi adalah orang yang disabilitasnya karena kecelakaan bukan dari lahir. Kalau dia dari lahir sudah dikuatkan keluarganya. Nah, kalau dia kecelakaan dan sebagainya, dia yang harus nguatin keluarganya dan sebagainya. Makanya berat banget,” ujar Anggi kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Akan tetapi, Anggi berupaya untuk bangkit. Keceriaan terus dibagikannya melalui akun media sosialnya tempat ia berbagi, bertumbuh sekaligus belajar. Kegiatan berlari hingga mendaki gunung memberi pembuktian bahwa ia tetap kuat meskipun berstatus difabel.
“Semakin kita depresi kan enggak buat kita jadi lebih baik, tapi buat kita jadi lebih buruk. Makanya kalau ada masalah udah ketawa aja. Dibilang orang gila enggak apa-apa, kan kita enggak di jalan,” kata Anggi yang kini sudah memiliki ratusan ribu pengikuti di sejumlah platform.
Mendaki di Kedinginan
Gunung Kerinci memiliki ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut. Di gunung yang terletak di perbatasan Jambi dan Sumatra Barat inilah Anggi menebalkan niatannya membuat konten pendakian gunung.
Mendaki gunung dengan dua kaki tidaklah mudah, apa lagi dengan satu kaki saja. Menyadari hal itu Anggi pun melakukan persiapan fisik dengan berolahraga.
“Cuma dua minggu persiapannya sebelum Lebaran. Sebelum sahur aku lari, pace-ku juga 9-10 ya. Pokoknya 5km pagi, 5km sore sebelum buka (puasa) selama dua minggu. Kalau enggak lari aku renang, jadi makanya pada saat itu alhamdulillah fisik amanlah,” ucap Anggi.
Melakukan pendakian tidak cukup hanya berbekal latihan fisik, tetapi juga mental. Anggi yang bermodalkan satu kaki saja sudah paham benar bahwa mentalitas turut diuji selama melibas jalur pendakian.
“Prinsipku adalah yakin aja dulu kan ada Allah. Kalau Allah sayang pasti dikasih keselamatan. Mental aja dulu. Prinsipku pokoknya kalau enggak bisa lari, jalan, kalau enggak bisa jalan, merangkak. Intinya bergerak. Manjat akar-akar pohon untuk sampai di selanya, sesulit itu banget. Pagi itu dingin banget, kabutnya juga banyak. Jadi parahlah untuk kedinginannya,” ungkapnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

