kenalan dengan apartemen ayam maggot di bandung rancangan dosen itb - News | Good News From Indonesia 2026

Kenalan dengan Apartemen Ayam-Maggot di Bandung Rancangan Dosen ITB

Kenalan dengan Apartemen Ayam-Maggot di Bandung Rancangan Dosen ITB
images info

Kandang ayam bertingkat ini mampu sulap sampah organik jadi telur untuk cegah stunting


Linus Ampang Pasasa, dosen Fisika ITB punya keresahan yang sudah lama mengganjal. Kota tempatnya tinggal, kota tempatnya mengajar, kota yang konon keren itu, terus-menerus tersedak oleh sampahnya sendiri.

Maka Linus membangun kandang ayam bertingkat empat di gang permukiman RW 02 Kelurahan Pasirlayung, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat. Inisiasi ini merupakan bagian dari program yang didukung pendanaan dan pengorganisasian oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB.

Lantas, apa hubungannya sampah dengan kandang ayam? Linus memproses sampah rumah tangga yang nantinya dijadikan sebagai pakan ayam.

“Saya sebagai warga Bandung merasa prihatin melihat persoalan sampah. Sebagai dosen, saya berpikir bagaimana ilmu yang kami miliki bisa memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Dari situlah lahir Bersemi Farm, dari sampah menjadi gizi," katanya.

Tak hanya ayam, program ini juga diwujudkan dalam bentuk instalasi pengolahan sampah organik yang memadukan apartemen ayam, kolam ikan, dan budidaya maggot.

Ini Bukan Kandang Ayam Biasa, Ini "Apartemen"

Ayam-ayam di Pasirlayung tinggal di kandang bertingkat. Ya, berdasarkan dari bentuknya itu, kandangnya disebut Apartemen Ayam Maggot.

Di apartemen itu, sampah dapur warga berupa kulit buah, sisa sayuran, remahan nasi semalam, diproses. Sampah itu diserahkan ke ribuan larva lalat tentara hitam, yang dalam dunia ilmiah disebut maggot Black Soldier Fly (BSF).

Dalam waktu sekitar 48 jam, mereka bisa menghabiskan sampah organik yang kalau dikompos biasa butuh tiga bulan. Setelah maggot kenyang dan tumbuh besar, mereka dipanen dan dijadikan pakan ayam kampung yang kandangnya ada persis di atasnya.

Ayam makan maggot, ayam bertelur, telur dibagikan ke warga dan posyandu untuk mencegah stunting. Kotoran ayam? Jatuh ke bawah, jadi makanan maggot lagi.

"Ketika maggot sudah besar, maggot bisa diberikan kembali sebagai pakan ayam. Hasil akhirnya berupa daging dan telur yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk untuk kegiatan di kampung, pemenuhan gizi, dan pencegahan stunting melalui posyandu-posyandu sekitar," kata Linus dalam kunjungan ITB ke lokasi, Juni 2026.

Sebenarnya, desain kandang berbentuk vertikal bukan untuk gaya-gayaan. Lahan di Pasirlayung itu sempit. Kalau mau dibuat horizontal, tidak akan muat. Kandang ditumpuk ke atas, maggot di bawah kandang, kotoran langsung jatuh ke tempatnya. Bahkan, telur didesain supaya bisa menggelinding sendiri ke wadah penampungan, supaya tidak pecah saat dipanen.

Kapasitasnya 300 Kg Per Hari, Warga Baru Pasok 75 Kg

Saat ini fasilitas Bersemi Farm mampu mengolah hingga 300 kilogram sampah organik per hari, sementara produksi sampah warga RW 02 baru mencapai 50 hingga 75 kilogram per hari. Artinya, kapasitas yang terpakai baru seperempat.

Tapi ini memang disengaja. Linus membangun dengan kapasitas berlebih karena ia ingin fasilitas ini bisa jadi solusi kolektif, bukan solusi satu RW.

"Kami sengaja membuat kapasitas besar. Kalau ada wilayah lain yang belum memiliki pengolahan sampah organik, sampahnya bisa dibawa ke sini sehingga tidak lagi berakhir di TPA," katanya.

Target Pemkot Bandung sendiri hanya 25 kilogram per RW per hari. RW 02 Pasirlayung sudah dua sampai tiga kali lipat dari target itu. Dan kapasitas pengolahannya masih bisa menampung empat kali lebih banyak dari yang masuk sekarang.

Warga Belajar Milah Sampah

Membangun kandang dan membeli larva itu bagian yang lebih mudah. Mengubah kebiasaan orang, itu kerja keras yang sesungguhnya.

Rahayu Wijayanti, Ketua RW 02 Pasirlayung, mengakui prosesnya panjang. Komposter mulai diperkenalkan sejak 2023, tapi berjalan tersendat karena tidak ada petugas yang mengelola secara khusus. Baru ketika Program Gasla hadir pada awal 2026 dengan satu petugas pemilah sampah per RT, semuanya mulai bergerak.

Kini warga tidak cukup hanya memisahkan organik dan anorganik. Mereka harus memilah lebih jauh. Sisa makanan matang untuk langsung ke ayam, kulit buah dan sayuran mentah untuk maggot.

"Alhamdulillah masyarakat mulai terbiasa memilah sampah. Bahkan saya sendiri ikut belajar bagaimana mengolah sampah yang benar agar bisa memberikan manfaat," kata Rahayu.

Di lapangan, ada kelompok yang secara informal disebut ABK—Anak Buah Kandang. Mereka warga biasa, karang taruna, yang tiap hari membantu beri makan ayam dan mengurus instalasi. Fasilitas ini bahkan sudah pakai panel surya untuk listriknya. Mandiri energi, mandiri pakan, mandiri dari TPA.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.