Soto merupakan hidangan legendaris khas Nusantara yang digandrungi oleh berbagai kalangan masyarakat di Indonesia. Kuahnya yang gurih, dipadukan dengan rempah-rempah pilihan, soto berhasil memanjakan lidah bagi siapa saja yang menikmatinya.
Saat ini, kita dapat menjumpai soto di mana saja. Mulai di tempat pusat kuliner, pasar tradisional, warung kaki lima, hingga restoran mahal di perkotaan. Hal ini selaras dengan banyaknya jenis soto yang tersebar di seluruh penjuru nusantara.
Guru Besar Universitas Gajah Mada Prof. Murdijati Gardjito menyebutkan terdapat 75 jenis soto yang tersebar di Indonesia.
Dari jumlah tersebut, 61 jenis soto atau 81,33 persen di antaranya berada di Pulau Jawa dan Madura. Sisanya tersebar di Sumatra, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, dan Kalimantan, dikutip dari interaktif.kompas.id
Beragamnya soto di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat pengaruh akulturasi budaya, sentuhan tangan masyarakat lokal dalam mengolahnya, dan pemanfaatan rempah-rempah nusantara.
Lalu, dengan faktor-faktor tersebut kita jadi tahu bahwa dalam semangkuk soto yang kita santap sekarang, ternyata memiliki perjalanan historis yang panjang.
Proses Akulturasi Budaya dalam Soto
Sejarah mengungkapkan bahwa hidangan soto berasal dari Tiongkok. Denys Lombard dalam bukunya yang bertajuk Nusa Jawa: Silang Budaya menyebutkan hidangan berkuah ini berasal dari negara Cina yang dikenal dengan sebutan Caudo atau Jau to.
Pada abad ke-19 para imigran dari Cina membawa konsep soto ke Indonesia dan hidangan tersebut pertama kali populer di Kota Semarang, Jawa Tengah. Sesuai dengan negara asalnya, soto disajikan dengan menggunakan jeroan babi.
Namun, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama muslim, maka digantikan dengan daging ayam, sapi, kerbau, beserta dengan jeroannya.
Tidak hanya protein hewani, komponen-komponen lain, seperti sayuran, rempah-rempah, dan bahan pelengkap lainnya turut dipengaruhi oleh budaya Tionghoa, India, Eropa, dan Jawa. Akulturasi tersebut kemudian semakin berkembang dan menghasilkan variasi soto di seluruh penjuru nusantara.
Ragam Soto Nusantara dan Jejak Akulturasi Budaya
Soto Betawi
Hidangan berkuah asal Jakarta yang satu ini, pastinya banyak memikat hati para penikmatnya dan mudah ditemukan di mana saja. Soto Betawi terkenal dengan kuah santannya yang gurih dipadukan dengan isiannya yang berupa daging sapi, serta jeroannya seperti, babat, kikil, dan lainnya.
https://
(Preview akan muncul di halaman artikel)
Dalam proses memasaknya, daging dan jeroannya pun harus dipisah agar tidak meninggalkan bau atau rasa yang amis ketika disantap. Setelah itu, bumbu yang harus dipersiapkan adalah bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit, jahe, cabai merah, cengkeh, lengkuas, ketumbar, jinten, dan garam.
Bumbu-bumbu tersebut kemudian dihaluskan, lalu ditumis dengan daun salam dan batang serai hingga matang. Lalu, dimasukan ke dalam kuah kaldu yang beserta daging dan jeroan yang sudah dibersihkan. Kemudian untuk step terakhir, tambahkan susu atau santan, setelah itu masak hingga matang.
Selain itu, soto Betawi memiliki beragam versi, ada yang menggunakan kuah santan, kuah bening, hingga kuah susu yang menawarkan cita rasa gurih dengan tekstur yang lebih lembut di mulut.
Variasi dari kuah soto Betawi yang menggunakan susu ini berasal dari akulturasi budaya Eropa, terutama Belanda yang lazim menggunakan susu dan krim dalam berbagai jenis masakan Eropa.
Soto Banjar
https://


