akulturasi budaya dalam semangkuk soto - News | Good News From Indonesia 2026

Akulturasi Budaya dalam Semangkuk Soto

Akulturasi Budaya dalam Semangkuk Soto
images info

Akulturasi budaya pada semangkuk soto | pixabay.com (tifanitopan)


Soto merupakan hidangan legendaris khas Nusantara yang digandrungi oleh berbagai kalangan masyarakat di Indonesia. Kuahnya yang gurih, dipadukan dengan rempah-rempah pilihan, soto berhasil memanjakan lidah bagi siapa saja yang menikmatinya. 

Saat ini, kita dapat menjumpai soto di mana saja. Mulai di tempat pusat kuliner, pasar tradisional, warung kaki lima, hingga restoran mahal di perkotaan. Hal ini selaras dengan banyaknya jenis soto yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. 

Guru Besar Universitas Gajah Mada Prof. Murdijati Gardjito menyebutkan terdapat 75 jenis soto yang tersebar di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, 61 jenis soto atau 81,33 persen di antaranya berada di Pulau Jawa dan Madura. Sisanya tersebar di Sumatra, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, dan Kalimantan, dikutip dari interaktif.kompas.id

baca juga

Beragamnya soto di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat pengaruh akulturasi budaya, sentuhan tangan masyarakat lokal dalam mengolahnya, dan pemanfaatan rempah-rempah nusantara.

Lalu, dengan faktor-faktor tersebut kita jadi tahu bahwa dalam semangkuk soto yang kita santap sekarang, ternyata memiliki perjalanan historis yang panjang. 

Proses Akulturasi Budaya dalam Soto

Sejarah mengungkapkan bahwa hidangan soto berasal dari Tiongkok. Denys Lombard dalam bukunya yang bertajuk Nusa Jawa: Silang Budaya menyebutkan hidangan berkuah ini berasal dari negara Cina yang dikenal dengan sebutan Caudo atau Jau to

Pada abad ke-19 para imigran dari Cina membawa konsep soto ke Indonesia dan hidangan tersebut pertama kali populer di Kota Semarang, Jawa Tengah. Sesuai dengan negara asalnya, soto disajikan dengan menggunakan jeroan babi.

Namun, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama muslim, maka digantikan dengan daging ayam, sapi, kerbau, beserta dengan jeroannya. 

Tidak hanya protein hewani, komponen-komponen lain, seperti sayuran, rempah-rempah, dan bahan pelengkap lainnya turut dipengaruhi oleh budaya Tionghoa, India, Eropa, dan Jawa. Akulturasi tersebut kemudian semakin berkembang dan menghasilkan variasi soto di seluruh penjuru nusantara. 

Ragam Soto Nusantara dan Jejak Akulturasi Budaya 

Soto Betawi 

Hidangan berkuah asal Jakarta yang satu ini, pastinya banyak memikat hati para penikmatnya dan mudah ditemukan di mana saja. Soto Betawi terkenal dengan kuah santannya yang gurih dipadukan dengan isiannya yang berupa daging sapi, serta jeroannya seperti, babat, kikil, dan lainnya. 

(Preview akan muncul di halaman artikel)

 

Dalam proses memasaknya, daging dan jeroannya pun harus dipisah agar tidak meninggalkan bau atau rasa yang amis ketika disantap. Setelah itu, bumbu yang harus dipersiapkan adalah bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit, jahe, cabai merah, cengkeh, lengkuas, ketumbar, jinten, dan garam. 

Bumbu-bumbu tersebut kemudian dihaluskan, lalu ditumis dengan daun salam dan batang serai hingga matang. Lalu, dimasukan ke dalam kuah kaldu yang beserta daging dan jeroan yang sudah dibersihkan. Kemudian untuk step terakhir, tambahkan susu atau santan, setelah itu masak hingga matang. 

baca juga

Selain itu, soto Betawi memiliki beragam versi, ada yang menggunakan kuah santan, kuah bening, hingga kuah susu yang menawarkan cita rasa gurih dengan tekstur yang lebih lembut di mulut. 

