tech for business 2026 ai ubah cara konsumen mencari informasi brand dituntut lebih adaptif - Business | Good News From Indonesia 2026

Tech for Business 2026: AI Ubah Cara Konsumen Mencari Informasi, Brand Dituntut Lebih Adaptif

Tech for Business 2026: AI Ubah Cara Konsumen Mencari Informasi, Brand Dituntut Lebih Adaptif
images info

Tech for Business 2026


Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) tidak hanya menghadirkan alat bantu baru bagi dunia bisnis, tetapi mulai mengubah cara konsumen mencari informasi, membandingkan produk, hingga mengambil keputusan pembelian. Pergeseran tersebut membuat perusahaan perlu menyesuaikan strategi pemasaran agar tetap relevan di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin cepat.

Isu tersebut menjadi fokus utama dalam Tech for Business 2026 bertema “Digital Marketing in the Age of AI” yang diselenggarakan Marketeers di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (23/6/2026). Memasuki penyelenggaraan kelima, forum ini mempertemukan sekitar 750 peserta dari kalangan praktisi bisnis, pemasar, hingga pelaku teknologi untuk membahas transformasi digital marketing di era AI.

Selain menghadirkan seminar sepanjang hari, acara ini juga menampilkan pameran teknologi dari berbagai mitra yang memperkenalkan solusi digital terbaru bagi perusahaan. Pada kesempatan yang sama, Marketeers turut memberikan penghargaan OMNI Brand of the Year kepada berbagai merek yang dinilai berhasil mengintegrasikan pengalaman online dan offline serta memanfaatkan kolaborasi antara manusia dan teknologi dalam aktivitas pemasaran.

AI Lebih dari Sebuah Alat Produktivitas

Group COO MCorp, Iwan Setiawan, mengatakan AI kini telah berkembang jauh melampaui fungsi awal sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi kerja. Menurutnya, teknologi tersebut kini digunakan dalam hampir seluruh proses pemasaran, mulai dari pembuatan konten hingga pelayanan pelanggan.

"Digital marketing bisa dibahas dari berbagai sudut pandang. Mulai dari pemanfaatan tools untuk content generation, membantu content creation, sampai digunakan untuk jualan, customer service, memanfaatkan AI agents atau pendekatan agentic AI. Ada banyak pendekatan yang bisa kita bahas tentang digital marketing in the age of AI," ujar Iwan saat membuka acara.

Menurut Iwan, meski AI mampu meningkatkan produktivitas melalui berbagai tools, perubahan yang paling mendasar justru terjadi pada perilaku konsumen. Karena itu, sesi pembuka konferensi sengaja diarahkan untuk membahas bagaimana AI mengubah cara masyarakat memperoleh informasi sebelum perusahaan mempelajari aspek teknis pemanfaatannya.

Perubahan Perilaku Konsumen di Era Generative AI

Iwan menjelaskan bahwa perilaku konsumen mengalami tiga fase utama dalam dua dekade terakhir. Pada awal tahun 2000-an, masyarakat mengandalkan mesin pencari untuk memperoleh informasi mengenai produk maupun merek. Setelah itu, media sosial mengambil peran penting melalui algoritma yang mampu mendorong konten kepada pengguna sesuai minat mereka.

Kini, muncul fase ketiga ketika generative AI menjadi salah satu sumber utama pencarian informasi. Konsumen tidak lagi hanya mengetik kata kunci di mesin pencari atau mencari ulasan di media sosial, tetapi mulai memberikan prompt kepada AI untuk memperoleh rekomendasi yang lebih spesifik.

"Orang mulai menggunakan generative AI untuk mencari informasi tentang produk, kategori tertentu, bahkan mencari kredibilitas sebuah merek. Ini adalah tren yang semakin menguat dan menurut saya sangat fundamental sehingga digital marketing harus beradaptasi," ujarnya.

Ia mencontohkan seseorang yang ingin membeli sepatu lari kini tidak hanya mencari ulasan melalui mesin pencari atau media sosial, tetapi langsung bertanya kepada AI mengenai rekomendasi sepatu terbaik untuk pemula. Menurutnya, jawaban AI umumnya hanya menampilkan beberapa merek teratas sehingga menjadi tantangan baru bagi perusahaan.

"Kalau AI hanya menampilkan tiga merek terbaik, bagaimana kalau brand Anda tidak masuk tiga besar? Ini adalah tantangan terbesar digital marketing di era AI," katanya.

Fenomena serupa juga mulai terlihat pada sektor kesehatan. Banyak masyarakat mengunggah hasil pemeriksaan kesehatan ke layanan AI untuk memperoleh saran mengenai pola makan, olahraga, atau gaya hidup sebelum berkonsultasi dengan dokter. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa AI dalam banyak kasus telah menjadi sumber informasi pertama bagi konsumen.

GEO Menjadi Strategi Baru Pemasaran Digital

Perubahan perilaku tersebut, menurut Iwan, membuat perusahaan tidak lagi cukup mengandalkan search engine optimization (SEO) maupun social media optimization (SMO). Kini, perusahaan juga perlu memahami konsep Generative Engine Optimization (GEO) agar merek tetap muncul dalam jawaban yang dihasilkan AI.

Ia menjelaskan bahwa AI modern tidak hanya mengandalkan data hasil pelatihan, tetapi juga menggabungkan berbagai sumber informasi eksternal agar menghasilkan jawaban yang lebih akurat. Karena itu, perusahaan harus memastikan informasi mengenai produk dan layanannya tersedia secara luas, kredibel, dan mudah dipahami.

"Kalau brand harus menjadi AI friendly, maka yang pertama adalah menjawab pertanyaan yang memang muncul di benak konsumen. Setelah itu, pastikan informasinya mudah ditemukan, memiliki otoritas, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dan terus dipantau visibilitasnya di AI," jelasnya.

Menurutnya, AI juga cenderung memilih informasi dari sumber yang dianggap memiliki reputasi baik serta didukung referensi yang kredibel. Oleh karena itu, membangun otoritas merek melalui media, riset, maupun publikasi yang dapat dipercaya menjadi semakin penting di era pemasaran berbasis AI.

Kolaborasi dan Berbagi Praktik Terbaik

Selama satu hari penuh, Tech for Business 2026 menghadirkan 21 pembicara dari berbagai industri yang membahas beragam topik, mulai dari omnichannel marketing, selling in the age of AI, content marketing, database marketing, brand activation, social media marketing, hingga strategi menjangkau Generasi Z.

Beberapa pembicara yang hadir antara lain Iwan Setiawan, Anton Jimmi Suwandy (Chief Executive Auto2000), Matthew Ardian (CMO Fore Coffee), Yudistira Adi Nugroho (Agency Partnership Lead Google Indonesia), Catherine Jennie (Marketing Division Head OLX), Andi Airin (Head of MX Marketing & Demand Generation Samsung), Thomas Wahyudi (Senior Executive Vice President BTN), Danu Prasetyo (Head of Loyalty & CRM Erajaya), Rifeldo Meiza (Marketing Manager Nivea), serta Fajar NF (Executive Creative Director Cheil Indonesia).

Melalui forum ini, Marketeers berharap pelaku bisnis tidak hanya memahami perkembangan teknologi AI, tetapi juga mampu menerapkannya secara strategis untuk membangun hubungan yang lebih relevan dengan konsumen. Di tengah perubahan perilaku pencarian informasi, kemampuan perusahaan beradaptasi dengan ekosistem AI dipandang akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan daya saing merek pada masa mendatang.

baca juga

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.