kondisi geopolitik yang tak stabil bisa jadi momentum asean untuk perkuat ketahanan energi bagaimana caranya - News | Good News From Indonesia 2026

Kondisi Geopolitik yang Tak Stabil Bisa Jadi Momentum ASEAN untuk Perkuat Ketahanan Energi, Bagaimana Caranya?

Kondisi Geopolitik yang Tak Stabil Bisa Jadi Momentum ASEAN untuk Perkuat Ketahanan Energi, Bagaimana Caranya?
images info

Ilustrasi bendera negara-negara ASEAN | Thể Phạm/Pexels


Gepolitik dunia belakangan tengah bergejolak. Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, bisa menjadi alarm serius bagi seluruh negara di dunia, termasuk ASEAN, untuk segera bertindak dalam merespons hal tersebut.

Meskipun kondisi dunia sedang tidak stabil, ternyata momen ini justru membuka peluang besar bagi ASEAN untuk memperkuat ketahanan regionalnya, terutama di sektor energi dan pangan.

Diplomat senior Indonesia, Hassan Wirajuda, dalam keterangannya yang dihimpun di ANTARA mengungkap jika ASEAN punya potensi besar untuk mewujudkan ketahanan pangan dan energi di tengah kondisi sekarang.

"Kita punya potensi yang baik untuk, misalnya, mewujudkan ketahanan pangan atau ketahanan energi; dalam artian luas, termasuk listrik, supaya kita bisa swadaya dan berdaya tahan,” katanya.

Apa yang Bisa Dilakukan ASEAN?

Konflik di Timur Tengah secara langsung memberikan dampak nyata bagi negara-negara di kawasan ini, seperti gangguan rantai pasok komoditas penting. Beberapa komoditas yang terdampak langsung adalah minyak bumi, gas, dan pupuk.

Gangguan pada pasokan minyak bukan hanya berdampak pada harga BBM, tapi juga berdampak sistemik pada produksi listrik di berbagai negara. Menyadari risiko besar ini, negara-negara ASEAN harus mulai serius mempercepat langkah konkret, seperti implementasi sistem jaringan listrik terintegrasi atau ASEAN Power Grid.

baca juga

Visi dari power grid ini bertujuan untuk menghubungkan negara-negara yang memiliki surplus listrik agar bisa mengalirkan kelebihannya ke negara tetangga yang membutuhkan. Kolaborasi ini juga membuka peluang mekanisme produksi listrik bersama demi memastikan pasokan bagi warga kawasan. Kerja sama semacam ini adalah langkah antisipasi karena tatanan dunia saat ini dirasa semakin melemah.

"Itu adalah pelajaran yang bisa kita ambil, sebab dunia tidak memberi jaminan akan selamanya stabil,” jelas eks Menteri Luar Negeri RI itu.

Indonesia Harus Terus Pantau Dinamika Negosiasi

Meskipun saat ini tensi mulai sedikit mereda dengan masuknya konflik AS-Iran ke fase negosiasi perdamaian, Indonesia tidak boleh lengah. Hassan Wirajuda menegaskan bahwa Indonesia harus terus memantau setiap perkembangan perundingan tersebut untuk membaca implikasinya, baik bagi dunia maupun domestik.

"Kita perlu mengikuti dari dekat perkembangan ini untuk membaca apa implikasinya bagi kita dan dunia,” tegas Hassan.

Kabar baiknya, sinyal positif dari meja perundingan di Swiss mulai direspons baik oleh pasar global. Hal ini ditandai dengan harga minyak yang berangsur pulih dan memberikan harapan berakhirnya krisis energi.

baca juga

Namun, jalan menuju normalisasi total masih sulit. Salah satu titik krusial adalah Selat Hormuz yang belum pulih 100 persen karena masih memerlukan pembersihan ranjau sisa perang. Situasi di sana masih sangat dinamis, sehingga jika terjadi pelanggaran kesepakatan, jalur vital tersebut bisa ditutup kembali sewaktu-waktu.

"Jadi kita perlu mengikuti sejauh mana prosesnya, meski pada akhirnya akan menuju normalisasi arus minyak dan gas dari kawasan tersebut ke dunia, termasuk ke Indonesia,” pungkasnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.