Variasi dari kuah soto Betawi yang menggunakan susu ini berasal dari akulturasi budaya Eropa, terutama Belanda yang lazim menggunakan susu dan krim dalam berbagai jenis masakan Eropa.

Soto Banjar 

Soto Banjar, asal Banjarmasin diperkirakan muncul setelah tahun 1563, waktu di mana para pedagang Tiongkok banyak berdatangan ke Banjarmasin. Kota ini pada akhir abad XVI dikenal sebagai daerah kerajaan penghasil lada. Hal ini yang menjadi indikasi masuknya soto ke Banjarmasin pada saat itu.

Setelah itu seiring dengan berjalannya waktu, soto Banjarmasin mengalami penyesuaian pada resepnya. Contohnya pada penggunaan susu di dalam kuahnya yang merupakan pengaruh dari Belanda.

Hal itu disebabkan karena di Banjarmasin, terdapat banyak pedagang dari Belanda yang menghidangkan sup dengan frikadeller atau yang biasa kita kenal dengan perkedel. Dalam pengolahannya, pedagang Belanda biasa menggunakan susu untuk kuah supnya.

Soto Banjar memiliki ciri khas kuah yang menggunakan kaldu ayam kampung, lalu ditambahkan dengan soun, serta rempah-rempah yang terdiri dari cengkih, adas, kayu manis, bunga lawang, dan lada.

Untuk karbohidratnya sendiri, soto Banjar biasanya ditemani oleh lontong atau ketupat yang berisi telur rebus, serta kondimen lainnya, seperti perkedel, sate ayam, dan telur asin.

Soto Lamongan

Soto Lamongan khas kabupaten Lamongan, Jawa Timur memiliki keunikan tersendiri, yaitu kuahnya yang berwarna kuning serta tambahan koya gurih yang menjadi bintang utamanya. 

Pertama kali muncul sekitar tahun 1980-an hingga 1990-an, soto lamongan telah melalui proses modifikasi resep yang panjang dan dipengaruhi oleh budaya Tionghoa, Jawa, dan Eropa.

Dahulu kala, banyak warga Lamongan yang merantau ke berbagai kota dan berdagang soto dengan cara dipikul dari kampung ke kampung. Lalu, dari kebiasaan inilah yang membuat soto Lamongan semakin dikenal masyarakat luas. 

Dalam semangkuk soto Lamongan, pengaruh budaya Tiongkok terlihat dari penggunaan bahan soun, kecap, dan tauge. Selain itu, tradisi kuliner Jawa yang dipengaruhi oleh budaya India tercermin dari penggunaan bahan kunyit, jahe, lengkuas, serai, dan daun salam. 

Pengaruh Belanda juga terasa dalam semangkuk soto Lamongan karena terdapat ketumbar, merica, seledri, dan kubis di dalamnya.

Soto Mie Bogor

Semangkuk soto mie Bogor memang selalu berhasil menggugah selera makan para penikmatnya. Pasalnya soto mie Bogor ini memiliki kuah yang kaya rasa, serta warnanya bening kekuningan dan dipadukan dengan isian mie kuning, soun, irisan kikil atau daging sapi, serta potongan risoles goreng yang renyah. 

Soto Mie Bogor mulai populer sekitar tahun 1970-an, awalnya hidangan ini dipercaya berasal dari perpaduan masakan Tionghoa dan Betawi lalu disesuaikan kembali dengan selera masyarakat lokal Bogor. 

Setelah membaca cerita panjang mengenai soto, kita bisa pahami bahwa soto tidak hanya sekadar tentang makanan yang berkuah, tetapi ada perjalanan panjang akulturasi budaya di dalamnya.

Keberagaman rempah, cara memasaknya, dan cara penyajiannya membuktikan bahwa dari setiap budaya ternyata bisa melahirkan warisan kuliner kaya dan berkarakter. Kita sebagai warga negara Indonesia patut bangga dengan hal tersebut.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.